Hari ini hari pertama bagi Bian untuk berkerja paruh waktu di cafe milik adik kelasnya. Malu? Tentu tidak. Toh dia mencari uang yang halal.
Setelah mengantar sang pujaan hati mengirim proposal sponsor acara pensi sekolah ia langsung menuju cafe tempat nya bekerja.
Meskipun sudah masuk sore hari, namun langit hari ini terbilang masih cukup cerah. Setelah beberapa hari hujan lebat, hari ini cuaca cukup terik, membuat penjualan di cafe juga meningkat. Banyak nya pelanggan yang berdatangan, membuat Bian harus berkerja lebih cekatan pada hari pertamanya.
Intrupsi dari para senior di tempat ia berkerja terus bersahut-sahutan. Apalagi cafe ini terletak sangat strategis di sekitar kawasan muda mudi. Pantas saja pengunjungnya dapat membeludak.
Setelah mengantar Tara untuk mengirim proposal sponsornya, Kini sang kekasih tengah duduk menyelesaikan beberapa laporan untuk pendanaan pensi yang belum usai. Sembari menyeruput minuman dengan perasan jeruk lemon tersebut.
Sesekali Tara pun mengamati Bian yang terlihat begitu cekatan dan fokus melakukan pekerjaan nya. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman manis yang berhasil membuat beberapa pelanggan mengamatinya. Paras ayu Tara memang tak dapat di tolak ketertarikan nya. Pesona nya begitu kuat, khas gadis Jawa dengan rambut hitam panjang.
Saat tengah asik mengamati kekasihnya, Tara dikejutkan dengan kehadiran mas Juan di hadapannya. Rupanya kakaknya itu memang sering mampir untuk membeli minuman mint choco kesukaan nya.
"Lho dek, kamu disini?" Juan langsung mendudukan diri pada kursi kosong di hadapan Tara.
"Iya, nemenin Bian,"
"Mana Bian nya? Kok kamu ditinggal sendiri?"
Tara memajukan bibirnya, menunjuk ke arah salah satu pemuda yang tak lain kekasihnya.
"Itu ..."
Juan menoleh ke arah yang di tunjuk adiknya, berusaha mencari sosok Bian diantara kerumunan manusia. Namun tak ia sangka, Bian ia temukan dengan setelan khas barista.
"Dia kerja di sini? Sejak kapan? Kok Mas baru liat,"
"Ini hari pertamanya. Sekalian Tara ngerjain laporan yang belum selesai, sekalian juga Tara temenin." Tutur Tara menjelaskan. Netra nya kini tak lagi fokus pada kekasihnya, namun pada layar laptop di hadapannya.
Juan tak memberi banyak respon. Jujur ia kagum pada sosok Bian yang begitu gigih mengais rupiah. Jarang-jarang ada anak muda yang mau berkerja di waktu main nya.
"Atas nama Juan!" Teriak salah satu barista.
Juan pun berpamitan dengan sang adik lalu menghampiri tempat pengambilan pesanan tersebut. Sebelum beranjak pergi, Juan terlebih dahulu membuat pesanan satu ice lemon tea untuk Bian sebagai tanda apresiasinya. Jangan di tanya kenapa ia memesan menu itu, karna hanya menu itu yang mungkin ia tebus dengan sisa uang di sakunya.
***
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, waktu istirahat dan pergantian sift sejenak bagi para karyawan sebelum kembali melanjutkan nya hingga dini hari nanti.
Bian yang mendapat waktu luang memilih untuk menghampiri kekasihnya yang masih setia menunggu kepulangan nya. Iya, Tara masih setia menunggu sedari tadi.
"Udah malem, kamu masih mau nunggu aku sampe pulang?" Tanya Bian sembari mengelus pucuk kepala kekasihnya.
"Kamu selesai jam berapa?"
"Kayanya bakal balik sekitar jam sebelas deh, kamu aku anter aja, ya?"
Tara yang mendengar bahwa Bian akan pulang selarut itu mulai khawatir akan kesehatannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biantara | Lee Jeno
Fiksi Penggemar❝Hidup itu penuh kejutan, nak. Dan dunia nggak pernah nunggu kamu siap untuk nerima semua candaannya.❞ *** Ini tentang sepasang remaja yang berusaha berdamai dengan alur hidupnya. Sabian Pram Kendrick, remaja yang harus kehilangan sosok ayahnya dan...
