34. Sahabat?

4.8K 163 7
                                        

// Sebelum baca jangan lupa vote//
***

Saat hari sudah mulai sore, Dhea yang seharian ini menghabiskan waktunya hanya untuk makan dan rebahan, sembari menonton drakor tidak merasakan kalau matahari mulai terbenam.

Setelah selesai mandi, Dhea turun ke bawah untuk memeriksa keadaan rumah yang sepi ini.

Dhea berkeliling di lantai satu, tidak menemukan Harsya di mana-mana. Namun kemudian Dhea mendengar suara seperti orang berenang.

Dhea pun pergi ke arah kolam renang, untuk memastikannya. Apakah benar Harsya disana atau tidak.

Setelah semakin dekat, Dhea bisa melihat bahwa Harsya memang sedang berenang. Namun tidak sendirian.

Harsya bersama dengan Azi, entah kapan Azi datang Dhea pun tidak menyadarinya. Sebab dia selalu berada di kamar sejak siang tadi.

"Lo kenapa sih? Gak enak banget tuh muka" ujar Harsya, setelah keduanya duduk di tepi kolam.

Dhea yang semula ingin menghampiri mereka, mendadak mengurungkan niatnya. Setelah melihat situasi, yang sepertinya mereka sedang berbicara serius.

Dhea masih berada di dalam ruangan, Dhea ragu untuk menghampiri mereka. Karena takut merusak suasana yang serius itu.

Entah mendapat dorongan dari mana, Dhea justru bersembunyi di balik jendela untuk menguping pembicaraan kedua laki-laki itu.

"Pusing gue" jawab Azi mengeluh

"Ortu Lo lagi?" Harsya melirik Azi sekilas

Azi mengangguk, dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Azi yakin, Harsya pun sudah pasti paham masalahnya di saat seperti ini.

Karena sejujurnya, masalah Azi hanyalah tentang seputar keluarganya yang tidak pernah ada habisnya itu.

"Kenapa lagi sekarang?"

"Ya biasalah, nyokap gue ribut mulu nyuruh gue buat nerima tawaran bokap."

"Yaudah sih, Lo terima aja. Lumayan lagi kalau di hitung-hitung..."

"Ya masalahnya gue tuh udah males berhubungan sama mereka lagi, gue udah males berurusan sama Septian lagi Sya." Ujar Azi menghela napas berat.

"Gue tau banget kalau Septian dari awal udah ngincar Beach club bokap."

"Urusannya bakal repot dan panjang sama Septian, kalau sampe gue beneran ambil tawaran bokap buat ambil alih Beach Club di Bali itu."

"Lagian juga gue sekarang tinggalnya disini, di Jakarta. Gimana gue bisa ngurus bisnis di Bali coba?" Ujar Azi

"Lo kan cuma ambil alih, lagian Beach club bokap lo juga udah gede kan sekarang. Lo gak perlu stay di sana." Sahut Harsya

"Lo bisa tetap handle dari sini, mungkin seminggu sekali Lo bisa kesana kalau libur sekolah?." Usul Harsya

"Sama aja Sya, artinya sama aja gue ngibarin bendera perang ke Septian." Azi melirik Harsya bingung untuk mengambil keputusan.

"Lo takut kalah?"

Azi terbahak sebentar "haha, gue? Takut kalah?"

"Ya terus kenapa Lo harus pusing-pusing mikirin Septian? Biarin aja kali dia ngelakuin apa yang dia mau." Kata Harsya

"Bokap Lo sendiri yang mau kasih bisnisnya ke Lo Zi. Kalau Lo gak mau ambil, pasti akhirnya juga Septian lagi yang bakal dapat."

"Emangnya Lo mau sampai selamanya, biarin Septian dapatin sesuatu yang seharusnya jadi punya Lo?" Harsya menatap sahabatnya itu tak habis pikir.

HarsyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang