La Scietto's Basecamp, 06:33 am.
"Setelah beberapa penyerangan kemarin, sekarang kita hanya akan melakukan hal yang sudah dijelaskan. Kerja sama dan juga pergabungan beberapa kelompok serta aliansi akan kita lancarkan, jangan ada yang lengah. Satu hal lagi, jangan membuat keluarga kalian terlibat ke dalamnya. Lindungi orang yang kalian sayang terlebih dahulu, meskipun saingannya kelompok kalian."
Semua kepala mengangguk sudah lama mereka mendengarkan dan juga memikirkan hal yang sudah sedari tadi dibahas. Mereka cukup suka dengan rancangan baru dan juga pengambilan sebuah tindakan yang nantinya akan memberikan sebuah keuntungan serta keringan yang berlebih untuk kelompoknya.
"Ada yang ingin berbicara?" tanya laki-laki itu sambil mengedarkan pandangannya. Merasa tidak ada yang ingin membuka mulut untuk menyampaikan pendapat atau kritik, akhirnya ia kembali berbicara untuk menutup acara ini. "Sekian untuk hari ini. Selamat melanjutkan tugas semula atau pun tugas yang baru." Selesai berucap dirinya langsung bangkit dan berjalan keluar dari Ruangan ini.
"Papa bangga padamu," ucap seseorang dari arah belakang yang membuat seorang Jefray Arnovak menghentikan langkah kakinya dan berbalik untuk melihat orang yang sudah berbicara. Sergei terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana anaknya berada.
"Lanjutkan cara memimpinmu yang seperti ini," sambung Sergei. Jarnovak menganggukkan kepalanya, ia sebisa mungkin akan terus melanjutkan hal ini agar kembali memperkuat kelompok yang dia pimpin atau membuat kekuatan La Scietto menjadi bertambah, baik dalam hal menyerang ataupun bertahan.
Orang yang sedari tadi memimpin jalannya rapat adalah Jarnovak. Sergei cukup bangga dengan cara anaknya memimpin serta mengemukakan pendapat dan juga sebuah strategi. Akhirnya masa yang ditunggu-tunggu oleh Sergei tiba, di mana anaknya mau bertanggung jawab untuk mengatur banyak hal yang ada hubungannya dengan kelompok yang sudah lama dia bangun.
Merasa ponselnya bergetar, Sergei mengambil handphone-nya dan melihat siapa yang sudah menghubunginya. Melihat siapa orang yang sudah menghubungi adalah salah satu orang penting dalam hidupnya membuat ia mengurungkan niat untuk melangkahkan kakinya.
"Ada apa?" Sergei mengawali pembicaraan.
Sebuah tatapan kesal terlihat dengan begitu jelas di mana wanita yang sekarang tengah melakukan panggilan video dengannya. "Hei! Apakah kau lupa kalau kau masih mempunyai istri?" tanya Elena dengan nada yang penuh dengan kekesalan.
"Aku ingat, aku belum menjadi duda." Sergei berucap dengan nada yang terdapat sebuah kekesalan di dalamnya. Kalimat sindiran yang sudah Elena ucapkan cukup membuat dirinya tersindir.
"Kalau begitu pulanglah, aku tidak ingin sarapan sendirian." Elena mengatakan apa yang menjadi alasan kenapa dirinya menghubungi Sergei sekarang. "Di mana anakku?" tanya Elena saat teringat kalau semula anaknya juga belum pulang dan terakhir kali ia tahu kalau anaknya akan pergi ke Basecamp La Scietto.
Mendapatkan pertanyaan itu, membuat Sergei menggerakan handphone-nya dan mengarahkan kamera ke arah anaknya. "Anakmu ada di sini Mam," ucap Jarnovak dengan sebuah senyuman yang tercipta.
"Cepat pulanglah wayah Mr. Minetto, ada Mrs. Menetto yang menunggumu. Kau juga Tuan muda Minetto." Elena benar-benar begitu menyinggung suami dan juga anaknya. sudah hampir memasuki waktu sarapan, tapi mereka berdua masih belum pulang seolah lupa kalau ada dirinya yang menunggu mereka di Rumah.
*****
Sacalorskaf's Mansion, 08:01 am.
"Kak, istrimu tidak ikut makan?" tanya Viviane setelah sedari tadi dirinya tidak melihat kehadiran Lansonia ke meja makan ini. Ia merasa cukup tanda tanya sebab biasanya sarapan akan berlangsung bersama dengan seluruh anggota keluarga, bahkan dirinya lebih suka tinggal di sini, dibandingkan di tempatnya.
