"Dhea"
Suara seorang laki-laki memanggil namanya dari belakang, Dhea pun berhenti melangkah dan lantas berbalik untuk memeriksa.
"Zanva?"
Dhea melihat Zanva berjalan dengan pasti menghampirinya dari jarak sekitar 30 meter di koridor yang sama dengannya.
Sejujurnya Dhea merasa kurang nyaman untuk bertemu Zanva setelah kejadian kemarin, yang pertama Dhea merasa canggung karena Zanva telah menyatakan perasaannya kepada Dhea yang sampai sekarang belum Dhea berikan jawaban.
Yang kedua, Dhea takut Harsya melihat mereka berdua bertemu dan mengobrol. Apalagi ini masih di lingkungan sekolah, Dhea hanya tidak mau menambah bahan untuk membuat Harsya dan Zanva terus ribut sepanjang hari.
Namun mau bagaimana lagi, Zanva kini semakin dekat padanya. Dalam hitungan 3 detik laki-laki itu sudah akan berdiri tepat di depan Dhea. Seperti sekarang ini...
"Pulang sama siapa?" Zanva bertanya
"Sama Harsya." Dhea menjawab sedikit lama karena ragu untuk menjawab pada awalnya.
Zanva tersenyum kecil seraya mengangguk pelan, "Oh, yaudah. Hati-hati ya, gue jalan duluan kalau gitu. Bye Dhe..." Ujarnya seraya melambaikan tangannya melewati Dhea dengan santai seolah tak ada beban apapun dalam pikirannya.
Dhea lantas berputar untuk menatap Zanva yang semakin menjauh dari pandangannya, dia merasakan sesuatu yang aneh dari laki-laki itu.
"Zanva kenapa kegitu ya?" Gumamnya heran sekaligus bingung.
Zanva terlihat baik-baik saja, padahal kemarin malam dia nampak mengkhawatirkan Dhea. Dan bahkan sebelum-sebelumnya jika dia tau Dhea akan pulang bersama Harsya dia akan selalu menawarkan Dhea untuk pulang bersama.
Tapi sekarang tidak, dia hanya bertanya dan pergi begitu saja. Dhea senang karena dia tidak perlu menanggapi Zanva terlalu banyak, namun perilaku Zanva yang seperti ini membuat Dhea merasa asing.
Apakah ini karena Dhea belum memberikan jawaban atas ungkapan perasaan Zanva kemarin malam ya?
Atau karena hal lain?
Bug...
Harsya memukul kepala Dhea dengan buku cetak yang agak tebal karena melihat gadis itu melamun sendirian entah melihat apa.
"Ngelamun aja!" Tegurnya dari arah belakang.
Dhea meringis, "ashh.. sakit ih!" Pekiknya kesal sembari melotot tajam pada si pelaku, yaitu Harsya.
"Bodo, wlee..." Harsya menjulurkan lidahnya dengan tampang meledek Dhea dengan puas hati seraya berjalan mundur perlahan dengan pasti.
Dhea mendengus pelan lalu ikut berjalan, "Yang benar jalannya, nanti nabrak mampus." Kata Dhea mengingatkan dengan sedikit sumpah tengilnya.
Harsya mengabaikan perkataan Dhea, laki-laki itu melempar buku cetaknya kepada Dhea. Dan tetap berjalan mundur dengan santai.
Spontan Dhea reflek bergerak cepat untuk menangkap buku cetak yang Harsya lempar ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Roman pour Adolescents// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
