Kalau Bian bilang ia akan pergi ke kelas untuk menetralkan semua perasaan buruknya, sepertinya takdir tak berkata demikian.
Di lorong, tepat sebelum ia masuk ke arah kelas, ia mendapati Tara disana. Gadis itu duduk di salah satu bangku yang memang disediakan di setiap lorong. Tangannya menggenggam sebuah novel sedang netranya sibuk memandang seekor kucing yang duduk manis disebelahnya.
"Tar?" panggil Bian lirih. Gadis itupun menoleh kearahnya, senyumnya merekah, seakan menyambut Bian dengan begitu hangat.
Jujur, Tara merasa canggung sekarang. Ia tak mungkin lupa apa yang terjadi semalam, bagaimana Mahen dan dirinya saling memasangkan cincin satu sama lain di depan anggota keluarga.
Setelahnya, Bian duduk tepat disamping kekasihnya. Senyumnya turut merekah saat melihat Tara menyambutnya begitu hangat. Seketika melupakan apa yang baru saja terjadi, melupakan bagaimana gadis di depannya mengukir luka pedih berkali-kali.
"Tadi ada temen sekelas kamu bilang, kamu baru dateng pas bel udah bunyi?" tanya Tara membuka pembicaraan.
Bian mengangguk, "Iya, tapi belum telat, kok."
"Berarti belum sarapan? Kamu 'kan kalau dateng mepet-mepet gitu suka nggak sarapan dulu,"
Lagi-lagi Bian mengangguk, ia tak mau mengelak untuk yang satu itu.
"Makan yuk, sekalian ngobrol bareng." ajak Tara masih dengan senyuman.
"Lagi nggak pengen makan. Kamu mau ngajak ngobrol, kan? Tunggu sebentar, aku mau ambil sesuatu." Bian lalu masuk ke kelas dan mengambil sebuah paper bag berisi sebuah boneka beruang yang ia beli semalam. Ia sengaja membawanya, takut lupa dan malah tak kunjung sampai ke pemiliknya.
Detak jantung Tara rasanya berpacu lebih cepat sekarang. Apa sudah tepat keputusannya untuk menyinggung sedikit pertunangannya semalam? Selain pikirannya yang masih kacau, hatinya juga masih denial dengan apa yang baru saja terjadi.
Tara tak berharap banyak sekarang. Ia hanya ingin membuat perasaannya lebih lega dengan berkata jujur apa adanya.
"Nih, disimpen ya." Tandas Bian lalu memberikan paper bag yang ia bawa pada Tara.
Gadis itu cukup bingung, rasanya tak punya peringan apa-apa hari ini, tapi Bian justru memberikan sebuah bingkisan padanya.
Sempat terdiam beberapa saat, Tara lalu bertanya untuk siapa paper bag yang ia terima.
"Ini.... Untuk siapa, Bi?" tanya Tara ragu-ragu.
"Aku ngasih ke kamu, kan? Buat siapa lagi kalau bukan buat kamu, Tara."
Tak ada yang bersuara lagi setelahnya, entah mengapa keduanya justru merasa canggung satu sama lain. Hubungan macam apa sebenarnya yang mereka pertahankan? Sebuah tipe hubungan yang sudah hancur namun terus ditambal? Entahlah, apapun itu sepertinya Bian dan Tara masih acuh dan menolak dengan fakta yang ada. Cinta membunuh cara pandang logis keduanya.
Tara membuka paper bag tersebut dan menemukan satu boneka beruang yang nampak lucu disana.
Senyumnya terbit setelah melihat boneka beruang dengan hiasan pita kecil dilehernya.
Tara masih tak tahu apa tujuan Bian memberikannya sebuah boneka disaat ia tak punya momen penting sekarang.
Yang ia rasakan sekarang tak jauh dari kata bahagia dan bersalah diwaktu yang sama. Tara merasa tak pantas menerima hadiah semanis ini dari kekasihnya. Perlu diingat, kejadian semalam sudah tak bisa lagi ia batalkan. Yang harusnya ia lakukan sekarang harusnya menolak hadiah tersebut, tapi hatinya justru menolak untuk itu. Tara masih ingin menerima banyak hal manis dari Bian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biantara | Lee Jeno
Fan-Fiction❝Hidup itu penuh kejutan, nak. Dan dunia nggak pernah nunggu kamu siap untuk nerima semua candaannya.❞ *** Ini tentang sepasang remaja yang berusaha berdamai dengan alur hidupnya. Sabian Pram Kendrick, remaja yang harus kehilangan sosok ayahnya dan...
