63. Pergi pt.2

2K 102 12
                                        

Nio dan Reynan yang sejak awal mengikuti Harsya kehilangan jejak di lampu merah kedua, mereka bingung harus ambil arah mana untuk menemukan Harsya yang menghilang dari pandangan mereka.

"No kita mencar aja ya, Lo ambil kiri gue ambil lurus." Kata Rey memberi instruksi.

Nio mengangguk setuju, setelah lampu merah berubah menjadi hijau mereka berdua pun segera menancap gas motor masing-masing dan berpencar sesuai dengan arah yang sudah di tentukan.

Reynan memilih ambil jalan lurus dari perempatan itu karena dia terpikirkan satu tempat dalam otaknya. Bersamaan saat Harsya pergi tadi, Reynan menerima pesan dari Sandy untuk datang ke studio agensi tempatnya bekerja.

Sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya Reynan tiba di kantor yang dia tuju. Di parkiran dia melihat motor Harsya terparkir disana, sedikit perasaan lega hadir kala itu juga membuat Reynan sedikit tenang karena berhasil menemukan Harsya.

"Benar kan dia di sini." Gumamnya, lalu dengan cepat berjalan masuk ke dalam.

"Bang, Harsya udah datang ya?" Reynan bertanya kepada salah satu kru yang kebetulan berpapasan dengannya.

"Oh iya udah, tadi gue papasan di dalem. Kalau gak salah tadi mau ke ruangannya pak Sandy deh Rey." Jawabnya dengan senang hati, karena mereka sudah saling mengenal.

"Oh yaudah, makasih ya bang." Reynan segera pergi menuju ke ruangan Sandy di lantai 3 dengan menggunakan Lift.

"Lo mandi gak sih? Kucel bener tuh muka kek kucing abis kecebur got." Kata Sandy menegur Harsya dengan gurauan kecil.

"Lagi ada masalah gue, pusing banget." Kata Harsya mengeluh dengan wajah frustasi nya.

"Kenapa lagi sih Lo? Demen banget perasaan sama masalah, dikit dikit ada masalah... Dikit-dikit ada masalah lagi. Gue aja sampai bosan Sya..." Kata Sandy menyahut dengan heran

"Mau kopi gak?" Sandy menawari Harsya, sebab dia berniat membuat kopi untuk dirinya.

Harsya menggeleng menolak, "Lo mau ngomong apa sih? Langsung aja lah, soalnya ini gue masih ada urusan nih habis ini." Kata Harsya berusaha mempercepat percakapan mereka agar langsung ke intinya.

"Buru-buru amat dah..." Gumam Sandy

"Gue dapat tawaran baru nih, bagus banget. Ada satu brand yang mau minta Lo jadi model untuk produk barunya mereka, tapi bukan cuma Lo doang. Mereka maunya Lo berdua sama Reynan satu frame."

"Gimana, lo mau gak?"

Harsya memikirkan tawaran Sandy dengan serius selama beberapa saat, sampai akhirnya fokusnya buyar karena tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu tiba-tiba.

"Gila Rey Rey, santai aja kali buka pintunya. Ngagetin gue aja Lo..." Kata Sandy menegur dengan halus.

"Sorry sorry bang." Ucap Reynan, lalu menghampiri Harsya yang tengah duduk di sofa mini di ruangan Sandy.

"Lo kenapa gak ngomong dulu sih sama gue kalau mau kesini? Anak-anak pada nyariin Lo tau gak." Kata Reynan dengan sedikit emosi karena geram dengan Harsya.

Harsya hanya melirik sekilas tanpa beraksi apapun, belum sempat Reynan kembali menanggapi Harsya lebih lanjut Sandy sudah lebih dulu memotong percakapan.

"Pas banget Lo udah dateng Rey, gue ada tawaran bagus nih buat Lo. Ada satu brand yang mau Lo sama Harsya jadi model untuk produk baru mereka yang akan launching bulan depan. Gimana, Lo mau gak?" Kata Sandy

"Pikirin deh situ berdua baik-baik, mumpung kalian sama-sama ada disini jadi kita enak nih ngobrolnya." Kata Sandy

"Produk apa?" Tanya Reynan dengan spontan.

HarsyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang