Sacalorskaf Dining Room 08:33 am.
“Ayah nanti ada meeting sama mau liat project,” ucap Robert sambil menatap anaknya. Ia mengatakan hal ini agar anaknya tidak terlalu bertanya-tanya akan hal ini, lagi pula hal ini cukup masuk akal.
Di mana dirinya memberitahukan sebuah rencana kepergian serta kegiatannya pada anaknya, agar saat terjadi suatu hal anaknya tidak sibuk mencari atau mengkhawatirkannya.
Arsenka dengan santai menganggukkan kepalanya. “Iya Yah, aku juga nanti akan pergi ke Kantor. Ada urusan,” ujar Arsenka saat ingat kalau ada sesuatu hal yang harus dia urus hari ini. Dengan santai Arsenka terus melanjutkan kegiatannya.
Lansonia mengedarkan pandangannya, memperhatikan anggota keluarga yang semula sudah bercakap sekarang sudah kembali hening sebab terfokus pada kegiatannya masing-masing. Dengan santai Lansonia juga melanjutkan kegiatannya untuk membuat perutnya merasa cukup kenyang akan sarapan yang sudah dia lakukan.
09:45 am.
“Non, mau pergi ke mana?” tanya salah satu penjaga yang ada di depan kamar Lansonia.
Lansonia memperhatikan mereka sejenak. “Saya akan pergi ke Kantor Arsen,” jawab Lansonia dengan begitu tenang.
“Mari biar saya an—
“Tidak perlu, saya akan pergi sendiri. Saya juga sudah meminta izin pada Arsen kalau kali ini akan pergi sendiri,” ujar Lansonia dengan begitu santai.
“Tapi Tuan tidak mengizinkan kalau Nona mengendarai mobil sendiri, bahkan Tuan sudah memerintahkan saya untuk mengantar Non, jika Non ingin pergi,” ujar orang itu yang memang tahu kalau Arsenka tidak mengizinkan Lansonia pergi sendiri.
“Di bawah ada sopir sama penjaga yang lain kan? Nanti saya bersama dengan mereka saja,” ujar Lansonia dengan begitu enteng.
Beberapa dari mereka mengangguk mengerti. Dengan santai Lansonia melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana mobil berada. Lansonia masuk dan kemudian mobil keluar dari area Mansion Sacalorskaf, melaju dengan tenang menuju ke sebuah tempat.
*****
Calistefy Hospital, 10:30 am.
“Bagaimana? Sudah aman belum?” tanya Lansonia pada orang melalui sambungan teleponnya. “Aku udah di bawah,” ujar Lansonia. Sekarang dirinya memang berada di lantai bawah Calistefy Hospital, ia tengah santai duduk menunggu sebuah instruksi selanjutnya.
“Sudsh mulai aman, 5 menit lagi silakan kau masuk,” ujar orang di seberang telepon.
Sambungan telepon terputus, dengan santai Lanosnia menunggu sampai 5 menit berlalu Lansonia akhirnya melangkahkan kaki. Tujuan Lansonia sekarang adalah menuju ke salah satu ruangan VVIP yang ada di Rumah Sakit ini, sebuah senyuman mengikuti langkah kaki Lansonia.
Begitu banyak penjaga yang ada di depan kamar orang itu, tapi dengan langkah yang begitu santai ia melangkahkan kaki melewati mereka semua sampai akhirnya Lansonia menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu di hadapan orang yang tengah berdiri menjaga.
“Kau sudah memastikan semua ini aman?” tanya Lansonia pada orang yang berdiri di pintu.
Orang itu menganggukkan kepalanya. “Kau hanya tinggal masuk dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan,” bisik orang itu dengan nada bicara yang penuh dengan keyakinan. Terlihat sebuah senyuman terukir di bibir orang itu.
Lansonia mengangguk dan langsung membuka pintu, berjalan menuju ke tempat di mana seorang wanita tengah terbaring tak sadarkan dirinya.
Bayangan demi bayangan kembali bermunculan di dalam ingatannya yang membuat suasana hati Lansonia sekarang menjadi panas dan merasa tidak sabar untuk melakukan hal yang sudah dia rencanakan sebelumnya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Terlebih ia sendiri tidak tahu kapan ia akan mendapatkan waktu yang cukup bagus untuk melakukan hal ini.
