Azi keluar dari rumah Reynan dengan membawa sebuah tissu, mereka tengah menongkrong di halaman depan rumah Reynan seraya makan martabak yang di beli Harsya dalam perjalanan.
"Nih tissu nih, jorok banget Lo anjir tangan kotor bekas martabak Lo lap di baju gitu." Azi menggerutu seraya melempar tissu beserta kotak-kotaknya kepada Nio dengan kesal.
Si pelaku tetap santai, Nio mengambil beberapa lembar tissu untuk mengelap tangannya yang masih ada sisa-sisa minyak bekas martabak telur yang dia makan.
"Santai si, baju-baju gue juga." Gumamnya sembari melempar tissu kotornya ke kumpulan Putung rokok mereka di asbak.
"Kebakar ini nanti goblok ah!" Harsya memekik kesal dan langsung melempar asal tissu yang Nio buang ke asbak berisi beberapa putung rokok yang masih sedikit terbakar.
"Tau Lo... Bego anjir, ntar kebakaran lagi rumah gue gara-gara Lo." Reynan menyahuti dengan kesal juga.
"Yaelah kan di luar rumah ini, yakali anjir sampai kebakaran. Gak mungkin lah..." Nio menyahuti ucapan sahabatnya yang terdengar lebay itu.
"Ya tetap aja hati-hati pe'a." Azi menyahut dengan geram seraya memukul pelan leher bagian belakang Nio.
"Iya sih iya, ya ampun. Sorry deh sorry..." Ucapnya mengalah pada akhirnya.
"Nambah beban aja Lo, udah tau orang lagi pada pusing Lo tambah bikin emosi. Untung gak gue kepret Lo anjing." Azi melanjutkan gerutuan nya
"Lah gue juga pusing anjing." Nio membalas dengan sewot.
"Semua orang disini juga lagi pusing anjing! Mau adu nasib apa gimana Lo berdua?" Reynan menyahuti dengan lebih sewot untuk menghentikan keributan yang Azi dan Nio buat.
"Gue engga tuh, fine fine aja hidup gue. Ngapain pusing-pusing, hidup mah santai aja lagi. Gak usah terlalu di pikirin banget..." Harsya menyahut dengan santai seraya menyesap rokoknya dengan penuh nikmat.
"Lo mah kampret Sya, mau punya masalah juga tetap bodo amat Lo mah. Semuanya Lo jadiin bahan mainan..." Tukas Reynan mencibir tipis.
Harsya tertawa kecil, "Ya harus gitu kalau gak mau stress kek Lo pada." Ujarnya
Azi berdecak kesal, "Lagian ini kenapa sih kita kalau ada masalah sukanya bareng-bareng gini. Jadi pusing anjing mikirnya, kalau satu-satu kan enak ya.." ujarnya mengeluh.
"Kecuali gue." Harsya kembali menceplos
"Iya iya kecuali Lo! Protes aja Lo perasaan dah..." Azi menyahut dengan sewot.
Nio menyenggol lengan Azi yang duduk di sebelahnya untuk mengambilkan sekaleng soda di atas meja lipat, karena tangannya tak sampai untuk menjangkaunya.
"Ini lagi, usaha kek jadi orang. Berdiri dikit kan bisa No, ampun gue mah..." Azi menggerutu namun tetap bergerak untuk mengambilkan Nio sekaleng soda.
"Thanks." Nio menerima dengan senyum lebar.
"Itu si Gama tapi udah beneran di penjara kan No?" Azi mencoba mengkonfirmasi ulang.
Nio mengangguk, "Harusnya ini jadi yang terakhir sih ya, kalau sampai dia bisa keluar dari penjara lagi. Gue habisin sih pasti..."
"Harusnya dia di masukin ke Nusakambangan gak sih, udah kriminal ini kasus dia banyak juga lagi, udah berat ini." Harsya mencetuskan pemikirannya.
"Gue dengar-dengar sih kemarin kabar terakhir dari kepolisian emang mau di kirim kesana dia." Kata Nio menanggapi.
"Mampus lah, bagus itu kalau beneran di kirim kesana. Meresahkan doang dia mah kalau di biarin berkeliaran." Kata Reynan menyahut.
Harsya tertarik untuk menatap Nio yang nampak diam dengan wajah menunduk menatap rumput-rumput yang dia injak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Fiksi Remaja// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
