"Harsya sama Rey kemana nih?" Aqeela bertanya kepada Azi dan Nio yang hanya duduk berdua saja di kantin.
Aqeela bersama dengan Syila dan Dhea bergabung duduk bersama dengan Azi dan Nio seperti biasa saat mereka makan siang di sekolah.
"Harsya menghilang di telan bumi gak tau kemana, kalau si Rey di kelas noh tidur." Kata Nio menjawab pertanyaan Aqeela.
"Beuhhh... Galau dia abis putus?" Kata Aqeela seraya tertawa kecil.
Azi dan Nio dengan kompak melirik Syila yang nampak lebih banyak diam hari ini, wajahnya pun nampak di tekuk dengan begitu jutek.
Azi diam-diam menyenggol lengan Nio sebagai kode agar tidak mengucapkan kalimat yang sekiranya akan membuat Syila marah.
"Ekhemm.... By the way gimana kemarin konsernya? Seru gak?" Nio bertanya sebagai peralihan topik, membahas konser yang diadakan sekolah mereka pada hari Minggu yang lalu.
"Halah... Gak tau deh gimana tuh konser. Kita gak ada yang nonton..." Ujar Aqeela menjawab dengan helaan nafas berat mengiringi.
"Lah, kenapa gak nonton?" Azi menyahut dengan heran.
"Ya gimana mau nonton, orang semuanya sibuk sendiri-sendiri geh. Yang kesana lah yang kesini lah, yang ada urusan itu lah ini lah huft... Cuma Dhea sendiri yang free." Dhea menyahut dengan curhatan hatinya yang dia pendam dari kemarin.
"Utututu... Maaf ya Dhe, abisnya gue mau ngajak Lo nonton konser tapi gue kan harus bantu siapin acara ultah nenek gue kemarin abis cari kado." Aqeela merangkul Dhea dengan hangat dengan bibir mengerucut kecil.
"Iya gapapa, lagian itu lebih penting acaranya dari pada nonton konser." Sahut Dhea dengan pemikiran bijaknya.
Tak perlu bertanya mengenai Syila, yang jelas Syila dan Rey tidak mungkin mau di ajak nonton konser karena sedang sama-sama marah.
Jangankan di ajak nonton konser, di hubungi saja keduanya sama-sama tidak bisa. Ah, benar-benar memusingkan saja kedua insan itu jika sedang bertengkar.
"Tau gitu kemarin gue pulang cepet Dhe, biar bisa nemenin Lo nonton konser." Tukas Azi menanggapi Dhea.
"Iya bener, tau gitu kan gue juga pulang lebih awal. Lo sih gak ngabarin kita Dhe..." Sahut Nio mengimbuhi.
Aqeela memutar bola matanya dengan malas, "Mending gak usah nonton konser tau Dhe daripada Lo ngajak dua curut ini, rese mereka mah yang ada cuma bikin rusuh aja." Kata Aqeela dengan nyinyir.
"Dihh gue mah gak rusuh, dia nih yang rusuh nih..." Sahut Nio sembari menggeplak leher belakang Azi.
"Ada cewek asing gak kenal entah siapa main di gandeng-gandeng aja sama dia, giliran ngamuk gue yang suruh jadi tameng. Sialan banget emang!" Nio menggerutu dengan kesal mengingat kelakuan rese sahabatnya itu.
Azi menyengir, "Ya abisnya Lo kalem-kalem bae, gimana mau dapat pacar coba. Gue kan begitu maksudnya mau caper buat ngenalin Lo ke cewek-cewek itu, tapi Lo nya kek taik anjing." Tukas Azi menyahut dengan geram juga.
Dhea dan Aqeela tertawa kecil seraya menggeleng melihat tingkah kedua lelaki itu.
Brakk...
Syila tiba-tiba menggebrak meja kantin dengan cukup keras sampai semua orang terdiam dan menatap Syila penuh tanda tanya.
"Berisik ah Lo pada! Ga mood gue..." Tukas Syila menggerutu, lalu pergi begitu saja dari kantin.
"Yaelah... Susah amat ngurusin orang patah hati ya. Dikit-dikit badmood, dikit-dikit kesel, dikit-dikit marah, dikit lagi gue nih yang stress." Aqeela menggerutu seraya menatap Syila yang perlahan mulai menghilang dari jangkauan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Novela Juvenil// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