“Hai, bagaimana kabarmu?” tanya Lansonia dengan nada bicara yang begitu datar. Namun, nada bicara yang sudah Lansonia ucapkan lebih mengarah ke arah di mana dirinya menghina orang yang sedang terbaring ini.
Tidak ada sebuah jawaban apa pun dari wanita yang sekarang tengah Lansonia tatap, karena orang itu memang sedang dalam keadaan koma.
Wanita yang sekarang Lansonia kunjungi adalah salah satu anggota keluarga Sacalorskaf yang kehadirannya begitu berarti dalam hidup Arsenka, makanya saat orang itu seolah sudah tidak ada dalam hidupnya, Arsenka begitu frutrasi dan terlihat seperti orang yang kehilangan sebagian hidupnya.
Bayangan di mana Arsenka membunuh Bundanya kembali terputar dalam ingatan Lansonia yang membuat Lansonia mengubah sorot matanya menjadi penuh dengan amarah, Lansonia sekarang kembali mendekat ke arah di mana Zenna tengah terbaring tak sadarkan diri.
“Aku ingin memberi tahumu kalau anakmu sudah membuat Bundaku kembali pada-Nya dengan keadaan yang tak wajar untuk kembali, dia membuat Bundaku secara paksa kembali pada-Nya!” Lansonia berucap dengan nada bicara yang penuh dengan keseriusan, bahkan Lansonia menatap tajam Zenna yang matanya tidak bisa melihatnya.
Lansonia tahu kalau orang koma, katanya masih bisa mendengar dan juga merasakan kehidupan di sekitarnya. Hal ini menjadi alasan utama kenapa Lansonia memberi tahu Zenna akan semua hal yang sudah Arsenka lakukan pada Bundanya, ia ingin Zenna tahu betapa keji anaknya.
“Aku tidak ingin Bunda sendirian dan juga kesepian di sana. Kau ingin berteman dengannya? Akan kubuat kalian bersama di sana,” ujar Lansonia yang kemudian mengukirkan sebuah senyuman miringnya.
Beberapa saat Lansonia menatap wanita yang merupakan Ibu mertuanya dengan tatapan yang penuh dengan kepuasan, ia merasa kalau sekarang adalah saat yang dia tunggu di mana dia akan membuat Arsenka tersiksa sebab kehilangan orang yang dia sayang. Arsenka harus merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
“Bun, aku gak bisa membalaskan dendam Bunda pada orangnya langsung. Dia akan jauh lebih tersiksa kalau dia berada dalam posisi yang sama denganku, yaitu kehilangan sosok wanita terhebat dalam hidup. Semoga Bunda tenang di alam sana dan merasa puas saat melihat orang yang sudah membuat Bunda tersakiti merasakan derita yang tak kunjung henti.”
Ada sebuah rasa tidak tega dalam diri Lansonia, tapi rasa itu musnah begitu saja saat bayangan di mana Arsenka sama sekali tidak memikirkan dirinya dan juga Bundanya. Waktu itu Arsenka sama sekali seperti manusia yang tidak mempunyai hati yang jauh dari memiliki sebuah rasa tega dalam dirinya.
Jari tangan Lansonia mulai melepas alat-alat medis yang terpasang di tubuh Zenna, dengan begitu hati-hati ia melakukan semuanya. Tatapannya terlihat seperti orang yang merasa begitu puas saat melihat ada sebuah reaksi yang timbul dari diri Zenna saat dirinya sudah melepas beberapa alat medis yang membantu Zenna untuk mempertahankan nyawanya.
“Say good bye to the world.” Senyuman Lansonia kembali terukir dengan begitu miring.
Semua terasa begitu mudah untuk Lansonia lakukan, karena semua rencananya berjalan dengan lancar sampai membuat dia merasa bisa menghirup udara yang sangat menyegarkan dan juga penuh dengan kemenangan.
Bagaimana kelanjutannya kalau sampai Arsenka tahu apa yang Lansonia lakukan pada wanita tersayangnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATING
Romansa"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?" "Akan kunikahkan dia dengan anakku." "Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!" ~~~~ Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
