Gelap dan aroma kayu berpadu dengan citrus yang begitu meruak, adalah dua hal yang pertama kali Tara dapati ketika memasuki area kamar Bian yang begitu minim cahaya. Bukan, bukan karna Bian seorang vampir atau seorang manusia jadi-jadian yang anti cahaya. Hanya saja kondisi tubuhnya yang kini tidak tengah baik-baik saja, mengharuskannya untuk beristirahat lebih banyak dari biasanya. Oleh karna itu, ia lebih memilih menutup semua akses cahaya di kamarnya agar netranya bisa segera terpejam dan menuju ke alam mimpi.
Beberapa detik berlalu, Tara masih bergeming, ia hanya memindai seisi kamar Bian yang di dominasi dengan warna beige dan coklat tua, tak jauh berbeda dari beberapa ruangan yang ia lewati sebelumnya. Kamar pemuda itu pun terlihat cukup rapih untuk standar seorang remaja laki-laki. Bahkan Tara bisa dengan mudah membayangkan kamar Mas Juan yang nampak lebih semerawut dari pada kamar kekasihnya.
Setelah puas memandangi seisi kamar kekasihnya, Tara berjalan perlahan menuju bagian nakas tepat di samping ranjang pemuda yang ia berikan cinta pada sosoknya. Netra Tara kembali menangkap sebuah pemandangan indah di hadapannya. Seorang Sabian yang tengah terlelap dalam tidurnya dan nampak begitu teduh dalam pejaman mata. Sekali lagi, Tara mengucap syukur untuk kehadiran Bian dalam hidupnya.
Tangan kiri yang sebelumnya membawa sebuah kantung plastik berisi martabak coklat keju kesukaan kekasihnya, sudah tak lagi menggenggam apapun. Ia letakkan makanan yang ia bawa di nakas berbahan kayu jati yang nampak begitu autentik di matanya. Seperti permintaan Bian yang pertama, Tara membawakan jajanan jalanan kesukaan pemuda yang kini masih sibuk dengan mimpi-mimpi nya. Sedetik berikut nya, Tara memilih untuk mengambil kursi meja belajar yang ia tangkap dari ekor matanya. Ia lantas beralih untuk mengambil kursi tersebut, sebelum akhirnya ia terkejut dengan suara Bian yang menyapa gendang telinganya.
"Tar?" panggil pemuda itu berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Tara yang menyadari namanya di panggil, lantas berbalik untuk segera membantu Bian bangkit dari posisi sebelumnya.
"Tumben, kamu nggak diusir Bunda, kan?" tanya Bian dengan ragu-ragu. Namun rasanya itu sebuah pertanyaan yang aneh bagi Tara. Bagaimana bisa kekasihnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu ketika sudah mendapati Tara di depan matanya. Ah, Tara bahkan sampai lupa kalau pemuda di depannya ini sedang demam tinggi. Jadi wajar saja jika otak nya tak berkerja begitu baik hari ini.
"Menurut kamu, kalo aku udah disini, itu diusir atau nggak?" jawab Tara dengan suara tawa lirih yang membuat pemuda di depannya turut tersenyum bahagia.
"Aku bawa martabak coklat keju. Permintaan pertama kamu street food date, kan? Jadi aku bawain ini buat kamu. Berhubung kamu juga lagi gak enak badan jadi aku aja yang bawain. Nggak usah nolak, itung-itung buat perbaikan gizi selama nggak enak badan." ucap Tara memberi penjelasan masih dengan keadaan berdiri, hal ini membuat Bian harus mendongakkan kepala sedikit untuk memandang wajah kekasihnya lebih jelas lagi. Merasa kesulitan akan hal tersebut, Bian menggeser posisinya lalu mempersilahkan Tara untuk duduk tepat di sebelahnya.
"Padahal yang aku pinginin itu justru hunting banyak jajanan sama kamu," Bian mulai menatap lekat wajah ayu kekasihnya. "Tapi malah kamu yang harus repot-repot dateng kesini sambil bawain makanan itu." sambung nya setelah beberapa saat terdiam menunggu jawaban dari Tara yang nihil adanya.
"Siapa yang repot? Aku? Aku sih nggak ngerasa repot. Kamu kali yang ngerasa repot karna aku jenguk kaya gini."
"Kata siapa itu? Aku nggak pernah bilang gitu." Jawaban Bian yang kembali mengundang gelak tawa dari gadis di sampingnya. Pasalnya sambil mengucapkan kalimat tersebut, wajah Bian nampak panik seakan Tara siap menerkamnya kapan saja.
"Sama siapa kesini?" sebuah pertanyaan sederhana yang membuat Tara seketika membeku. Ia bahkan tak menyiapkan terlebih dahulu untuk sebuah pertanyaan yang cukup krusial bagi hubungan keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biantara | Lee Jeno
Fanfiction❝Hidup itu penuh kejutan, nak. Dan dunia nggak pernah nunggu kamu siap untuk nerima semua candaannya.❞ *** Ini tentang sepasang remaja yang berusaha berdamai dengan alur hidupnya. Sabian Pram Kendrick, remaja yang harus kehilangan sosok ayahnya dan...
