"Harsya, ayo kita pulang." Dhea langsung to the point begitu sampai di hadapan Harsya yang tengah duduk di meja yang sebelumnya Dhea tempati juga.
Harsya nampang mengerutkan dahinya, seakan tak suka dengan ucapan Dhea yang mengajaknya untuk pulang.
"Kan bawel kan Lo, makanya gue males ngajak-ngajak Lo keluar. Repot..!" Ujarnya dengan ketus dan sinis.
"Ini udah malam tau udah hampir jam 12, Dhea capek pengen tidur." Ujarnya mencoba membujuk Harsya agar mau pulang sekarang bersamanya.
"Yaudah Lo pulang aja sana duluan pesan Gocar, gue belum mau pulang." Ujar Harsya tetap kekeh menolak ajakan Dhea.
Dhea melirik ke sofa kosong di sebelah Harsya, "Syila sama Rey kemana??" Tanya nya sedikit panik karena mereka berdua sudah tidak ada disana.
"Udah pulang." Jawab Harsya dengan jutek, sembari menenggak minumannya dengan teratur.
"Yaudah ayo kita pulang juga, mau ngapain lagi disini lama-lama?" Kata Dhea dengan nada bicara yang terdengar mulai kesal.
Harsya mengabaikannya, Dhea pun berdecak kesal seraya mengembuskan nafas berat.
Dhea mengambil gelas itu dari tangan Harsya, dan meletakkannya di meja dengan sedikit kasar. "Udah, jangan minum terus."
"Apa sih ah..!" Harsya sedikit mendorong tubuh Dhea agar menjauh darinya.
"Harsya kenapa sih??" Dhea benar-benar terkejut dengan apa yang Harsya lakukan, ini termasuk tindakan kasar loh.
"Awhh..." Dhea meringis kecil saat bahunya di senggol dengan kasar dari belakang sampai Dhea nyaris tersungkur.
"Ngapain lagi nih anak masih ada di sini??" Tiba-tiba Aurel datang dengan tampang sinisnya.
Dhea mengusap bahunya seraya menatap Aurel penuh kekesalan, apa dia harus se kasar itu sampai membuat Dhea nyaris tersungkur.
Dhea yang semula ingin protes justru terdiam bisu tak mampu berkata-kata setelah melihat Aurel yang dengan santainya langsung duduk di pangkuan Harsya, dan mencium bibirnya di depan mata Dhea.
Harsya pun sama sekali tidak menolak akan hal itu, Dhea melihat Harsya menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggang Aurel dengan posesif.
Dhea merasa sakit hati melihat hal itu, jujur saja.
Bagaimana tidak, bayangkan saja beberapa detik yang lalu saat Harsya mendorong Dhea agar menjauh darinya.
Dan sekarang justru dia bisa bermesraan seperti itu dengan Aurel di depan mata Dhea.
Dhea sampai tak habis pikir dengan Harsya, apakah Dhea menjijikan sampai Harsya tidak pernah mau Dhea dekat-dekat dengannya?
Apa masalahnya dengan Dhea, kenapa dia terus menganggap Dhea seperti musuhnya.
"Harsya mau disini sampai kapan? Ayo pulang..." Dhea terus merengek meski Harsya mengabaikan dirinya.
"Sshh... Berisik banget ya Lo!" Aurel menyahut dengan desisan sinis.
"Lagian Lo ngapain sih ikut-ikut segala? Nyusahin orang aja tau gak. Udah Lo balik aja sana sendiri, buta apa mata Lo?"
"Gak bisa lihat apa kalau Harsya disini sama gue, kalau pun dia mau pulang ya nanti pulangnya sama gue." Ujar Aurel dengan sinis berusaha mengusir Dhea.
"Rese banget Lo, nyusahin tau gak?!" Lanjutnya dengan sengit.
Tanpa banyak berpikir lagi Dhea langsung balik badan dan segera pergi dari sana secepat-cepatnya. Ini sudah sangat keterlaluan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Novela Juvenil// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
