Hansel Building, 10:01 am.
Drtt drrtt drrrttt
Arsenka melirik ke arah benda pipih berbentuk persegi panjang yang baru saja ia dengan sudah bergetar, ia dengan santai melihatnya sampai akhirnya mendekatkan benda itu pada indra pendengarannya setelah ia menerima sambungan telepon yang baru saja masuk.
“Hi, i miss you.” Seseorang di seberang sana langsung mengucapkan apa yang menjadi alasan utama kenapa dirinya menghubungi Arsenka seakrang.
Tidak ada sebuah alasan yang lain kenapa sekarang ia menghubungi Arsenka, melainkan ia sudah merindukan sosok laki-laki tampan yang ia ketahui mempunyai sifat yang dingin.
Mendengar kalimat yang baru saja gadis itu ucapkan, membuat Arsenka menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Ia mengubah sambungan telepon yang semula hanya panggilan suara menjadi panggilan video.
Hal ini ia lakukan agar kerinduan orang itu lebih banyak terobati sebab bisa melihat wajahnya, terlebih dirinya juga ingin melihat wajah gadis itu yang ia rasa sudah berubah jauh lebih menggemaskan.
“Kenapa wajahmu terlihat berubah?” tanya gadis itu sambil memperhatikan wajah Arsenka yang ada di layar handphone-nya dengan begitu serius.
Melihat Arsenka yang mengernyit bingung membuat gadis itu kembali berucap, “Tidak ada yang aneh dengan wajahmu, hanya saja terlihat jauh lebih tampan.” Cara gadis itu berucap terdengar penuh dengan keceriaan.
“Tidak adakah yang lebih tampan di sana?” tanya Arsenka dengan nada yang begitu datarnya. Arsenka terus memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik dan juga menggemaskan, ia begitu suka memandangi wajah gadis itu.
“Don’t smile,” larang gadis itu saat barusan ia melihat sebuah senyuman yang terukir begitu indah di bibir Arsenka.
Arsenka yang masih menatapnya membuat ia kembali berucap, “Because when you smile, you look so cool.” Sebuah senyuman yang manis mengiringi kalimat yang baru saja dia ucapkan.
Arsenka menggeleng-gelengkan kepalanya. “So adorable.” Kalimat yang singkat itu Arsenka ucapkan dengan nada yang begitu lembut, membuat orang yang sekarang sedang memperhatikan Arsenka tidak kuasa menahan dirinya, ia dibuat terbang hanya dengan dua kata yang baru saja Arsenka ucapkan.
Gadis itu adalah orang yang begitu Arsenka sukai, apalagi dengan segala kelucuannya, tingkah yang menggemaskan, serta sifatnya yang ceria.
Semua hal ini seolah menjadi pelengkap dirinya yang mana ia jauh dari kata lucu, tidak bisa bertingkah ceria dan juga kehidupannya cukup gelas. Kehadian gadis itu menjadi warna yang menghiasi kehidupan Arsenka, tapi siapa gadis itu?
10:47 am.
“Siapa yang menyuruhmu masuk?” tanya Arsenka dengan begitu datarnya saat melihat Lansonia yang baru saja melangkahkan kaki masuk ke Ruangannya.
Tatapan mata Arsenka penuh dengan ketidaksukaan terhadap kehadiran Lansonia, semenjak kejadian di mana Arsenka menjembutnya di Markas La Scietto, sikap Arsenka berubah jauh, bahkan kembali seperti awal bak iblis yang mengurungnya.
Lansonia terus melangkahkan kakinya dengan ekspresi yang penuh dengan kekesalan. “Kau tidak membebaskanku pergi, sekarang aku datang ke Kantormu saja tidak boleh. Maumu apa? Memangnya kau sedang apa? Sedang selingkuh?” sela Lansonia sambil terus memperhatikan suaminya dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan.
Seringai terukir di bibir Arsenka saat mendengar Lansonia yang menanyakan apakah dirinya sedang selingkuh. “Diriku dan dirimu berbeda,” ujar Arsenka sambil terus memperhatikan Lansonia dengan tatapan yang mengandung arti tertentu, tapi tidak sampai Lansonia pahami.
“Kenapa kau menjadi membandingkan dirimu dengan diriku?” Lansonia tidak paham dengan hal ini, suatu kejadian kembali terputar di otaknya. “Jelas diriku berbeda dengan dirimu. Dirimu tidak mempunyai hati, dirimu keji sedangkan aku masih punya hati, ak—
Kalimat Lansonia terpotong sebab Arsenka yang berucap, “Suka selingkuh?” Sebelah bibir Arsenka tertarik yang membuat sebuah smirk tercipta dengan jelas, bola mata Arsennka terfokus memperhatikan Lansonia yang sekarang tengah kebingungan memikirkan apa yang sudah Arsenka maksudkan.
Kenapa Arsenka mengatakan kalau dirinya suka selingkuh?
“Tahu dari mana kau kalau aku suka selingkuh?” Lansonia merasa kalau Arsenka tidak tahu apa-apa di sini. Jadi, terasa aneh saat Arsenka mengatakan kalau dirinya suka selingkuh.
“Jangan membalikkan keadaan ya! Kalau kau sedang selingkuh bilang saja, sekalian akhiri hubungan per—
Tidak terima dengan kalimat yang akan Lansonia ucapkan akhirnya Arsenka memotong ucapan Lansonia. “Tujuanku belum tercapai, aku tidak akan mengakhiri itu sebelum kau merasakan semuanya!” tekan Arsenka dengan penuh keseriusan.
Cara pandang Arsenka pada Lansonia sekarang menjadi penuh dengan kebencian, semuanya terlihat dengan begitu jelas pada bola mata Arsenka yang membesar serta menatap Lansonia dengan tatapan yang tajam.
Apakah dendam yang Arsenka miliki pada Lansonia begitu besar?
Kalau iya memangnya apa dendam yang Arsenka miliki, apakah itu ada hubungannya dengan sosok laki-laki yang merupakan bagian dari masa lalu Lansonia? Atau ada hubungannya dengan seorang gadis yang semula sempat berkomunikasi via telepon dengan Arsenka?
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATING
Romance"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?" "Akan kunikahkan dia dengan anakku." "Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!" ~~~~ Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
