.
"Kamu jahat! Sunghoon! Jahat! Kasian Jungwon sakit dipaksa sekolah .... kamu gak berubah! Masih kurang pelajaran belajar dari kesalahan kamu!!"
Jaeyun sangat cantik mengenakan pakaian serba putih. Namun mata pria cantik itu membengkak berteriak penuh kekecewaan pada sang suami yang masih sama saja, Sunghoon berusaha menggapai istrinya sayang Jaeyun bagai angin yang tak dapat dipegang.
Tangisan Jaeyun mengisi ruang kosong itu, "Aku gak bakal balik lagi, Sunghoon. Aku udah bahagia disini! Bagus aku sama Benjamin disini." Sunghoon membulatkan matanya, berarti selama ini Jaeyun punya selingkuhan?! Sialan!
Sunghoon terus berusaha menggapai sang istri dan tidak pernah sampai, "JAEYUN! JAEYUN! SAYANG!"
"JAEYUN!!" Sunghoon terjatuh dari kursi kebesarannya.
Dan semua hanya mimpi?! Sunghoon berteriak frustasi dan menangis lagi untuk kesekian kali. Jaeyun-nya pergi dalam mimpi.
TOK TOK TOK
"Perdana menteri anda baik-baik saja?" Hela nafas kasar keluar dari celah mulut Sunghoon.
"Aku baik-baik saja!!"
"Kalau begitu saya ingin mengatakan kalau tuan muda perdana menteri jatuh sakit dan pingsan disekolah." Sunghoon buru-buru bangkit dari lantai dan langsung menuju sekolah sang anak.
Sialan! Sunghoon merutuki dirinya sendiri telah melakukan hal fatal lagi, bagaimana jika anaknya ikut meninggalkannya? Dengan siapa dia akan hidup sampai tua? Sunghoon rasa ia akan gila hanya dengan memikirkan itu.
"Maafkan ayah, Jungwon."
.
Sampai disekolah sang anak Sunghoon menahan tangisannya setelah mengetahui keadaan anaknya, tanpa basa-basi perdana menteri muda itu menggendong tubuh Jungwon dan membawanya ke rumah sakit.
"Yayah? Mau adik ... hikss ... sama mama ... uwon ingin main belsama adik .... " mata Jungwon memang tertutup, tapi anak itu terus bergumam.
"Iya sayang, kita cari adik ya? Maafkan ayah hari ini kita bawa pulang adik bayi besarkan walaupun mama gak sama kita," Jungwon menangis kecil.
"Mama sudah pelgi ya? Uwon seling mimpi mama pake baju putih telus dadah ..... mama bahagia sekali yayah ... " ternyata bukan cuma dia anaknya pun bermimpi sang ibu.
Jungwon terisak pilu mengingat kenangan bersama sang ibu dimemori ingatannya, mama marah, mama mengomel dan mama tersenyum akan jadi kenangan paling indah dalam hidupnya.
"Mama uwon sayang sekali sama mama, uwon nda papa mama pelgi asal nda sakit lagi .... " sekarang Sunghoon belajar sabar dari seorang anak kecil.
Menerima kenyataan tidak mudah, namun Jungwon sudah belajar dari kecil tentang apa itu kesabaran dari menunggu mama menyayanginya, ayah berubah dan hidup bahagia walaupun hanya sebentar.
"Yayah nanti uwon mau cium mama ya?" Sunghoon kurang paham, memangnya Jaeyun belum dimakamkan?
"Adik dibeli nama apa?" Benar Sunghoon belum menyiapkan itu.
"Apa saja."
Di rumah sakit semua orang memperhatikan langkah Sunghoon yang tegas memasuki UGD bersama sang anak dalam dekapannya, Jungwon demam tinggi.
"Nda mau suntik!! Mau adik! Yayah ..... " Sunghoon terpaksa menghentikan prosedur penanganan Jungwon.
"Iya sayang, ayo kita cari adik. Terima kasih dokter suster." Jungwon memeluk erat leher sang ayah.
Tangan mungil anak itu bergerak abstrak dipunggung sang ayah, dan bersenandung lagu sedih tentang anak berpisah ibu mereka.
Sunghoon menahan air mata yang mendesak keluar, "Sayang mama cuma pindah tempat kan? Sama ayah sama adik kita pasti bahagia. Mama pantau kita dari jauh."
"Iya mama jadi peli yayah, cantiiiik .... sekali .... uwon suka liat mama cantik!"
Mereka menuju ruang NICU dengan langkah ringan Sunghoon berjanji menyayangi bayi kecil tak berdosa itu, Sunghoon akan jadi ayah dan ibu untuk anak-anaknya, dan cintanya akan jadi kenangan terindah dalam hidup Sunghoon bisa menjadi suami Jaeyun.
Di depan ruang NICU ada tuan Shim duduk termenung.
"Grandpa! Uh... yayah tulun mau grandpa!! Grandpa! Mau liat adik!" Pria tua itu tersenyum cerah melihat pasangan ayah-anak tersebut.
Tuan Shim menyambut pelukan sang cucu dan menimang anak gembul itu, "Apa cu? Mau ketemu adik? Ayo ikut grandpa, ayo Sunghoon."
Jungwon dipeluk sang kakek menuju ruang milik sang adik, bibir anak itu mengerucut melihat bayi perempuan cantik sekali. Jungwon jadi ingin adik perempuan juga.
"Yayah mau adik pelempuan!" Ada-ada saja, "Mamamu melahirkan adik satu saja sudah tidak ada, jangan nakal dulu sayang ayah marah nanti." Tuan Shim terdiam.
"Bodoh!" Gumam pria tua itu.
.
Menuju ending, aku juga mau namatin beberapa cerita biar publish cerita baru.
Tenang aja no more sad ending keliatan kok ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Being A Mommy [sungjake]
FantasyEND "Aku dimana?" Jake sangat ingat diharusnya berada dikamar mandi karena sang ayah yang menghukumnya, tapi kenapa dia terbangun disebuah kamar mewah dan dalam keadaan mengandung. Saat keluar kamar para pelayan menunduk hormat penuh ketakutan melih...
![Being A Mommy [sungjake]](https://img.wattpad.com/cover/277105668-64-k17396.jpg)