Emosi dalam diri Arsenka begitu menggebu bersamaan dengan deru napasnya yang terhembus dan terhirup dengan begitu kasar. Arsenka kesulitan menahan emosinya sekarang, ia mengacak-acak kasar rambutnya dengan begitu frustrasi. Aura yang Arsenka pancarkan sekarang begitu gelap, menggambarkan dirinya yang tengah merasakan sebuah kegelapan yang begitu mendalam.
"Kenapa sejak 3 hari yang lalu kau terlihat begitu frustrasi?" tanya Lansonia dengan nada yang begitu hati-hati. Ia tidak ingin membuat Arsenka semakin emosi, karena kalau ia membuat Arsenka semakin emosi sama saja dengan dirinya yang sudah membuat iblis dalam diri Arsenka bangun.
Arsenka yang hidup tanpa sosok iblis saja begitu mengerikan, bagaimana kalau sampai Lansonia kembali membangunkan sosok iblis dalam diri Arsenka? Arsenka akan jauh lebih menyeramkan lagi, terlebih setelah peperangan itu tidak ada tanda-tanda Arsenka yang kalem. Sejak hari itu Arsenka begitu penuh dengan dengan sebuah amarah dan juga kegelisahan yang bercampur menjadi satu.
Beberapa langkah kaki Arsenka berjalan menuju ke tempat di mana istrinya berada. Arsenka menatap luka yang ada di bahu kanan Lansonia. Luka itu bisa Arsenka tatap dengan begitu jelas sebab sekarang Lansonia tengah menggunakan atasan tanpa lengan, sehingga perban yang menutupi bekas luka tembak itu terlihat dengan begitu jelas.
Bukannya memberikan sebuah jawaban pada Lansonia, Arsenka malah melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini. Rasanya ia akan merasakan yang namanya emosi yang berlebih saat ia terus-terusan bersama dengan Lansonia, Arsenka duduk di kursi big size di ruang tengah Mansion Sacalorskaf.
Bayangan demi bayangan terus berputar dalam pikiran Arsenka, mulai dari kejadian di masa lalunya di mana ia kehilangan sosok perempuan yang ia sayang, kemudian kejadian yang menimpa Bundanya sampai akhirnya sekarang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri gadis yang ia sayangi berada di tangan musuh terbesarnya. Arsenka merasa begitu tersiksa sekarang.
"Ayah!" panggil Arsenka dengan nada yang begitu tinggi saat melihat Ayahnya yang tengah melangkahkan kaki masuk. Melihat kedatangan Ayahnya membuat Arsenka teringat untuk membicarakan sesuatu hal yang akhir-akhir ini terputar terus di dalam pikirannya.
Robert mendengar panggilan dari anaknya, ia melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana Arsenka berada. Robert memperhatikan anaknya beberapa saat, ia tahu apa yang sekarang tengah memenuhi pikiran anaknya sampai membuat anaknyaa terlihat seperti orang yang sedang menanggung sebuah beban yang begitu berat dalam hidupnya.
"Kamu tidak perlu terlalu khawatir, dia bersama dengan orang yang menyanginya." Robert berucap dengan nada yang begitu santai, tapi ekspresi santai yang baru saja Robert tunjukkan malah membuat Arsenka mengernyit penuh dengan sebuah kebingungan yang semakin mengembang.
Dengan penuh keseriusan, Arsenka menatap Robert. "Apakah aku bisa diam santai seperti Ayah saat aku tahu kalau dia bersama dengan La Scietto?" tanya Arsenka dengan nada yang seolah menyinggung ayahnya. Ia merasa tidak terima dengan apa yang sudah Ayahnya katakan sebelumnya.
Robert menghembuskan napasnya dengan santai sambil menatap anaknya. "Pimpinannya suka pada dia, apa mungkin ada yang akan berani menyakitinya?" Di sini Robert benar-benar berkebalikan dengan Arsenka, ia begitu tenang begitu yakin kalau La Scietto tidak akan berani melakukan hal yang diluar dugaan pada orang yang sekarang begitu dikhawatirkan oleh Arsenka.
Kening Arsenka mengernyit bingung. "Dari mana Ayah tahu akan hal ini?" Agak terasa aneh saat Ayahnya tahu tentang hal yang berkaitan dengan hati, karena masalah yang menyangkut hati tidak bisa disimpulkan dengan begitu saja kecuali memang mengetahui secara dalam akan hal itu.
