// Sebelum baca jangan lupa vote//
***
"Balik juga Lo..."
Suara Harsya berhasil mengejutkan Dhea, siapa yang menyangka kalau Harsya akan menunggunya pulang seperti ini?
Dhea yang semula asik bercanda dengan Zanva di atas motor, sontak langsung terdiam ketika melihat keberadaan Harsya di halaman depan rumah.
Dhea turun dari motor Zanva dengan was-was, sebab raut wajah Harsya sudah terlihat benar-benar tidak enak untuk di pandang.
Sepertinya, bau-baunya Harsya akan mengamuk jika Dhea sampai salah bicara lagi kali ini.
Harsya sengaja duduk di halaman depan rumahnya, sembari merokok untuk menunggu Dhea.
Awalnya dia berniat menyusul Dhea dan Zanva, namun setelah di pikir-pikir lagi untuk apa.
Harsya menyesap rokoknya dengan santai, satu kaki naik ke atas pahanya. Melihat keberadaan Zanva di rumah, tentu membuat Harsya nyaris lepas kendali.
Dia sangat membenci laki-laki itu, dia adalah satu-satunya orang yang ingin sekali Harsya bunuh dengan kedua tangannya sendiri.
"Ngapain Lo kesini?" Harsya melirik Zanva dengan sinis.
Dhea yang melihat reaksi Harsya di awal sudah tidak enak jadi merasa bersalah kepada Zanva. Dhea pikir Harsya akan marah karena Dhea pergi bersama Zanva.
"Harsya.." Dhea berusaha menegur Harsya dengan pelan.
Zanva hanya tersenyum kecil, melihat betapa seriusnya Harsya menatap dirinya saat ini. Sepertinya emosinya sedang membuncah.
Sebenarnya Zanva sama sekali tidak berniat untuk mengibarkan bendera perang. Dia datang kesini hanya demi Dhea.
"Gue tanya, ngapain Lo disini?!" Harsya mengulang pertanyaannya dengan sedikit membentak.
Benar bukan dugaan Dhea, Harsya akan mengamuk. Sebab di lihat dari wajahnya saja sudah bisa ditebak, kalau Harsya terlihat seperti orang lain saat ini.
Sebelumnya Dhea sering melihat Harsya berinteraksi dengan Zanva di sekolah. Namun mereka tidak terlihat seperti sekarang.
Mungkin keduanya memang tidak akur, tapi Harsya masih bisa menjaga sikapnya dengan baik.
Ini adalah untuk pertama kalinya, selama Dhea mengenal Harsya selama ini. Ini kali pertama Dhea melihat sisi diri Harsya yang lainnya.
Zanva duduk bersandar di motornya dengan santai, bahkan kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celana.
"Santai..." Zanva tersenyum miring pada Harsya.
"Gue kesini bukan buat Lo, Gue cuma nganterin Dhea pulang. Kebetulan aja, Dhea pulangnya harus kesini."
Harsya berdecih, tatapannya semakin tajam. Dhea saja merasa seperti berdiri di tengah jembatan yang akan putus rasanya.
"Ini Rumah gue."
"Iya Gue tau." Jawab Zanva dengan enteng
Harsya menyesap rokoknya sekali lagi, kemudian membuang putung rokoknya ke lantai.
Dia berdiri, menginjak Putung rokok yang masih menyala itu sampai hancur.
Setelahnya dia maju beberapa langkah ke hadapan Zanva, dan juga Dhea yang masih berdiri di depan Zanva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Novela Juvenil// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
