"Dhea"
Mendengar suara seorang perempuan memanggil namanya, Dhea pun sontak melirik ke arah ruang tamu seraya menuruni anak tangga.
"Loh, Aqeela kapan datangnya? Udah dari tadi kah?" Dhea bertanya karena bingung mendapati Aqeela sudah berada di ruang tamunya tengah mengobrol dengan art di rumah Harsya.
"Engga, gue barusan aja dateng. Lo baru bangun Dhe jam segini? Tumben... Biasanya bangun pagi terus." Ujar Aqeela dengan sedikit heran.
"A-ah iya, soalnya semalem tidurnya telat." Kata Dhea menjawab dengan sedikit kikuk karena kembali teringat kejadian semalam bersama Harsya.
"Ohh..."
Aqeela melangkah mendekati Dhea, "Temenin gue yuk Dhe..." Rengeknya
"Temenin kemana?"
Dhea bertanya seraya berjalan menuju ke dapur untuk membuat makan siang karena sekarang sudah jam 11 siang, tidak cocok jika di sebut sarapan.
"Gue mau cari kado buat ulang tahun nenek gue nanti malem, gue mau minta Lo temenin gue sekalian bantu gue pilih kado nya. Mau kan??" Aqeela tersenyum manis seraya memperhatikan Dhea dari minibar.
"Bisa aja." Dhea menjawab sembari fokus menelusuri isi kulkas nya untuk melihat bahan-bahan yang tersedia untuk dia masak hari ini.
"Sipp... Kalau gitu habis makan siang kita berangkat ya." Ujarnya dengan semangat.
"Hm..." Dhea menyahut dengan deheman singkat karena tengah asik sendiri untuk memasak.
"Harsya mana Dhe?" Aqeela melirik ke seluruh penjuru rumah namun tidak melihat batang hidung Harsya, entah kemana perginya anak itu. Membuat Aqeela penasaran saja.
"Harsya di atas, lagi mandi kayaknya. Tunggu aja... Bentar lagi juga turun." Kata Dhea menyahut
Aqeela terdiam sesaat dengan pikiran bingung, aneh, dan merasakan sedikit hal yang janggal.
"Harsya juga bangun siang, kalian gak tidur bareng kan?" Aqeela bertanya dengan maksud bercanda seraya tertawa usil untuk menggoda Dhea.
"H-hah? E-engga lah..." Dhea langsung menyahut dengan cepat walau nampak kikuk.
Aqeela jadi teringat suatu hal, "Semalem Syila ngabarin gue, katanya Harsya ngajak Lo ke club. Kenapa Lo ikut Dhe? Udah tau mereka semua sesat, walaupun gue juga sih..."
"Dhea bosan di rumah terus, kalau Dhea tau Harsya mau pergi kesana juga Dhea gak mau ikut sebenarnya. Dhea pikir pada mau nongkrong di cafe gitu." Dhea kembali menyahut.
"Terus Lo pulang jam berapa semalem?"
"Jam 1 an deh kayaknya kalau gak salah, Dhea lupa deh soalnya gak terlalu merhatiin jam." Jawabnya
"Ohh pantes aja bangunnya siang gini, ini Syila masih tepar deh kayaknya. Soalnya dari tadi pagi gue teleponin gak di angkat sama dia, gue males mau nyamperin ke rumahnya jauh. Makanya gue kesini..." Kata Aqeela seraya melirik ponselnya, untuk memeriksa siapa tau ada notifikasi pesan dari Syila. Namun ternyata tidak ada.
Dhea berbalik menuju ke wastafel untuk mencuci sayuran, Aqeela memperhatikan dari belakang. Dia mengerutkan dahinya sampai alisnya hampir menyatu, kenapa dia merasa ada yang aneh dari Dhea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Ficção Adolescente// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