Senyuman terukir di bibir Robert. "Apakah kamu tidak ingat betapa dia melindunginya?" tanya Robert. Robert memperhatikan eskpresi anaknya sejenak. "Bahkan saat kamu hendak mendekatinya, dia begitu tidak mengizinkamu bukan, sampai dia langsung mengeluarkan tembakan sebagai peringatan?" lanjut tanya Robert.
Pada saat kejadian itu robert melihat dengan begitu jelas bagaimana Jarnovak melindungi gadis itu, bahkan Jarnovak benar-benar melindunginya. Tidak sedikitpun Jarnovak memberikan celah pada siapa pun untuk menyentuh gadis itu, apalagi sampai melukainya.
Flashback
Hatinya merasa begitu tidak tega melihat gadis kecil yang terlihat begitu manis dan juga imut ini merasakan sebuah ketakutan yang berlebih, membuat laki-laki yang terkenal emosian menjadi melemah dalam seketika. Ia memeluk gadis itu, memberikan sebuah ketenangan kepada gadis itu, mengabaikan banyak orang yang sekarang sedang berkelahi.
"Jangan mendekat!" larang Jarnovak saat melihat Arseka yang sekarang tengah melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana dirinya berada. "Sekali lagi kau melangkahkan kaki, aku tak akan segan-segan menembak dirimu!" ancam Jarnovak dengan nada yang begitu tinggi.
Arsenka tidak mendengarkan apa yang sudah Jarnovak ucapkan, Arsenka terus melangkahkan kaki mendekat ke arah di mana Jarnovak berada. Ada sesuatu haal yang membuat dirinya ingin mendekat ke arah di mana Jarnovak berada. Sambil berjalan, Arsenka berkelahi dengan beberapa orang yang sudah Jarnovak tugaskan untuk menghalangi orang yang akan mendekat ke arahnya.
DOR
"Arsen!" Lansonia berteriak dengan begitu kencang saat mengetahui kalau Jarnovak sudah menarik pelatuk pistol yang mana moncongnya mengarah pada Arsenka.
Dengan begitu cepat Lansonia berlari dan mendorong Arsenka menyingkir, tapi sialnya dirinya terlalu ke kanan yang membuat peluru yang baru saja Jarnova keluarkan berhasil menembaus bahu kanan Lansonia. Cairan kental berwarna merah keluar dari luka itu.
"Kenapa kau malah melakukan hal bodoh ini?!" tanya Arsenka dengan begitu geram saat melihat apa yang sudah Lansonia lakukan barusan. Arsenka merasa tidak suka dengan apa yang sudah Lansonia lakukan, padahal apa yang sudah Lansonia lakukan adalah tindakan baik yang berhasil membuat dirinya aman.
Lansonia memegangi bahu yang sudah tekena peluru itu yang membuat tangannya berlumuran darah, ia memilih untuk duduk karena dia merasa sudah pusing dan merasakan sakit yang berlebih. "Aku cuma berniat untuk melindungimu," ucap Lansonia dengan nada yang berat sebab menahan rasa sakit dari luka tembak itu.
Jarnovak meluncurkan beberapa tembakan ke arah orang yang hendak berjalan menghampirinya, ia berjalan bersama dengan gadis itu. Banyak serangan yang hendak mengenai gadis itu, baik dari lembaran benda-benda kasar dan sebagainya, tapi Jarnovak begitu melindunginya.
Arsenka sudah berniat untuk mengejar Jarnovak yang baru saja kabur, tapi ia mendengar rintihan dari Lansonia. Arsenka tidak ingin kalau Lansonia mati, karena sudah menyelamatkannya. Arsenka tidak ingin berhutang budi, terutama nyawa pada orang yang begitu ia benci.
Dengan penuh keterpaksaan Arsenka memangku Lansonia ke tempat yang aman. "Aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, aku hanya tak ingin berhutang budi padamu!" tekan Arsenka. Ia tidak ingin jika Lansonia mempunyai pemikiran kalau alasan yang membuat dia melakukan hal ini, karena dia mempunyai perasaan pada Lansonia.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATING
Roman d'amour"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?" "Akan kunikahkan dia dengan anakku." "Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!" ~~~~ Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
