Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun mataku belum bisa terpejam sedikitpun. Berulang kali aku mengubah posisi tidurku. Miring kiri, miring kanan, dan terlentang. Namun mataku sulit diajak kompromi. Sebenarnya, ada perasaanku yang masih mengganjal dan belum tuntas yang menyebabkan kantuk tidak segera datang menghampiriku. Aku masih penasaran dengan kejadian sore tadi. Tentang pria mabuk yang hampir memperkosaku dan juga tentang kepergian David ke Singapura untuk menemani papa, namun nyatanya ia masih berada di sini.
"Aku tidak bisa begini terus." Aku menyingkap selimut, lalu beranjak dari kasur kemudian berjalan membuka pintu.
Suasana rumaku sudah gelap. Hanya ada lampu remang-remang yang sengaja asisten rumah tanggaku hidupkan. Mama pasti sudah tidur. Aku memang sengaja tidak menceritakan kejadian yang ku alamai tadi pada mama. Karena aku yakin wanita itu pasti akan cemas dan memintaku untuk menutup klinik selamanya. Itu jelas mimpi buruk. Aku membangun klinik itu dari nol, dan sekarang sudah cukup ramai dengan pasien. Aku tidak mau hanya karena kekhawatiran mama yang berlebihan, aku harus merelakan pekerjaanku.
Aku membuka pintu kamar David yang tertutup. Lagi-lagi pria itu tidak megunci pintunya. Namun tidak ada orang di sana. Kasurnya pun masih tertata rapi, menandakan bahwa sang empu-nya kamar belum menggunakannya untuk tidur.
Dengan pelan-pelan aku menuruni tangga, untuk mencari keberadaan pria itu. ia tidak ada di ruang tamu, atau ruang makan.
Aku mendengus, lalu memasukkan kedua tanganku di saku baju tidurku. Saat aku hendak membalik badan dan kembali ke kamar, pandanganku terhenti ke luar jendela ruang makan yang terbuka, pada bangunan yang berada di tengah halaman belakang. Ruangan itu berada jauh dari rumah utama dan memisah dari bangunan-bangunan lainnya.
Aku mengulum senyum, dari lampunya yang masih menyala, aku yakin orang yang aku cari berada di sana. Sebab, pria itu sering menghabiskan waktu di sana untuk menguatkan otot-otot tangannya.
Langkahku tergesa menyusuri pinggiran kolam renang, melewati gazebo, dan jalan setapak yang terbuat dari semen.
Buk!buk!buk!
Telingaku mendengar sesuatu ketika sampai di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat itu. dengan pelan ku geser pintu tersebut, dan benar saja David sedang meninju samsak yang tergantung disana dengan begitu brutal. Ia hanya mengenakan celana olahraga panjang tanpa mengenakan kaos, sehingga dadanya yang kotak-kotak itu terlihat mengkilat disapu keringat yang mengucur dari badannya. Saat ia bergerak, keringat-keringatnya memercik dari rambutnya yang sudah basah.
"Aku mencarimu." Aku mendekat, namun ia masih tak menanggapiku. Aku tahu ia menyadari kedatanganku, sebab ketika menggeser pintu tadi aku melihatnya menatapku dengan sudut matanya.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya ketika aku berhenti tepat di sampingnya. Matanya fokus pada samsak yang berada di depannya. Dari tempatku berdiri ini, aku melihat urat-urat tangan David yang menonjol ketika samsak tak bersalah itu ia tinju sedemikian rupa.
"Enggak bisa tidur."
"Kenapa?" ia menatapku sekilas, nafasnya naik turun dengan cepat. "Besok kan kerja?"
Aku bersidekap. Menatap wajahnya dari samping. Hidung mancungnya itu terlihat begitu indah jika aku menatapnya dari tempatku sekarang. Aku baru menyadari bahwa kakak lelakiku ini begitu tampan. Pantas saja ia memiliki banyak sekali pacar, dan pacar terkahirnya adalah Diana. Huh, kenapa aku sebal sendiri mengingat bahwa perempuan itu pernah menjadi pacar kakakku.
"Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi tadi sore." Kataku pada akhirnya.
Pukulan David hanya menggantung di udara, sebelum akhirnya kembali menarik tangannya dan menghadap ke arahku.
"Apa yang membuatmu penasaran?" ia menatapku datar. Bibirnya terbuka sedikit, untuk membantunya bernafas dengan lebih baik.
"Hubunganmu dengan pria mabuk tadi?" sahutku. Aku memiliki feeling bahwa mereka saling mengenal. Aku bahkan tidak bisa melupakan tatapan kebencian pria mabuk tadi pada David.
