05. Enjoy the Momment

182 21 14
                                        

Selepas bel sekolah berbunyi, kini sepasang sejoli tengah terduduk manis di salah satu warung nasi prasmanan dekat sekolah. Mereka sudah seringkali mampir untuk menghilangkan rasa laparnya. Bahkan mbok Darmi, sudah sangat hafal dengan sepasang muda-mudi ini.

"Ada tugas sekolah, ya? Kok bawa map gitu." Tanya Mbok Darmi pada sepasang siswa-siswi yang tengah menikmati makan siangnya.

"Iya nih mbok, sekolah mau ada pensi jadi ini mau nyari sponsor." Jawab Bian setelah menghabiskan seporsi nasi dengan lauk telur dadar kesukaannya.

"Oalah, semoga sukses ya acaranya. Mbok do'akan lancar."

"Amiin ..." Jawab Tara dan Bian kompak.

Ketiganya memang cukup dekat. Mbok Darmi yang memang sangat ramah membuat putra putri tersebut betah mampir di warung sederhana miliknya. Selain itu harga yang di patok juga cukup sesuai dengan kantong pelajar. Beberapa kali bahkan mbok Darmi memberi bonus lauk untuk keduanya. Katanya sebagai apresiasi atas konsistensi keduanya untuk mampir ke warung nya.

Setelah menyelesaikan kegiatan makan siangnya, kedua muda-mudi tersebut membayar pesanan nya lalu bergegas menuju tujuan utama mereka siang ini.

"Makasih, Mbok. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, hati-hati ya nak."


***

Tujuan pertama mereka yakni salah satu brand makanan penutup yang cukup terkenal di kotanya. Alasan Tara memilih brand tersebut karna peminatnya banyak dan dengan proposal yang hendak ia ajukan, ia cukup percaya diri untuk di terima.

Saat tengah berhenti di lampu merah, Bian menarik tangan Tara untuk ia selipkan pada saku jaket nya, melihat cuaca yang cukup panas siang ini.

"Bian ngagetin!"

"Hah? Ngangenin? Kita kan lagi berdua, kamu kangen aku?"

"Bukan ngangenin, tapi ngagetin!"

"Oh, ngangetin. Tapi aku ga lagi ngangetin Tar."

"Terserah Bian deh, kupingnya budek ih."

"Iya, sama-sama."

Tara yang kesal memilih tak merespon sang kekasih.

Tapi kalau dilihat kembali keadaan sekitar, rasanya wajar Bian tak dapat mendengar dengan baik saat ini. Tepat di depan nya ada dua buah motor dengan knalpot bising, di tambah para pengamen, serta suara-suara kendaraan lainnya.

Komunikasi keduanya barusan juga harus dengan berteriak satu sama lain, sampai beberapa pengendara memperhatikan keduanya. Entah turut mendengarkan atau malah sudah mulai bermonolog dengan batin nya masing-masing.

Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan dipenuhi polusi, akhirnya dua muda mudi tersebut sampai pada tujuannya. Jujur, Tara mulai gugup saat ini. Tangan nya sudah mulai berkeringat, begitu pula pelipis nya.

Bian yang sedari memperhatikan kekasihnya, lantas merogoh saku untuk mengambil tisu dengan kemasan mini yang selalu ia simpan dalam sakunya. Tangan nya mulai mengelap pelipis si manis yang kini terpaku atas perbuatannya.

Bian hanya tersenyum melihat ekspresi Tara yang bingung harus merespon seperti apa.

"Ayo masuk, mau sampe kapan disini?"

"Eh, iya sampe lupa."

Muda-mudi itupun masuk lalu segera menyampaikan maksud kedatangan nya ke tempat ini.

Awalnya Tara pikir, ia akan di tolak mentah-mentah. Namun ternyata, ia di sambut begitu ramah. Keduanya melepas nafas lega setelah mendapat kepastian bahwa bisa menemui owner nya secara langsung, meskipun harus menunggu beberapa saat.

Biantara | Lee Jeno Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang