"Lo mau sampai kapan Syil ngehindarin Rey terus?" Aqeela ikut duduk bersama Syila di bawah pohon di pinggir lapangan.
Hari ini jadwal kelas mereka olahraga, dibawah teriknya matahari beberapa teman sekelas yang lain bermain Voli di lapangan, termasuk Dhea.
Sedangkan Aqeela dan Syila justru memilih duduk di bawah pohon besar yang cukup rindang untuk berteduh dari panasnya matahari siang ini, sembari melihat Dhea bermain Voli karena di paksa oleh Ranti untuk bergabung dengan timnya.
Syila menghela nafas berat, "Kalau bisa sih selama mungkin ya qeel, gue males ngeliat muka dia. Masih sebel gue..." Jawabnya jujur.
"Ya gak bisa segampang itu juga Syil, gara-gara kalian berdua putus nih circle kita jadi gak bisa kumpul-kumpul lagi kek biasanya." Kata Aqeela menegur
"Gue juga sebenarnya gak mau buat keadaan jadi kegini qeel, tapi ya mau gimana lagi. Gue benar-benar males banget ketemu Reynan saat ini." Syila menanggapi dengan sedikit frustasi dengan keadaannya sendiri.
Syila menyandarkan punggungnya ke batang pohon, lalu melirik Syila dengan serius. "Lo marah banget ya sama Reynan?"
Syila langsung menoleh dengan tatapan sinisnya, "Ya menurut Lo???" Cibirnya
"Kalau Lo ada di posisi gue emangnya Lo gak akan marah apa?" Syila bertanya balik kepada Aqeela.
Aqeela merespon dengan santai, "Kalau gue sih fine-fine aja Syil, Lo juga harus coba ngertiin posisi nya Reynan sekarang gimana. Lo gak bisa egois, dia ambil keputusan itu juga pasti udah mikirin risiko nya juga kok." Ujarnya.
"Ya tapi kan gak harus kerjaan itu qeel, banyak kok kerjaan lain yang gajinya lumayan. Masalahnya juga disini dia sembunyiin hal ini dari gue qeel, gimana gue gak kecewa sama dia coba." Kata Syila menyahut dengan cepat.
"Tapi kan Rey udah jujur sama Lo kemarin, dia jelasin semuanya kan ke Lo." Kata Aqeela menanggapi.
"Kalau gue gak tau duluan juga belum tentu dia bakal ngaku qeel, gue rasa dia akan terus sembunyiin dari gue selamanya kalau gue gak nemuin tuh majalah di kamar dia kemarin." Kata Syila dengan sewot.
"Ya mungkin aja Rey cuma belum dapat waktu yang pas buat kasih tau Lo, jangan negative thinking kegitu lah Syil."
"Kok Lo kayaknya malah belain Rey sih qeel?" Syila mengerutkan dahinya tak suka dengan perkataan Aqeela yang seakan ada di pihak Reynan.
"Gue gak belain dia, gue juga gak belain Lo. Gue mah netral aja Syil, lagian juga yang punya masalah kalian berdua bukan gue. Gue gak mau ikut campur, gue cuma kasih masukan aja ke Lo." Ujar Aqeela memperjelas.
......
Di lain tempat, Reynata baru menjalani hari-hari barunya di Bali.
Meski belum memiliki banyak teman di sini, tapi setidaknya Reynata memiliki seorang pujaan hati yang sangat dia sayangi disini.
Reynata baru kembali setelah selesai latihan basket bersama teman-teman barunya di sekolah, rencananya dia akan mandi dan menyusul ibunya di toko bunga.
Baru saja mengambil handuk, Reynata mendengar ponselnya berdering dari dalam tas ranselnya. Dia pun bergegas memeriksa ponselnya takut itu adalah telepon penting.
Setelah di periksa, ternyata pujaan hatinya yang menelpon. Reynata pun melempar handuknya dan merebahkan dirinya di atas ranjang sembari menjawab panggilan Video dari pacarnya.
"Haii..." Reynata menyapa dengan hangat dan begitu gembira, sampai rela menunda acara mandi nya.
"Hai sayang, kamu baru pulang ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Genç Kurgu// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
