23. Bukan Dibawa Lari

82 7 0
                                        

Pagi ini, Tara mengawali harinya dengan kabar dari Bian bahwa ia tak bisa menjemputnya pergi ke sekolah. Tara tak masalah sama sekali dengan hal itu, ia bukan tipe seorang perempuan yang selalu bergantung pada pasangannya. Tanpa berpikir panjang, Tara memilih untuk menaiki angkutan kota untuk pergi ke sekolahnya. Rencananya ini hampir berhasil, sebelum Papa memergokinya lalu menelpon Mahen untuk segera menjemputnya.

Lagi-lagi Mahen harus terlibat dalam setiap langkah yang hendak ia lakukan. Tara bisa apa kalau Papa sudah berbicara? Protes pun percuma, energi nya hanya akan terbuang sia-sia. Lebih baik ia menerima tanpa berpikir lebih jauh lagi untuk kedepannya.

"Kok belum berangkat, dek?" tanya Juan yang sudah siap untuk berangkat ke kampusnya. Katanya, akan ada seminar proposal hari ini. Maklum, mahasiswa tingkat akhir.

"Masih nunggu jemputan," jawab Tara singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia genggam.

Juan hanya mengangguk sebagai respon dari jawaban adiknya.

Tak berselang lama, Mahen tiba di kediaman keluarga Kalingga. Disambut dengan senyum lebar hangat dari kepala keluarga, bahkan sempat ditawari untuk masuk dan sarapan bersama.

Juan yang melihat itupun terheran, dalam benaknya ia berpikir bahwa Tara sudah menerima Mahen sebagai laki-laki yang dipilih Papa untuk masa depannya.

"Tara berangkat," ucap Tara berpamitan dengan Juan dan juga Papa sebelum menaiki motor Mahen untuk segera berangkat ke sekolah.

"Helm-nya, Tar." ucap Mahen memberikan helm pada gadis di belakangnya. Segera Tara mengambil helm itu tanpa memberi respon senyum atau sekedar terimakasih pada pemuda di depannya.

Mahen tak heran, ia pun tak mempermasalahkan bagaimana Tara memperlakukan dirinya. Bagi Mahen, tak penting bagaimana Tara bersikap pada setiap tindakannya, ia hanya berharap jika suatu hari nanti Tara dapat menerima kehadirannya secara utuh tanpa penolakan dan air mata.

Keduanya akhirnya berangkat, meninggalkan area rumah dan mulai bercengkrama dengan jalanan kota. Ditengah bisingnya suara kendaraan di sekitarnya, Mahen membuka pembicaraan.

"Tumben nggak sama Bian, kenapa?" tanya Mahen sebagai permulaan, niatnya hanya sebagai pencari suasana.

"Kepo." jawab Tara irit.

"Lo keren kemaren, bisa handle acara pensi sampe akhir."

"Makasih, tapi bukan cuma gue yang kerja." ujar Tara-- mengakhiri percakapan keduanya sepanjang jalan. Keduanya kembali senyap, Mahen pun memilih untuk diam dan tidak menanyakan apapun lagi. Dari respon Tara sebelumnya, ia tahu bahwa perempuan yang ada di belakangnya tengah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tapi sepertinya Tara akan terus begitu. Bagi Tara, Mahen hanyalah sebuah paksaan, kehadiran sosoknya pun tak pernah ia harapkan, jadi untuk semua respon tak mengenakan yang ia berikan, rasanya wajar-wajar saja.

Lima belas menit perjalanan tak terasa, keduanya kini sudah sampai di sekolah. Hal yang pertama kali Tara lakukan adalah memindai seisi parkiran untuk mencari motor milik Bian disana, namun nihil hasilnya. Apa Bian akan terlambat? Entahlah, Tara tak ingin terlalu memikirkannya hari ini. Ia juga tau, dari kemarin kondisi tubuh Bian memang sudah tidak baik-baik saja. Jadi mungkin akan lebih baik kekasihnya itu beristirahat dan fokus pada pemulihan tubuhnya.

"Tar, kalo butuh bantuan, atau apapun itu, jangan sungkan ngomong ke gue." ucap Mahen memecah keheningan diantara keduanya. Tara hanya mengangguk sebagai balasannya, ia tak mengucapkan sepatah katapun dan langsung masuk menuju ke kelasnya.

Mahen tak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Dia cukup sadar diri, bahwa dirinya hanya sebuah figuran pada hidup Tara, atau bahkan turut mengambil peran antagonis di waktu yang bersamaan? Mahen tak ingin Tara terus menolak kehadirannya, namun juga tak ingin memaksakan kehendaknya. Ia bukan tipe seorang pemuda yang tak peduli dengan keadaan, Mahen adalah sosok yang cukup berhati-hati atas segala keputusannya, dan untuk saat ini sudah paling benar untuk tetap bersikap layaknya teman biasa bagi Tara.

Biantara | Lee Jeno Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang