SOMEDAY 46

14 9 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


SOMEDAY

46

MASA KECIL

     Liburan sekolah sudah dimulai seminggu yang lalu. Kebanyakan orang-orang pergi berlibur ke pantai bersama keluarga, pasangan, atau sahabat. Sedangkan Ega Anantha hanya rebahan dan turu setiap saat.

"Woy! Tiap hari bangun siang mulu, nggak malu sama matahari!?" bentak emak sembari menampar belahan bokong Ega.

Si empu hanya mendengus lalu menarik selimut sampai menutup kepalanya.

Si emak kembali ngomel tak henti-henti, membuat Ega mau tak mau harus bangun. Surai merahnya berantakan dengan jejak air liur di pipinya, matanya menyipit saat cahaya matahari yang sudah terang benderang dari jendela yang terbuka masuk ke netranya.

Ega bergumam, "Ega udah bangun, Mak."

"Cuci muka, kita sarapan," ucap emak sembari keluar dari kamar bernuansa hitam itu.

Ega hanya berdehem lalu mengangkat bokongnya dari zona nyamannya itu menuju kamar mandi.

Setelah sarapan beramai-ramai bersama saudara-saudaranya yang menginap, Ega duduk di dekat kolam ikan arwananya sembari nyebat.

Ega suka tertawa dan membuat orang lain senang, namun kebiasaannya itu sudah perlahan menghilang.

"Bang Mamet! Ayo main kuda-kudaan!" seru para keponakannya sembari menarik lengan Ega.

"Nggak mau, main aja sendiri," ucapnya sembari melempar batang rokok yang masih panjang ke kolam ikan, lalu ia melenggang pergi.

"Ahh Bang Mamet!" seru keponakannya sembari menangis.

¤¤¤

     Ega pergi jalan-jalan di sekitar kampung halamannya. Ia berhenti di depan gerbang sekolah dasar yang sudah di upgrade dengan lebih canggih, bahkan sekarang taman bermainnya sudah luas ditambah wahana permainannya yang semakin beragam, dibanding dengan saat ia bersekolah disana.

Ega masuk kedalam karena pintu gerbangnya tak pernah di kunci. Ia duduk di ayunan sembari mendengarkan lagu di earphonenya. Membayangkan masa kecil bahagia yang ia habiskan di sekolah ini bersama Dimas dan Chiko.

"Jadi bocil lagi enak kali yah," gumamnya.

"Nggak enak, Bang," sahut seorang bocah perempuan di ayunan sebelahnya.

"Nyambung aja lu kek kabel putus," balas Ega ketus.

"Chici malah pengin cepet gede, biar bisa nyari duit banyak buat mama," katanya sembari mengayunkan kaki mungilnya.

Ega melirik bocah berpita merah itu lalu menggerutu, "dikira jadi gede segampang itu apa, lu masih bocil udah ngeluh soal kehidupan, gimana gedenya."

"Chici pengin cepet gede biar nggak nyusahin mama, biar bisa bantu mama. Chici sebel jadi beban terus," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Lah, sewot." Ega tertawa pelan melihat tingkah bocil itu.

Bocah itu mengusap matanya sembari menatap Ega, lalu bertanya, "Abang kenapa pengin jadi anak kecil?"

Ega diam sejenak, lalu ia menerawang jauh kedepan sembari berkata, "biar bisa seru-seruan tanpa punya beban pikiran, bisa main bareng tanpa harus mikirin perasaan."

Mata bulat gadis kecil itu membesar menatap Ega tak paham.

"Lu bakal paham omongan gua kalo udah gede. Sekarang fokus aja sama masa kecil lu, buat kenangan bareng orang-orang yang lu sayangin, biar suatu hari nanti lu nggak nyesel, paham cil," ucapnya lalu mengusap kepala gadis itu.

Bocil itu mengangguk mantap. "Paham Bang!"

"Good."

"Orang yang Chici sayangi cuma mama, Chici nggak punya temen. Abang mau nggak jadi temen Chici?" Mata besarnya berbinar menatap Ega.

Ega tertawa pelan, ingin mengambil rokoknya, namun terhenti, ia melirik gadis itu dan berujar, "jadi temen gua ya? Berhubung saat ini gua lagi kesepian, oke lah lu boleh jadi temen gua."

"Yeyy!" seru Chici sembari memeluk Ega, "makasih ya, Bang. Chici seneng deh."

Ega menggaruk rambutnya sembari berdehem.

Ega menggaruk rambutnya sembari berdehem

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

LMAO GAN


SOMEDAY ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang