Azi masuk ke dalam rumah yang sudah lama tidak dia kunjungi, ini adalah rumah milik ibunya.
Azi berjalan dengan malas masuk ke dalam rumah itu, sebab dia sudah tau jika berada di dalam rumah ini akan membuatnya merasa pengap dan sesak.
Namun karena paksaan ibunya akhirnya mau tak mau Azi tetap datang ke sini, dan kini dia bisa berhadapan dengan tiga manusia yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Ada ayahnya, ibunya, dan juga kakaknya.
Azi mengunci tatapannya pada Septian, mata tajam itu terus menatap sang kakak yang nampak begitu menyebalkan di mata Azi.
"Jangan cuma di liatin Zi, dia kakak kamu loh. Di sapa dong..." Kata Ibunya menegur.
"Azi mau ganti baju, gerah." Ucapnya lalu dengan acuh pergi ke kamarnya.
Azi masuk ke dalam kamar yang sudah lama juga tidak dia singgahi, kamar ini masih rapi. Karena terlalu rapi sampai-sampai siapapun bisa menduga bahwa kamar ini tidak pernah di tempati.
Azi membuka lemari bajunya, ada beberapa pakaian yang dia tinggalkan di sana. Dia mengambil sepasang pakaian lalu mengganti baju sekolahnya dengan pakaian tersebut.
Sepanjang itu Azi hanya terus menggerutu, untuk apa kedua laki-laki itu datang ke Jakarta. Bukankah urusan mereka sudah selesai sebelum Azi kembali ke jakarta waktu itu, lalu untuk apa lagi mereka datang.
Baru selesai mengganti baju Azi mendengar pintu kamarnya di ketuk, suara ibunya memanggil dari luar.
"Azi kalau udah selesai keluar ya, ada yang mau mama omongin." Ucapnya.
Sesaat Azi merasa muak dengan ibunya, kenapa sebagai seorang ibu dia tidak pernah bisa mengerti perasaan Azi sebagai anaknya.
Padahal sudah jelas Azi katakan bahwa dia tidak mau bertemu dengan kedua laki-laki itu lagi, namun ibunya terus memaksa.
Sekali dia turuti dan pergi ke Bali Minggu lalu, dan sekarang terulang lagi. Dia minta Azi datang ke rumah ini untuk bertemu lagi dengan dua pria yang pernah menjadi bagian terindah dalam keluarganya dulu.
Azi membuka pintu kamarnya, tak sengaja dia melihat foto masa kecilnya bersama keluarga lengkapnya. Di frame foto itu ada Azi, Septian, dan kedua orangtua mereka yang tersenyum begitu lebar.
Tapi lihatlah kondisinya sekarang, Azi menyadari semuanya telah berlalu dan segalanya sudah tak sama seperti dulu. Siapa penyebabnya? Orang-orang egois yang kini tengah berkumpul di ruang tengah itu
Azi mengambil tempat duduk terpisah dari ketiga orang yang duduk berjajar dengan jarak yang tak berjauhan.
"Ada apa sih?" Kata Azi langsung to the point.
"Dengerin Papa kamu mau ngomong." Ibu Azi menjawab dengan tenang.
Azi pun lantas menatap Pria yang disebut ayahnya itu, di lihat dari ekspresinya sepertinya pembahasan ini sangat serius, Azi jadi penasaran juga.
"Papa mau ajak kamu pindah ke Bali." Kata Jordi langsung to the point.
Satu kalimat itu mampu membuat Azi mengerutkan dahinya sampai kedua alisnya bertautan.
"Ke Bali? Gak ah, ngapain." Kata Azi menjawab dengan sewot seraya memalingkan wajahnya.
"Kok engga gimana sih, Kan kamu harus mulai mengurus beach club Zi sekarang. Papa akan buat acara serah-terima jabatan secara resmi disana, sekaligus memperkenalkan kamu kepada pegawai disana juga." Ujar Jordi
"Ya oke, kalau soal itu oke Azi siap. Tapi bukan berarti Azi harus tinggal disana dong." Katanya tetap kekeh menolak.
"Akan lebih mudah kalau kamu tinggal disana Zi, dan kamu bisa lebih cepat belajar juga nantinya." Kata Jordi mencoba membujuk putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Roman pour Adolescents// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
