45. Happy Ending? [Special Part]

4.3K 69 0
                                        

Suasana malam ini cukup indah untuk dirasakan . Dengan semilir angin pantai yang berhembus pelan sesekali memberikan sensasi sejuk dan hangat dalam waktu yang bersamaan.

Airel hanya diam di tempatnya. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan. Pikiran dan hati nya menjelajah entah kemana. Ia takut, takut akan sesuatu yang akan terjadi setelah ini.

Elias, lelaki itu mulai berucap dengan gugup tapi cukup tegas. Sesuatu yang Airel khawatirkan benar-benar terjadi, kalimat itu keluar dari mulut pria dihadapannya saat ini.

"Airel, waktu singkat yang kita habiskan bersama belakangan ini, membuatku merasakan cinta yang sesungguhnya. Aku mencintaimu. Aku ingin mengenalmu lebih dalam, dalam ikatan pernikahan. Apakah kau bersedia?"

Airel diam dengan tangannya yang terus berada dalam genggaman Elias, air matanya perlahan mulai menetes. Ia terharu namun ragu. Tak ingin Elias mengetahui tentang masa lalunya yang menjijikan.

"Elias, aku ..." Kalimat itu terpotong, Airel tak sanggup melanjutkan ucapannya. Bahkan ia masih tak tau jawaban apa yang harus ia berikan.

"Tak apa, aku akan menunggumu hingga kau siap untuk menjawabnya." Ucapan itu diakhiri dengan kecupan singkat pada punggung tangan Airel.

Elias, ia adalah lelaki yang Airel temui dalam perjalanan pulang dari Paris tiga bulan yang lalu. Koper yang tertukar membuat mereka saling mengenal.

Hingga tanpa disadari, keduanya menjadi semakin dekat. Airel menyukai sosok Elias yang menyenangkan, sosok yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada dirinya beberapa tahun belakangan ini.

Namun, dinner romantis yang tiba-tiba saja dilakukan membuat Airel takut, hingga ternyata ketakutannya benar-benar terjadi. Ia dihadapkan pada pilihan ini.

Bukannya Airel tak menyukai Elias, hanya saja ia masih tidak tau apakah perasaannya adalah sesuatu yang mengarah pada pernikahan. Airel tidak ingin menyakiti Elias dengan membuatnya menjadi sosok pelarian dari sosok Arsen.

Dengan Airel yang bahkan masih ragu-ragu, Elias tak menyerah, ia terus berusaha mengejar Airel untuk membuatnya tidak ragu memberikan jawaban "ya" atas pengakuannya hari itu.

Tak hanya mengejar Airel, Elias juga sudah mulai mendekatkan diri dengan keluarga Airel. Arthur sosok yang mudah untuk didekati, tidak seperti ayah lainnya yang biasanya cukup mengekang. Bahkan Aubree benar-benar memperlakukan Elias seperti anaknya.

Kakak kembar Airel, yakni Aidan, cukup ramah bahkan menyambut kedatangan Elias serta mendukung hubungan keduanya, begitu juga dengan Michelle, istri Aidan.

Satu hal yang membuat Elias cukup tertekan adalah Arsen, ia tidak menunjukkan ketertarikan apapun, namun terkadang tatapannya cukup dingin. Yah, Elias hanya berpikir mungkin hubungan Airel dan kembarannya yang satu itu tidak cukup baik.

"Mom, dad, Airel ingin mengumumkan sesuatu."

"Hm, apa itu?" Aubree penasaran.

"Airel akan ..." Airel menjeda omongannya membuat orang-orang disekitarnya semakin penasaran.

"Menikah dengan Elias." Sontak saja kalimat itu membuat semua orang disana sangat terkejut, termasuk Elias sendiri.

Bagaimana tidak, setelah hari pengakuan Elias, Airel belum mengatakan apapun, meski setelahnya kedekatan mereka tetap terjalin.

"Wah, ini kabar yang menggembirakan." Aubree antusias.

Dengan cepat keterkejutan Elias digantikan dengan senyuman kebahagiaan. Mungkin hari ini adalah hari paling bahagia bagi Elias Edoart.

"Jadi, kapan kau akan membawa keluargamu kesini?" Arthur terus terang.

"Secepatnya. Secepatnya aku akan datang bersama keluargaku." Jawab Elias.

Daddy's [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang