"Busettt Dedek gemes."
"Woeee, woeee, woeee ... lihat tuh Dedek gemes, lihat!"
"Apa sih, Af? Berisik tahu nggak!" Excel berdecak mengkal ketika mendengar Afghan tidak berhenti teriak sedari tadi.
Saat ini, Afghan, Excel, dan Ariel masih di parkiran sekolah. Afghan sudah duduk di motor besarnya, dengan Excel di belakang jok nya, dan Ariel duduk di jok motor ninja hitamnya.
Ariel dan Excel sibuk membalas pesan dari deretan pacarnya, sedangkan Afghan sedari tadi menggombali beberapa adik kelas ceweknya, tapi nihil, tidak ada satu pun yang termakan gombalan Afghan. Bahkan banyak dari adik kelas Afghan yang mengatakan kalau mereka tidak tertarik sama sekali dengan Afghan, karena kejametan cowok itu. Tapi tidak masalah, toh suatu hari nanti pasti ada yang mau menerima Afghan dan kejametannya.
Afghan buru-buru turun dari jok motornya, ketika dia melihat Ariel hendak mengangkat pandangannya. Secepat kilat kedua telapak tangan Afghan sempurna menutupi mata Ariel. "Lo nggak boleh lihat, Riel. Ntar beneran lo embat Dedek gemes punya Abang Las."
Ariel menepis tangan Afghan yang menutupi matanya, kemudian cowok itu menempeleng Afghan kuat, membuat Afghan meringis. "Sorry tapi gue udah nggak minat----anjir cakep bener."
Ariel termangu. Dia tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Bagaiman bisa? Sejak kapan? Ariel yang tidak percaya langsung turun dari jok motornya. Dia yang notabenenya playboy cap kodok langsung mendekati Starla yang berjalan ke arahnya.
Dengan tidak punya malu, Ariel menarik pelan tangan Starla menuju Afghan dan Excel. Ariel memutar bahu Starla, menyuruh gadis itu berputar.
"Ini beneran lo?"
"Lo makan berapa ton gula anjir pagi ini?" tanya Ariel dengan raut wajah bingung.
Starla hanya memutar bola matanya malas. Kenapa dia selalu dipertemukan dengan manusia-manusia gila seperti mereka ini.
"Busettt perasaan baru aja bilang nggak minat---"
"Diem lo anak curut!"
"Plagiat."
"Starla, kantin sama gue yuk." Ariel mengedipkan sebelah matanya genit. Cowok itu masih berusaha mendapatkan hati Starla. Bukan untuk dia ajak pacaran, tidak, Ariel tidak ada niatan sama sekali mengajak Starla pacaran. Dalam kamus playboy yang selama ini dia gunakan, tidak tertera merebut pacar atau calon pacar dari temannya sendiri, meskipun cewek itu lebih cantik daripada bidadari sekalipun.
Ariel hanya ingin mengajak Starla sarapan bersama, tidak lebih.
"Perasaan cantik gue," celetuk Excel ketika mengamati penampilan Starla yang berbeda 100 persen dari biasanya.
Bayangkan saja, siapa yang tidak kaget melihat penampilan Starla pagi ini. Starla yang khas dengan rambut dicepol, Kini rambut panjangnya itu dia biarkan tergerai. Starla yang biasanya anti make up, pagi ini sedikit menggores make up ke wajahnya. Seragam Starla yang biasanya selalu dia gulung, kini tidak lagi. Dan jaket kulit warna hitam miliknya juga tidak dia gunakan. Satu lagi, jepit matahari yang kemarin Atlas berikan untuk Starla, pagi ini gadis itu gunakan. Entah habis kejedot apa Starla sampai bisa berubah drastis pagi ini. Benar-benar aneh.
"Ha? Lo bilang apa, Val? Cantik? Ngaca Val, ngaca. Lihat nih Starla cantik banget. Gila gue langsung jatuh cinta," balas Ariel.
Cukup, sudah cukup drama pagi ini. "Minggir!" Starla menyuruh Ariel pergi dari hadapannya. Cewek itu sudah jengah dengan kelakuan teman-teman Atlas.
"Dedek gemes kan udah jadi cewek beneran nih, jadi kalau ngomong juga harus anggunly," kata Afghan yang langsung mendapat dua jempol dari Ariel.
"Bodo, minggir!" Starla tidak peduli. Gadis itu mendorong pelan Ariel yang masih berdiri di depannya, tapi dorongan yang diberikan Starla tidak juga membuat Ariel berpindah tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATLASTA | SELESAI
Teen FictionPart masih lengkap "Ilusi hati yang menipu otak." ••• Ini adalah kisah Atlas dan Starla. Atlas Sagar Alvieto. Ketua OSIS dengan sifat dinginnya yang selalu melindungi Starla Lavena, yang notabennya seorang bad girl. Starla suka memalak golongan kela...