Arsenka yang semula sempat melirik saat Viviane memanggilnya, menjadi kembali mengabaikannya dan fokus pada segelas susu yang ada di tangannya. "Mungkin dia punya cadangan makanan yang lebih." Kalimat yang sudah Arsenka ucapkan terdengar tidak ada sebuah kepedulian di dalamnya.
Viviane kembali berpikir. "Apakah mungkin kalau perempuan itu masih merasa terpukul akan kejadian waktu itu?" tebak Viviane. Viviane melirik ke arah Kakak sepupunya sambil menunggu sebuah jawaban atau kalimat yang akan ia ucapkan.
"Mulutku sudah malas mengunyah, aku ke kamar sekarang." Tidak menunggu jawaban dari siapa pun, Arsenka langsung bangkit dan melangkahkan kakinya menjauh dari meja makan. Robert memperhatikan langkah kaki anaknya yang dia rasa ada sebuah kekesalan serta kepuasan yang bercampur menjadi satu.
*****
"Apakah kau mempunyai cadangan makanan yang berlebih?" Pertanyaan santai dengan nada yang datar serta suara yang cukup serak berhasil membuat sebuah lamunan Lansonia terurai, netra yang semula tidak memiliki titik fokus sekarang berubah menjadi menatap fokus wajah orang yang baru saja berbicara.
Memperhatikan rahang laki-laki itu yang terluhat kokoh, bibir yang sering mengalurkan kalimat yang menyayat hatinya, serta mata yang tidak pernah menatap dirinya dengan tatapan yang membuat dirinya merasakan sebuah ketenangan dan juga kebahagiaan.
"Apa pedulimu terhadapku?" Suara cempreng yang sudah bercampur dengan sebuah rasa kesal yang mendalam serta amarah yang menggebu membuat kalimat itu terdengar seolah penuh dengan penekanan serta kebencian yang mendalam, ia tidak bisa menutupi perasaan yang tengah berkecamuk dalam dada.
Mendengar pertanyaan yang seperti itu membuat Arsenka kembali melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah pemilik mulut yang sudah berucap, ia menatap Lansonia dengan tatapan yang jauh dari kata tenang. "Di sini aku bukan peduli padamu, aku hanya ingin memberi tahu kalau sepupuku mencarimu tadi." Nada bicara Arsenka terdengar jauh dari sebuah kepedulian.
Tidak adanya sebuah kepedulian dalam diri Arsenka semakin membuat dirinya melemah sebab terlalu banyak rasa sakit yang dia rasakan dan hanya bisa dia tahan dalam sesak. Bulir air mata menjadi saksi betapa meledaknya emosi yang sudah lama dia pendam, ia begitu tersiksa dengan sebuah bayangan akan kejadian yang sama sekali tidak ia sukai, bahkan dari kejadian itu membuat sebuah kebencian pada Arsenka yang ada dalam dirinya menjadi bertambah.
"Waktu sudah siang, lebih baik kau segera pergi ke Kantormu agar rasa tenang bisa menghampiri diriku." Kalimat ini merupakan sebuah saran, bahkan bisa dikatakan sebagai pengingat, hanya saja akhir dari kalimat ini membuat Arsenka menyimpulkan kalau Lansonia mengusir dirinya.
Di dalam benak Lansonia, ia memang begitu menginginkan kalau suaminya segera meninggalkan Rumah, tapi jika hanya keluar dari kamar saja rasanya cukup. Ia bisa mendapatkan sebuah ketenangan yang ia ciptakan di dalam sebuah kesedihan yang begitu membekas. Adanya Arsenka malah semakin menambah bekas luka yang cukup besar dalam dirinya.
"Setelah ini kau makan. Ataukah kau ingin kembali bersamanya? Jika itu yang kau mau maka cobalah." Benar-benar seperti iblis yang sedang berucap. Arsenka sama sekali tidak menunjukkan semburat kepedulian pada perempuan yang berstatus sebagai istrinya.
Kembali bersamanya? Kalimat itu semakin membuat Lansonia merasa terluka, ia merasakan sebuah keheranan yang begit besar. Kenapa dirinya bisa dipertemukan dengan lelaki sekeji ini? Apakah dunia setega ini padanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATING
Romance"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?" "Akan kunikahkan dia dengan anakku." "Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!" ~~~~ Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