"Sudah aku bilang kan Lin, jangan percaya dengan kata-kata orang mabuk." Sahutnya lalu berjalan melewati pundakku dan mengambil minum.
Aku berbalik, menatapnya yang kini menenggak minumannya dan menghabiskan hampir separuh.
"Tapi dia juga tau jika aku adikmu." Aku masih tidak mau kalah.
David meletakkan kembali botol minumannya ke atas meja, dan kini ia mengambil handuk kecil yang masih terlipat rapi di sebelah botol minumnya itu. seolah tidak peduli dengan kalimatku, ia justru lebih memilih membersihkan keringatnya daripada membalas pertanyaanku.
"David!" aku menghentakkan kaki dan berjalan mendekatinya. "katakan!"
"Aku hanya mengenalnya saja Alinea."Sahutnya. "Aku pernah mengalahkannya di arena tinju."
"Benarkan?" aku masish belum percaya. "Tapi kenapa ia terlihat begitu membencimu?"
David memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya mendorong keningku pelan dengan ujung jarinya. "Kamu pikir, jika permainan berakhir apakah dia akan menjadikanku teman baik ketika aku kalahkan dengan telak di ring tinju dan mempermalukannya?" ia balik bertanya. "Wajar bukan ia membenciku dan ingin membunuhku?"
Aku tidak menyahut. Benar apa yang dikatakannya. Dunia lelaki memang aneh. Mereka melakukan peramainan, kemudian saling serang jika yang kalah tidak terima.
"Jika ia datang mencarimu lagi, jangan ditanggapi. Namanya Maxime. Jelas?" ia memberi penekanan pada kata terakhirnya.
Aku manggut-manggut.
"Tapi kenapa kamu pulang? Bukannya kamu seharusnya ke Singapura hari ini bersama papa?" aku mengalihkan pembicaraan. Aku sudah bisa menerima jawaban dari David tentang Maxime si pria mabuk tadi.
"Tidak jadi." Ia meletakkan handuknya kembali ke tempatnya.
"Kenapa?"
David mendengus kesal.
"Apa malam ini pekerjaanmu berubah menjadi detektif Alinea?" ia menatapku sebal. "Seingatku tadi sore kamu masih membuka praktekmu dan melayani pasien."
Aku kembali melipat tanganku di depan dada.
"Ya pekrjaanku berubah malam ini. Sebab aku tidak bisa tidur memikirkan semua yang sudah terjadi tadi sore Dav."
"Jadi?"
"Jadi cepatlah jawab. Karena aku ingin tidur!"
"Papa berangkat sendiri dengan sekertarisnya." Sahutnya.
"Yakin?" kembali aku masih belum puas dengan jawabannya.
David memutar matanya malas. "Apa aku perlu menjelaskannya lagi Alinea?" ia mendengus kemudian berjalan menuju pintu. Rupanya ia sudah jengan dengan pertanyaanku.
"Mau kemana?!" teriakku.
David menoleh. "Mandi, lalu tidur." Ia menjawab dengan ekspresi datar.
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, ada hal lain yang masih mengganjal di hatiku sejak sore tadi. Melihat sisi lain David yang selama ini belum aku ketahui, melihatnya memukuli orang sampai babak belur, dan sering melihatnya pulang tengah malam dengan wajah penuh luka. Membuatku ketar-ketir. Apa yang dilakukan David di luar sana, yang tak aku ketahui?
"David!" panggilku kemudian.
"Apalagi?" ia mengerutkan alisnya. Tangannya sudah memegang pegangan pintu.
Aku menggigit bibir bawahku. Sedikit ragu, apakah perlu mengatakan hal ini padanya atau tidak, karena David sering tidak mendengarkanku. Namun setidaknya, aku ingin menjadi saudara yang baik untuknya, dengan mengingatkannya.
" Jangan berkelahi lagi ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Gumamku pelan sambil meremas tanganku.
Kerut alisnya memudar, ia menatapku sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Iya....." kemudian ia mendorong pintu, lalu pergi begitu saja.
Benar khan? Dia memang tidak pernah mendengarkanku!
******
KAMU SEDANG MEMBACA
Metanoia
RomancePost seminggu sekali Beberapa bagian dari cerita ini mengandung banyak adegan kekerasan dan adegan dewasa (18+). Dimohon bijak dalam membaca ya! Ini cerita tentang cinta dan dendam. akankah cinta bisa menghapus sebuah dendam ataukah sebuah dendam ak...
