32. Keep This Secret, Please?

97 7 7
                                        

Malam itu, setelah selesai dengan pekerjaannya, Bian memilih untuk menyeduh secangkir teh hangat dengan aroma Jasmine yang menyeruak.

Bian sudah mengecek pesan yang Tara kirimkan sore tadi, ia cukup merasa bersalah karna harus meninggalkan gadis itu sendirian dan sibuk dengan pekerjaannya. Meski begitu, setidaknya ia tahu, lebih baik mengantar Tara pulang daripada mengajaknya ke kafe, tempatnya untuk bekerja paruh waktu.

Suasana malam dengan hembusan angin yang tak terlalu kencang, membuat suhunya pun masih bisa ditoleransi. Dinginnya malam ini tak begitu terasa mengingat Bian masih menggunakan kaus lengan panjang lengkap dengan apron-nya.

Untuk beberapa saat, Bian termenung. Mengingat perkataan Tara tempo hari yang masih terputar dalam benaknya. Tentang Tara yang meminta untuk tak terlalu cinta padanya. Apa maksud gadis itu sebenarnya? Bian rasa, Tara ingin melindungi sesuatu yang siap menyakitinya, kalau benar, apa yang dimaksudnya?

Jika yang Tara takutkan benar-benar tentang sebuah perubahan dimasa depan, Bian akan tetap berusaha mencintainya, sudah jelas. Tapi rasanya kali ini berbeda. Sesuatu itu sepertinya tak akan mampu lagi Bian usahakan, sesuatu yang tak mampu ia ambil alih kemudinya. Sesuatu yang harus Bian biarkan terjadi tanpa bisa apa-apa.

Entahlah, akhir-akhir ini Bian terlalu sering memikirkan hal yang tidak-tidak sepertinya.

"Bi, clossing, yuk!" ajak seorang staff kafe sambil menepuk bahu Bian pelan.

Yang diajak pun langsung bergegas menyetujuinya. Bian mulai membalikkan tanda buka dan membereskan beberapa pekerjaan lainnya. Tak mau tenggelam dalam pikiran negatifnya, ia memilih untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya untuk segera merebah lelah di kasur empuknya.


***

Seperti yang Juan bilang petang tadi, rumah kediaman keluarga Kalingga terlihat ramai dari biasanya. Kata Mama, akan ada acara makan malam keluarga, tapi netra Tara justru menangkap kehadiran beberapa orang asing yang tak pernah ia kenal di rumahnya.

Berbeda dengan Tara yang sibuk mengamati kondisi rumah, Juan masih berdiri diambang pintu masuk menyambut tamu sambil mengamati bagaimana adiknya bingung dengan apa yang terjadi dihadapannya. Setidaknya begitu sampai Mahen masuk kedalam rumahnya dengan kemeja batik yang rapi berwarna biru dongker.

Perasaan Tara yang heran, kini beralih gelisah setelah melihat Mahen datang disaat-saat seperti ini.

"Tar, bantuin Mama naro teh, yuk!" panggil Mama setelah melihat Tara cukup bingung dengan situasi rumah.

Tara lalu segera mengambil alih nampan berisi beberapa cangkir teh untuk dibawa ke meja ruang keluarga. Disana ia melihat seorang pria paruh baya yang sepertinya seumuran dengan sang Papa, dan seorang nenek dengan setelan kebaya simple yang nampak rapi dan elegan. Setelahnya ia paham, kenapa Mama memintanya memakai dress yang cukup rapi malam ini, rupanya tamu yang akan dijamu melakukan hal yang sama.

"Sini, duduk samping Papa!" perintah Kalingga selaku kepala keluarga yang langsung dituruti Tara.

"Aduh... Cantik sekali, ya, calonnya cucu Oma." celetuk seorang nenek yang duduk tepat disamping Mahen. Tara jelas kaget, ia tau bahwa dirinya memang dijodohkan dengan Mahen tapi itu tak mungkin secepat ini, kan, perkenalan antar keluarganya? Tara belum siap, ia bahkan masih berharap akan ada keajaiban untuk membatalkan perjodohannya.

"Pa, jelasin sama Tara, ini sebenernya ada apa?" tanya Tara dengan tatapan penuh tanya pada sang Papa.

"Begini, nak, kedatangan kami kesini untuk mengikat kamu sebagai calon istri Mahen, kalau kata orang, tunangan namanya." ucap seorang yang baru saja memanggil dirinya dengan sebutan Oma.

Biantara | Lee Jeno Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang