"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?"
"Akan kunikahkan dia dengan anakku."
"Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!"
~~~~
Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
"Siapa yang mengizinkanmu membuka laci meja kerjaku?" Pertanyaan itu dengan seketika membuat Lansonia kaget dan langsung berbalik. Tatapan Lansonia penuh dengan ketakutan, ia menyimpan apa yang sudah dia perhatikan dengan hati-hati agar tidak membuat Arsenka curiga akan hal itu.
Lansonia melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana Arsenka berada. "Salah kalau seorang istri membuka laci dari meja kerja suaminya?" tanya Lansonia. Kenapa dirinya tidak boleh melakukan hal-hal yang ada hubungannya dengan Arsenka, padahal dia adalah istrinya.
"Jangan gunakan kalimat itu sebagai suatu hal yang membuat kau seenaknya melakukan banyak hal," jelas Arsenka.
Sepertinya sampai saat ini Arsenka masih belum membuka hati pada Lansonia, nampaknya di dalam benak Arsenka, Lansonia itu bukan siapa-siapa untuknya selain orang yang akan dia gunakan untuk membalaskan semua dendam dan juga melancarkan semua rencana yang sudah dia buat sebelumnya.
Jadi, sampai saat ini Arsenka belum membuka hatinya untuk Lansonia lalu hal yang sudah mereka lakukan malam itu tidak membuat hati Arsenka terbuka?
Kalau seperti itu apa tujuan Arsenka melakukan hal yang dibilang cukup intim dengan Lansonia kalau dirinya masih menganggap Lansonia bukan siapa-siapa dalam hidupnya?
*****
Sacalorskaf's Dining Room, 07:37 am.
Viviane melirik ke arah dari mana ia mendengar langkah kaki. "Pagi Kakak," ujar Viviane dengan begitu ceria sambil menatap Kakak laki-lakinya yang terlihat begitu tampan pagi ini denan balutan kemeja hitam yang kerah atasnya dibiarkan terbuka begitu saja. "Pagi Kakak ipar," lanjut Viviane dengan nada yang begitu datar.
Lansonia tersenyum kikuk. "Pagi juga Vivi," balas Lansonia disertai dengan senyuman yang ia paksakan untuk terbentuk. "Pagi Yah," ucap Lansonia yang ditujukan pada Robert. Robert menganggukkan kepalanya santai. "Pagi juga semuanya," lanjut Lansonia saat melihat kalau meja makan ini dipenuhi oleh banyak orang. Mereka adalah adik dan juga Kakak Robert.
Dengan santai dan juga tenang mereka melakukan sarapan pagi ini tanpa sebuah gangguan apa pun, meski juga fokus pada makanan mereka. Tidak ada yang memilih untuk berbicara dengan topik yang berat, terlebih mereka melihat kalau di sini ada Arsenka. Arsenka adalah orang pertama yang nantinya akan marah kalau ada keributan yang terjadi saat sedang sarapan.
"Ayah nanti akan membahas sesuatu rancangan untuk perusahaan bersama dengan kedua Pamanmu," ucap Robert yang mengawali pembicaraan setelah mereka sudah selesai sarapan.
Arsenka melirik ke arah di mana kedua Pamannya berada. "Kalian selalu membahas rencana bersama, tapi yang harus menjalankannya selalu diserahkan padaku." Dengan begitu datar disertai sebuah sindiran, Arsenka berucap.
"Kamu tidak perlu ikut untuk membahasnya, karena nanti kamu hanya akan menolak semuanya." William berucap berdasarkan apa yang sudah dirinya rasakan saat membahas suatu rencana melibatkan Arsenka ke dalamnya.
*****
Arsenka's Main Badroom, 08:11 am.
"Sekarang siap-siap," ucap Arsenka dengan nada yang cukup datar.
Lansonia mengernyitkan keningnya bingung. "Siap-siap? Ke mana? Mau ngapain?" tanya Lansonia.
"Ada perebutan tender," jawab Arsenka santai. Arsenka terus memperhatikan Lansonia dengan tatapan yang sepertinya mengandung sebuah arti tertentu di dalam tatapannya.
Mendengar jawaban dari Arsenka semakin membuat Lansonia tanda tanya. "Hubungannya dengan aku apa?" Dengan begitu polos Lansonia menanyakan hal ini. Ia merasa kalau hal ini tidak ada hubungannya.
*****
Owlini Building, 08:55 am.
Lansonia begitu terdiam mematung saat melihat siapa laki-laki yang baru saja datang, ternyata kecurigaannya memang benar. Sebelumnya Lansonia sudah curiga sebab ada sesuatu hal di balik Arsenka yang secara tiba-tiba mengajak dirinya untuk ikut bersama dengannya, tapi sebelumnya Lansonia tidak pernah mengira kalau perusahaan yang akan menjadi lawan perebutan tender dengan perusahaan Arsenka adalah orang itu.
Arsenka menarik pinggang Lansonia pegang dengan sedikit paksa membuat Lansonia langsung mendekat tepat di sampingnya. Apa yang baru saja Arsenka lakukan menunjukkan seolah dirinya mempunyai status kepemilikan pada Lansonia. Arsenka menatap orang yang ada di hadapannya dengan sebuah senyuman miring di ujungnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tatapan yang Lansonia berikan pada orang yang ada di hadapannya hampir sama dengan tatapan laki-laki itu, hanya saja laki-laki itu ke arah tidak percaya bercampur emosi yang tinggi sebab tidak suka dengan apa yang Arsenka lakukan kalau Lansonia lebih ke arah tidak percaya bahwa dirinya bertemu dengan orang yang punya kesan mendalam di dirinya, tapi dengan posisi dirinya yang menemani Arsenka sekarang.
Arsenka langsung melangkahkan kakinya yang membuat Lansonia juga ikut melangkahkan kakinya bersama dengan Arsenka sebab tangan Arsenka yang masih berada di pinggangnya.
Laki-laki itu memandang dengan penuh amarah saat Lansonia berjalan dalam jarak yang begitu dekat dengaan Arsenka, terlebih tidak ada jarak di antara mereka.
10:23 am.
Semuanya berjalan dengan lancar di mana tender kali ini dimenangkan oleh perusahaan yang Arsenka pimpin. Lansonia terus melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana orang itu berada, sebelumnya Lansonia meminta izin untuk pergi ke Toilet pada Arsenka, padahal ia berniat untuk menghampiri laki-laki itu yang memang sedang berjalan menuju ke Toilet.
"Arh!" Saat cowok itu hendak memukul tembok dengan begitu kencang, dirinya kaget saat mendapati tangannya yang dipegang oleh kedua tangan orang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menatap orang yang sekarang sudah berada di hadapanya, cara ia memandang bercampur dengan kekesalan yang sudah memuncak.
"Jangan emosi seperti ini, nantinya hanya akan melukai diri kamu sendiri. Satu tender yang tidak kamu menangkan sekarang tidak akan membuat masa depan kamu menjadi terhalang, masih banyak tender yang lainnya." Lansonia berucap dengan nada yang cukup lembut, ia tidak ingin kalau Jarnovak melampiaskan amarah yang ada dalam dirinya dengan cara seperti ini.
Jarnovak memandang Lansonia dengan tatapan yang begitu dalam. "Asal kau tahu, hal yang membuatku seperti ini bukan sebab aku tidak bisa memenangkan tender itu." Sama sekali tidak, Jarnovak tidak memikirkan masalah tender. Mau siapa pun yang memenangkan tender ini tidak terlalu berarti untuknya.
"Lalu apa yang membuat kamu seperti ini?" tanya Lansonia. Ia cukup tanda tanya dengan alasan utama yang membuat Jarnovak yang ia kenal kalem menjadi seperti ini.
"Karena dia sudah melihatmu yang memilih menemaniku." Suara datar nan serak terdengar yang membuat dua orang yang semula sedang saling tatap menjadi melirik ke arah dari mana datangnya suara.
Arsenka melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah di mana Lansonia serta Jarnovak berada.
Lansonia kaget saat tiba-tiba Arsenka menarik tangannya yang mengharuskan dirinya ikut bersama dengan dirinya. Di sini Lansonia merasa begitu tidak enak sebab hari ini sudah banyak hal yang dia lakukan membuat suasana hati Jarnovak tidak baik.
Jarnovak yang melihat Lansonia bersama dengan Arsenka, tapi hatinya yang seolah teriris merasakan sakit. Rasa tidak terima itu begitu besar dan hal ini yang membuat amarah Jarnovak naik.
Apakah rasa cinta Jarnovak pada Lansonia masih begitu besar?