43

66 3 0
                                        

Aldra memandang kosong pemandangan rumah sakit dari atas rooftop rumah sakit tempat ia dirawat. Ia biarkan rambutnya acak-acakan tertiup angin yang berhembus kencang. Pikiranya mengudara, memutar kejadian tadi pagi ketika ia digaduhkan dengan kedatangan nenek dari ayah nya. Pasalnya, sejak Aldra memasuki bangku sekolah menengah nenek nya itu tak pernah lagi berkunjung lagipun hubungan keduanya tak baik. Neneknya itu membencinya hanya karena ia anak sambung dari ayahnya dan itu membuat Aldra tidak pernah m

"Bangun sialan!"

"Jangan hanya menghamburkan uang yang anak saya berikan untuk kamu!"  Aldra yang masih lemas itu kontan mendudukkan tubuhnya paksa sebagai reflek keterkejutan nya akan kehadiran Oma nya yang tiba-tiba dan menarik lengannya paksa.

"O-oma?"

"Kenapa kamu masih bersikeras hidup dengan semua yang sudah saya lakukan?!"

"A-apa yang nenek bicarakan?"

"Saya bersikeras membuat hubunganmu dan anak saya semakin merenggang. Saya juga yang menyuruh bi Larsih merawat luka-lukamu dengan memberikan obat pereda nyeri dengan dosis tinggi berharap kamu bisa mati setelahnya. Setelah kamu di hajar habis-habisan saya selalu menaruh obat-obat berbahaya itu ke bi Larsih tanpa sepengetahuan nya. Saya sudah mengotori tangan saya untuk membuatmu lenyap dari dunia dan kamu masih saya bertahan. KENAPAA!!! KENAPA KAMU TIDAK MATI SAJA!!!" Oma menarik kuat kerah baju Aldra sampai ia terhentak-hentak kedepan ke belakang akibat tarikan Omanya.

"Oma? Apa maksud—" Aldra terhenyak, ia tidak menyangka perempuan yang ia hormati sebagai omanya itu tega melakukan hal nekat guna mencelaki nya.

"Saya ingin kamu mati agar putra saya tidak menjatuhkan warisannya kepada anak laki-laki yang bukan darah dagingnya. Saya juga tidak ingin anak saya tertular kesialan yang tak berujung. Saya bahkan tega memungut kembali anak yang saya pikir tidak berguna dan memberi kesialan seperti kamu." Setetes air mata turun dari sudut mata Aldra. Hatinya seolah remuk dan hancur mendengar rentetan kata yang keluar dari kedua bilah bibir ibu dari ayahnya itu. Sakit, sakit sekali rasanya. Kegigihannya dalam bertahan hidup rupanya suatu bencana untuk Omanya. Dan bahkan kematiannya sudah direncanakan Omanya nya itu dengan sedemikian rupa.

"Apa salah Aldra sampai Oma ingin mentiadakan Aldra, Oma?"

"Salah kamu adalah kamu terlahir dari wanita yang anak saya cintai dan membuatnya rela mengorbankan apa saja demi kalian dan bahkan mengancam memutuskan hubungannya dengan saya hanya demi membelamu dan keluarganya."

"IBU!" Dimas muncul di tengah-tengah perbincangan panas itu seraya tangannya mengepal keras, bahkan urat-urat lehernya tercetak jelas. Bahkan kedua matanya sudah muncul kilatan amarah dan emosi yang terpendam terhadap ibunya itu.

"Berani kamu membentak saya, Dimas!" Lain Dimas lain juga ibunya, bukannya menyesali perbuatannya beberapa waktu lalu ia justru nampak tak mau kalah nya mengeluarkan amarahnya.

"Apa yang ibu pikirkan hingga ibu ingin melenyapkan nyawa anak saya!" Masih dengan ledakan emosi yang belum mereda Dimas bertanya dengan intonasi tinggi. Bukan lagi tentang durhaka telah membentak ibu kandungnya sendiri Dimas justru marah dengan perlakuan buruk ibunya terhadap putra tengah nya itu.

"Dia bukan anakmu Dimas!" Bantah cepat ibu Dimas. 

"Aldra anak saya bu, selamanya begitu. Dia keluarga saya punyai yang saya jaga sepenuh hati saya. Tega ibu celakai dengan kejam nya. Kenapa ibu sejahat itu, sampai terbelesit di benak ibu untuk menghabisi nyawa cucu ibu sendiri, bu?" setitik air mata turun perlahan di salah satu sudut matanya. Matanya memerah, hatinya turut sakit teramat sangat mendengar dengan kedua teliganya sendiri niatan buruk ibunya ingin mencelakai putranya.

Angan Impian [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang