"Gue marah besar waktu Lo ninggalin gue, gue kecewa karena gue gak bisa ngelindungin Lo waktu itu. Kak Arsy..." Harsya mengusap nisan kembarannya itu dengan sejuta rasa sedih yang masih tersisa dalam hatinya.
"Gue marah sama laki-laki yang Lo cintai, karena menurut gue dia lah yang buat Lo harus pergi ninggalin gue, mama, sama papa."
"Gue benci dia bukan tanpa sebab, dia renggut Lo dari gue. Bahkan dari mama sama papa, mereka kehilangan lo banget..."
"Semenjak Lo pergi, ini ketiga kalinya gue datang kesini. Maaf ya kak, karena gue jarang ngunjungi Lo disini..."
"Lo pasti sedih ya? Lo marah gak sama gue? Lo kangen gak sama gue?"
"Gue kangen banget sama Lo... Gue masih berat banget rasanya ketika gue harus dipaksa terima takdir yang pisahin kita dengan cara seperti ini."
"Meskipun terlambat, Selamat ulang tahun kak Arsy. Selamat ulang tahun untuk kita berdua..." Harsya mengulum senyum di wajahnya dengan mata yang berlinang air mata.
Harsya meletakkan buket bunga mawar putih kesukaan Arsy di atas batu nisannya.
"Maaf karena gue butuh waktu lama untuk ikhlasin kepergian Lo..."
"Lo tau gak awalnya gue marah sama Mama Papa, mereka kelihatan sayang banget sama Lo sampai-sampai mereka terus kalut sama kesedihan mereka ketika Lo pergi kak."
"Gue ngerasa sendiri, mereka selalu bandingin apapun sama Lo. Ketika nilai gue jelek, pasti mereka bilang 'kamu itu gak pernah ada peningkatan, kakak kamu itu dulu pintar loh. Kok kamu bisa-bisanya nilai jelek semua mana bandel bla bla bla' ya gitu deh..."
"Mereka bilang kalau mereka selalu kebayang sama Lo terus di rumah, dan mereka jadi sedih. Makanya Mama sama Papa mulai sibuk kerja setelah Lo pergi kak..."
"Yang biasanya Mama selalu di rumah nemenin kita, semenjak Lo gak ada Mama selalu ikut Papa kemanapun Papa pergi. Bahkan ke luar negri sekalipun..."
"Dan berakhir gue sendirian di rumah... Gue kesepian, gue kangen keluarga kita yang dulu. Waktu ada Lo semuanya indah, tapi setelah Lo pergi..."
"Rasanya semua berubah, Mama sama Papa jarang di rumah. Padahal ada gue yang butuh kehadiran mereka untuk meramaikan suasana di rumah. Nyatanya engga..."
"Makanya gue marah, gue kesel, kenapa mereka harus kegitu? Padahal gue juga sedih Lo pergi, bukan cuma mereka aja."
"Terus gue mutusin buat pindah, gue tinggal sendirian di rumah yang di Jakarta karena dekat sama sekolah gue. Dan mama sama papa??"
"Ya mereka tetap kerja, sibuk ke luar kota. Bahkan ke luar negri dan jarang pulang. Sampai akhirnya Lo tau apa???"
"Tiba-tiba mereka pulang, mereka datang ke rumah gue. Dan mereka bilang, kalau ada anak teman mereka yang mau tinggal sama gue, untuk nemenin gue."
Harsya tertawa kecil sebentar, "Awalnya gue senang, gue pikir gak ada salahnya kan punya teman baru."
"Tapi sayangnya semua gak sesuai dengan apa yang gue harapin, ternyata anak teman mama sama papa yang di maksud itu perempuan kak. Bukan laki-laki..."
"Bayangin aja, masa gue di suruh tinggal satu rumah sama perempuan sih. Dan yang bikin gue gak suka sama dia pada awalnya adalah..."
"Karena dia mirip Lo."
Harsya tersenyum kecil, "Awalnya gue kira dia cuma berusaha untuk niru in Lo aja, dia cuma pura-pura bersikap mirip kayak Lo."
"Tapi semakin lama, sampai detik ini gue baru sadar. Dia bukan cuma mirip Lo, tapi dia memang sama kayak Lo..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsya
Novela Juvenil// FOLLOW DULU SEBELUM BACA// Menceritakan kehidupan anak remaja, yang labil, gampang tantrum, dan sedikit tidak waras. Dalam cerita ini banyak menggunakan kata-kata kasar dalam dialognya. Harsya adalah seorang remaja yang ingin kehidupan remajanya...
