"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?"
"Akan kunikahkan dia dengan anakku."
"Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!"
~~~~
Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
Arsenka terdiam sambil memperhatikan sesuatu yang ada di laci. Sebuah senyuman tercipta dengan begitu jelas saat dirinya melihat satu lembar foto yang ada tepat di samping tempat tidurnya, ia ingat kalau foto itu sebelumnya tidak ada di sini karena foto itu semula ada di laci meja kerjanya.
Mengetahui hal ini tidak membuat Arsenka marah, melainkan sebuah senyuman tercetak dengan begitu jelas di bibirnya dengan sebuah makna yang jelas bukan bekebalikan.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang menjadi penutup tubuh mulusnya, ia melangkahkan kaki menuju ke arah istrinya yang membuat Lansonia langsung merapikan bathrobe yang ia rasa kurang menutupi tubuhnya. Lansonia tidak ingin kalau ada sebuah nafsu yang terbersit dalam diri Arsenka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Ada apa? Apakah kau sudah ingin mandi sampai langsung menghampiriku?” tanya Lansonia yang penuh dengan tanda tanya. Ia tidak ingin jika tubuhnya menjadi sasaran utama dari laki-laki iblis di hadapannya yang sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam dirinya, meski ia sadar kalau laki-laki itu sudah berstatus sebagai suaminya.
“Apakah dalam benakmu ada sebuah pemikiran kalau aku ingin mandi bersama denganmu?” tanya Arsenka sambil mengukirkan senyumannya serta menatap Lansonia dengan mata indahnya. Aura Arsenka begitu terpancar membuat hawa yang ditatapnya merasakan sesuatu yang menarik rasa di dalam dirinya.
Gleck
Lansonia menelan cairan kental yang ada dalam mulutnya membuat tubuhnya menegang dengan seketika saat mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Arsenka, ia langsung berjalan dengan cepat menuju ke arah lemari pakaiannya untuk menghindari perbuatan yang tidak ia inginkan.
06:35 pm.
Arsenka melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana istrinya berada, ia sekarang tengah bersandar santai di kasur king size sambil menatap layar handphone-nya.
Lansonia tengah memperhatikan sebuah postingan acak dalam akun sosial medianya, tidak ada sesuatu hal yang harus dia lakukan sehingga agar tidak muncul rasa jenuh Lansonia melakukan hal ini.
“Ikut denganku,” ajak Arsenka dengan suara yang datar nyaris terdengar bukan sebuah ajakan.
Lansonia melirik ke arah di mana suaminya berada. “Ke mana? Ini sudah malam, kau mau mengajakku ke mana?” tanya Lansonia dengan penuh kecurigaan.
Tidak biasanya Arsenka mengajaknya pergi malam hari, bahkan siang hari saja Arsenka jarang mengajaknya. Sekarang mengajaknya untuk ikut bersama dengan Arsenka pada malam hari yang sontak pasti membuat dirinya tanda tanya.
“Ke mana saja kau tidak perlu bertanya, kau hanya perlu ikut denganku.” Arsenka tidak ingin mengatakan ke mana tujuannya sekarang, karena yang terpenting bagi Arsenka adalah Lansonia yang ikut bersama dengannya.
Kedua bola mata Lansonia menatap Arsenka dengan penuh tanda tanya serta selidik. “Aku ini perempuan, aku akan kebingungan menggunakan pakaian apa sebelum kau mengatakan mau ke mana kita nanti.” Lansonia mencoba untuk memancing Arsenka agar memberi tahu ke mana tujuan mereka malam ini sebelum memilih untuk langsung menuruti ajakan suaminya.
“Gunakan pakaian yang membuatmu terlihat cantik,” jawab Arsenka dengan begitu datar. Arsenka yakin kalau istrinya tidak akan salah menggunakan pakaian, terlebih pergi di malam hari. Sangat tidak mungkin kalau Lansonia akan menggunakan setelan yang menunjukkan akan ke pantai di siang hari, sementara suasananya sudah malam.
Lansonia berjalan ke arah di mana lemarinya pakaiannya berada, menatap banyak pakaian yang ada di lemari pakaiannya membuat Lansonia kembali bingung. “Free atau formal?” tanya Lansonia sambil terus memperhatikan koleksi baju yang ada di wardrobe. Dirinya masih kebingungan memilih pakaian.
“Formal.” Arsenka menjawab dengan nada yang begitu datar, jauh dari suara yang bernada.
*****
Street 07:14 pm.
“Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana?” Lansonia tidak bisa menebak ke mana tujuan dari perjalanan yang sudah dia lakukan sejak tadi.
Arsenka melirik ke arah Lansonia dan mengukirkan senyuman yang terlihat miring. “Mau membuangmu.” Dengan begitu enteng Arsenka menjawab, kalimatnya terdengar begitu datar.
Lansonia membelalakan kedua indra penglihatannya saat mendengar jawab Arsenka yang seperti itu. Sekarang Arsenka sendiri yang mengemudikan mobilnya. Hal ini malah membuat Lansonia tanda tanya dan menjadi curiga akan apa yang sudah Arsenka ucapkan, terlebih perjalanan yang mereka lalui cukup panjang.
Apakah benar Arsenka akan membuang Lansonia?
*****
Confinatium Restaurant, 07:46 pm.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Netra Lansonia terus memperhatikan ke sekeliling. Tidak salah lagi ada sesuatu hal yang ia ingat sekarang. Bayangan demi bayangan masa laluinya kembali terputar dengan begitu nyata dalam benaknya, semuanya ia ingat. Tempat ini adalah tempat yang sama dengan tempat yang biasa dia kunjungi saat dia belum mengenal Arsenka.
“Sedang memikirkan apa?” Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Arsenka membuat Lansonia kaget sebab ia harus keluar secar paksa dari bayangannya. Lansonia mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat entah sebab apa hal ini terjadi.
Lansonia menggelengkan kepalanya. “Tidak ada,” jawab Lansonia yang mencoba untuk mentralkan dirinya yang sudah tidak tentu arah. Kedua bola mata Lansonia membelalak saat melihat banyaknya makanan yang berdatangan dan disajikan di mejanya.
Hal utama yang membuat Lansonia membelalak bukan sebab melihat jumlah makanan yang banyak, tapi saat dirinya merasa tidak aneh dengan menu-menu ini. Semuanya benar-benar membuat dirinya teringat akan masa itu, tapi apa maksud dari semua ini?
Apakah hal ini memang tidak sengaja terjadi atau hal ini adalah sebuah rencana?