Sepulang dari mengantar Tara, Bian langsung menuju kamarnya. Mengamati gitar kesayangannya sembari berpikir tentang apa yang baru saja terjadi. Tentang Tara yang nampak begitu bahagia menghabiskan waktunya hanya untuk duduk berdua menikmati indahnya danau di tegah kota.
Angannya kembali berkelana, menemukan banyak topik yang masih sama. Tentang Bian yang masih ragu dengan kata hatinya, tentang bagaimana ia harus bersikap pada kekasihnya, tentang Harsa yang terus menyebut dirinya sebagai budak cinta, dan banyak hal serupa lainnya. Bian masih terlalu labil pada dirinya sendiri. Ia masih memikirkan masalah hidupnya dengan cara yang sulit. Mengulang setiap pertanyaan yang sama tanpa menemukan jawabannya. Semua yang ia rasa memang hanya sementara, namun dapat terulang kapan saja. Meski ia sudah mengungkapkan apa yang ia rasa, Bian masih saja berpikir bahwa Tara akan menjauh dari dirinya. Rasa cemburu memang masih ada dalam dadanya, namun ketakutannya untuk kehilangan Tara jauh lebih besar dari segalanya. Bian jatuh terlalu dalam pada cinta pertamanya.
Tok tok tok
"Bi? Udah dari tadi pulang?" tanya Bagas langsung masuk ke kamar adiknya.
"Barusan sampe, kenapa?" tanya Bian.
"Kata Tara, kamu demam." Bagas mendekati adiknya lalu menempelkan telapak tangan nya pada dahi sang adik.
"Panas, Bi. Kamu telat makan atau salah makan? Atau kenapa?" tanya Bagas berturut-turut.
"Nggak tau. Nggak apa-apa lah ini, demam doang."
"Demam doang gimana maksud mu? Kamu itu kalo demam nya tinggi bisa kejang-kejang, lupa? Siapa yang waktu itu Mas temenin tidur malem-malem karna demam nya gak turun-turun?" omel Bagas sembari membereskan meja Bian yan nampak berantakan. Bagas benar-benar seperti seorang ibu yang cerewet mengomeli anaknya. Biasanya tipe-tipe ibu yang kalau anaknya terkena flu maka alasan nya akan sama 'es teros!'.
"Ganti baju sana! Abis itu rebahan aja istirahat, ga usah main game dulu."
"Mas sok tau, siapa yang mau main game coba."
"Ya kan kamu biasanya gitu, udah sana ganti baju mu itu, bau nya kaya kena kencing kuda."
"Kaya pernah nyium kencing kuda aja."
"Jawab mulu,"
"Ampun paduka raja!" ucap Bian lalu bergegas membawa satu kaus berwarna biru dongker kabur ke kamar mandi.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bian. Setelahnya ia segera turun ke bawah untuk menyiapkan kompresan untuk Bian.
Bagas tau bahwa daya tahan tubuh Bian tak sekuat itu untuk kegiatan yang padat. Oleh karna itu, ia sempat meminta Bian untuk tidak mengambil pekerjaan paruh waktu di waktu senggang nya. Bukan Bagas tak ingin Bian menjadi lelaki yang mandiri, hanya saja ia tau kalau Bian masih belum siap untuk itu. Namun bisa apa dirinya jika Bian tetap memaksa. Ia hanya bisa mendukung dan membantunya, selagi hal itu positif dan merugikan orang lain, Bagas akan dengan senang hati memberikan restu pada adiknya.
Mendengar suara pintu-pintu laci dapur yang terbuka, Bunda keluar dari kamarnya untuk mengecek siapa yang sedang berada di tempat kesayangan nya tersebut.
"Mas?" panggil Bunda sembari menepuk bahu Bagas pelan.
"Kenapa, Bun?" balas Bagas mengalihkan atensinya pada perempuan pemegang kunci surganya.
"Ngapain? Kok ngambil air di baskom gitu? Kamu mau minum pake baskom?"
"Buat ngompres Bian, Bun." jawab Bagas ragu-ragu. Ia takut sang Bunda justru mencegah dirinya untuk merawat sang adik.
"Bian sakit?" tanya Bunda di luar ekspektasi Bagas.
"I-iya,"
"Kenapa? Badannya panas? Anaknya mual muntah nggak?" kali ini pertanyaan Bunda benar-benar membuat Bagas terheran-heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biantara | Lee Jeno
Fan-Fiction❝Hidup itu penuh kejutan, nak. Dan dunia nggak pernah nunggu kamu siap untuk nerima semua candaannya.❞ *** Ini tentang sepasang remaja yang berusaha berdamai dengan alur hidupnya. Sabian Pram Kendrick, remaja yang harus kehilangan sosok ayahnya dan...
