Fever

914 22 0
                                        

07:53 am.

“Hei bangun, sudah pagi. Sarapan dulu, mau bekerja tidak, ini su—
Kalimat Lansonia terhenti sebab ia merasa kaget dengan suhu tubuh Arsenka yang begitu tinggi, barusan ia berniat untuk membangunkan Arsenka sambil menepuk-nepuk tangannya. Namun, hal itu malah membuat Lansonia terkejut.

Dengan hati-hati sambil memberanikan diri, akhirnya Lansonia menyentuh kening Arsenka dan benar saja keningnya terasa begitu panas. “Kau sakit?” tanya Lansonia perlahan. Orang itu tidak bergeming, hanya menggeliat sejenak. Lansonia menjadi tidak tega untuk memaksa Arsenka untuk bangun.

Lansonia beranjak dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar. “Tolong bawakan handuk kecil atau apa ya sama air hangatnya sekalian siapkan, sekalian buatkan bubur ya.” Lansonia berucap pada pelayan yang ada di depan kamarnya dan setelah mendengar jawaban dari mereka Lansonia langsung kembali ke kamarnya menemani Arsenka.

*****

Dengan begitu telaten, Lansonia mengompres Arsenka. Beberapa waktu berlalu, ia mendengar suara langkah kaki mengarah masuk.

“Ayah,” ucap Lansonia sopan saat melihat Robert berjalan ke arah di mana Arsenka tengah tertidur.

“Dia sakit?” tanya Robert pada Lansonia yang tak lama kemudian memegang tubuh Arsenka yang memang ia rasa panas.

Lansonia menganggukkan kepalanya. “Iya, semalam tidurnya tidak nyenyak. Beberapa kali dia juga ngigau terus pas tadi pagi aku berniat membangunkan dia, ternyata suhu tubuhnya begitu tinggi.” Lansonia menjelaskan secara singkat hal yang dia ketahui tentang Arsenka.

Mendengar banyak suara dan merasa kepalanya sudah pening tertidur, membuat Arsenka perlahan membuka matanya. Mengedipkannya secara perlahan dan berulang sampai akhirnya ia bisa melihat dengan jelas dua orang yang sekarang tengah berdiri di hadapannya.

“Ayah, ngapain ada di sini?” tanya Arsenka bingung melihat Ayahnya pagi buat berada di kamarnya.

Sebenarnya pagi sudah tak buta, sebab cahaya sudah terlihat. Namun, Arsenka tidak sadar akan hal ini.

“Kamu sakit, mau ke Rumah Sakit?” tanya Robert dengan sebuah rasa khawatir yang tidak begitu ia tunjukkan yang jelas dirinya merasa khawatir akan keadaan anaknya.

Kekhawatiran yang Robert miliki tidak ia tunjukkan lewat raut muka, tapi lewat tindakan. Barusan ia memang tidak langsung membawa anaknya ke Rumah Sakit, karena anaknya kurang suka berada di tempat itu.

Arsenka menggelengkan kepalanya yang membuat sebuah handuk kecil jatuh ke sampingnya, ia melirik ke arah handuk tersebut dan kemudian mengedarkan pandangannya. Ia menatap lurus Lansonia dengan sebuah tanda tanya yang tersimpan di dalamnya, ia merasa kalau hal ini adalah ulahnya.

“Tadi kamu panas banget, aku kompres biar panasnya turun.” Lansonia berucap dengan penuh hati-hati, ia takut kalau suaminya akan marah dengan apa yang sudah dia lakukan, tapi kalau dipikir-pikir haruskah Arsenka marah dengan sebuah kepedulian yang Lansonia tunjukkan?

Sepertinya tidak bukan?

Robert melirik ke arah Lansonia dan membuat Lansonia sedikit tanda tanya. Merasa ada hal yang ingin Ayah mertuanya sampaikan akhirnya Lansonia memilih untuk bertanya, “Ada apa Yah?” Lansonia masih memperhatikan Ayahnya sambil menunggu sebuah jawaban dari pertanyaan yang sudah dia ucapkan.

“Jaga suamimu.” Kalimat yang begitu singkat akhirnya terucap dari mulut Robert.

Dengan begitu santai Lansonia menganggukkan kepalanya. “Iya Yah,” jawab Lansonia dengan lembut.

“Ayah mau pergi sekarang, kamu istirahat jangan kerja.” Tidak ingin mendengar sebuah bantahan atau penawaran, akhirnya Robert langsung melangkahkan kaki keluar dari kamar anaknya.

*****

08:55 am.

“Makan dulu ya, udah siang.”

Sedari tadi Arsenka belum ingin memasukan makanan ke dalam perutnya dan sudah berulang kali Lansonia membujuk Arsenka untuk makan, tapi sampai saat ini Arsenka belum mau.

Ada sesuatu hal yang tengah Arsenka pikirkan sekarang dan hal ini cukup membuatnyaa merasakan yang namanya kesedihan.

Lansonia mengambil mangkuk yang berisikan bubur, ia mengambil satu sendok bubur dan meniupnya pelan.

Sendok itu ia arahkan pada mulut Arsenka, bukan membuka mulutnya, Arsenka malah menatap Lansonia dengan tatapan yang terlihat sebuah dendam di dalamnya.

Melihat Arsenka yang menatap dirinya dengan tatapan yang seperti itu membuat Lansonia tanda tanya. “Kenapa malah menatapku?” Tidak tahu karena hal apa Arsenka menatapnya, yang jelas dirinya sekarang tengah merasakan yang namanya kebingungan.

“Makan, biar cepet mendingan.” Lansonia mendekatkan sendok yang berisikan bubur pada Arsenka.

“Gak,” tolak Arsenka dengan nada yang begitu datar.

“Kalau kamu gak makan, nanti kamu tambah sakit.” Lansonia masih berusaha untuk membuat makanan masuk ke dalam perut Arsenka, ia tidak ingin kalau Arsenka malah semakin sakit.

“Kamu kenapa gak mikirin diri kamu sih? Malah bengong seperti ini, memangnya sebegitu pentingnya ya masalah yang sedang kamu pikirkan sekarang?!” Nada Lansonia naik sebab ia sudah merasa jengkel dengan tingkah Arsenka.

Arsenka melirik ke arah Lansonia dan menatapnya dengan begitu serius. “Apa yang aku pikirkan itu adalah urusanku!” Arsenka tidak ingin Lansonia melarang dirinya untuk memikirkan hal ini, karena tidak mudah bagi dirinya untuk melupakan hal itu begitu saja.

Bola mata Lansonia membelalak. “Kalau memang hal itu urusanmu, makanan ini juga akan masuk pada perutmu. Sekarang buka mulutmu!”

Semakin lama Lansonia semakin merasa kesal akan hal ini. “Cepat makan, tinggal buka mulut apa susahnya sih? Egois banget sih jadi o—

Prank

Sendok yang semula Lansonia pegang sudah Arsenka tepis, tangan Lansonia yang tidak benar memegang mangkuk membuat mangkuk itu juga ikut jatuh dan pecah saat semula sudah terkena sebagian tangan Arsenka.

Arsenka sudah semakin muak dengan tingkah Lansonia, terlebih sikap Lansonia barusan mengingatkan dirinya pada Zenna.

Saat ia sakit biasanya Zenna yang merawatanya, tapi sekarang jangankan untuk merawat Arsenka, merawat dirinya sendiri saja tidak bisa.

Semuanya bercampur menjadi satu dalam pikiran Arsenka. Napas Arsenka semakin tidak beraturan menahan amarah yang sudah begejolak dalam dirinya.

Lansonia ikut merasa begitu kesal serta marah dengan sikap Arsenka yang seperti ini, niat baiknya seolah tidak dipandang baik oleh Arsenka.

“Aku ingin tahu hal apa sih yang sedang kamu pikirkan sekarang sampai membuatmu menjadi seperti ini? Apakah sangat penting? Apakah lebih penting dari kesehatanmu?!”

LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang