"Sya, Lo di panggil Bu Riska tuh ke ruang BK sekarang." Kata Gebian yang tidak tahu dari mana tiba-tiba muncul di depan perpustakaan tepat saat Harsya keluar dari perpustakaan.
"Ke ruang BK ngapain?" Aurel menyahut penasaran
"Ya mana gue tau, gue cuma di suruh manggil doang. Kalau mau tau ada apa ya Lo dateng aja kesana." Kata Bian menjawab dengan ketus, lalu pergi.
"Mau gue temenin gak?" Aurel bertanya pada Harsya.
"Gak usah." Kata Harsya langsung berubah ketus lagi nada bicaranya, berbeda jauh dengan saat mereka di dalam perpustakaan tadi.
Aurel mengerutkan dahinya terheran-heran, "Apasih Harsya aneh banget??"
Aurel merogoh saku baju osis nya untuk mengambil ponsel, namun tidak ada disana. Aurel pun jadi panik dan memeriksa saku rok nya juga.
Tapi tetap tidak ada.
"Apa jatoh di dalem ya?" Aurel langsung berlari masuk lagi ke dalam perpustakaan.
Beruntung Aqeela dan Nio sempat bersembunyi lagi ketika Aurel tiba-tiba masuk, padahal hampir saja mereka berdua ketahuan.
Jika Aurel tau Aqeela dan Nio ada di dalam perpustakaan dia pasti akan mencurigai mereka berdua.
Setelah Aurel pergi ke sudut belakang tempat dimana dia dan Harsya tadi bertemu, Aqeela dan Nio dengan cepat buru-buru keluar sebelum Aurel menyadarinya.
"Mana nih si Harsya udah ngilang aja gak nungguin kita?" Gerutu Aqeela sembari memakai kembali sepatunya, karena peraturan di perpustakaan dilarang mengenakan sepatu.
"Udah ke warung duluan kali?" Cetus Nio menduga asal.
Keduanya sudah siap memakai sepatu mereka, "Terus kita mau balik ke kelas apa ke warung lagi?" Tanya Syila memastikan.
"Gue juga bingung, apa kita cek ke warung dulu aja ya? Anak-anak pada disana atau engga, kalau misalnya gak ada ya kita ke kelas aja." Kata Nio mengusulkan.
"Boleh deh, yaudah ayo." Mereka pun akhirnya pergi menuju ke pagar belakang untuk memeriksa di warung Cici.
"Heh kalian berdua!" Suara seorang laki-laki yang serak mengejutkan Aqeela dan Nio dari arah belakang mereka.
Keduanya pun langsung terdiam mematung, sembari saling melirik panik satu sama lain.
"Mau kemana kalian? Kemana tidak masuk kelas malah keluyuran di jam segini? Kalian mau bolos ya?!" Teriak guru itu menegur
Aqeela dan Nio dengan kompak berbalik perlahan menatap sang guru sembari menyengir polos.
"Hehehe... Bapak." Ceplos Aqeela
"Hihihi bipik..." Sang guru laki-laki berkumis tebal itu mencibir balik perkataan Aqeela.
"Ngapain kalian jam segini di luar kelas? Kalian kelas berapa?" Tanya sang guru dengan galak.
"Ini pak saya tadi habis dari....emm dari... Uks! Iya pak dari Uks..." Kata Nio beralasan random yang muncul di otaknya.
Aqeela mengerutkan dahinya heran, kenapa Uks yang jadi alasan Nio.
"Ngapain di UKS? Kamu sakit? Tapi kelihatannya baik-baik aja tuh. Gak ada pucat-pucatnya seperti orang sakit." Kata sang guru dengan julit
"Ini pak... Dia! Dia yang sakit pak." Kata Nio sembari menunjuk Aqeela
"Sakit apa? Dia juga kelihatan sehat-sehat aja tuh. Bibirnya merah malah seperti habis makan darah ayam." Kata sang guru dengan julit.
"Ya ampun si bapak... kalau begini bapak bilang merah terus bando saya apa pak namanya?" Kata Aqeela membalas julitan gurunya dengan membandingkan bando merah di kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Teen Fiction// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
