Walaupun aku yang dikutuk sementara kamu dirayakan itu tidak akan menjadi masalah besar selagi peluk dan gengaman tanganmu masih bisa aku rasakan.
--------------------------------------------------------------
Pagi ini dimulai dengan kesibukan keluarga kecil Aldraniaz yang menemani Aldra cuci darah. Sang putra tengah terbaring lemas dengan lengan yang penuh akan selang-selang kecil yang tersambung di mesin hemodealis. Kedua netranya masih terus mengamati keluarga nya yang kini utuh menemaninya.
"Masih ada 4 jam lagi loh. Kalian engga bosen?" Tanya Aldra.
"Enggak. Kita mau nemenin kamu di sini, Kak." Sarah turut membenarkan letak selimut Aldra dan senantiasa membelai lengannya mengurangi rasa ngilu akibat tusukan jarum di lengannya.
"Aku nggak papa, mah. Selama ini juga aku terbiasa sendiri, kok. Kalian nggak mau istirahat aja? Aldra tau kalian juga sama capek nya. Apalagi Ayah yang baru kerja lembur trus lanjut jagain Aldra sampai sekarang." Aldra memandang tak enak ke arah Dimas yang sedang menikmati kopinya di sofa bersama Galang. Merasa dirinya turut disebut ia menghampiri putranya sembari mengusap surainya halus tidak ingin menyakiti putranya.
"Ayah oke kok, Kak. Sekarang Kakak istirahat aja ya, nanti Ayah bangunkan kalau sudah selesai." Netranya menatap teduh anak tengahnya itu. Usapannya beralih menuju pelipis putranya memberi rasa nyaman ke anaknya agar empunya segera terlelap.
"Sekarang Ayah usahakan kakak tidak perlu merasa sendirian lagi, ya. Ayah gunakan sebaik-baiknya kesempatan yang Kakak berikan untuk Ayah agar Ayah bisa merawat Kakak lebih baik lagi." Kadang Aldra meruntuki penyakitnya yang membuatnya lebih perasa dan mudah menangis. Terbukti kedua matanya sudah berkaca-kaca saat ayahnya berbicara.
"Ayah!" Runtuk Aldra ketika kedua netranya tak sanggup lagi membendung tangisnya. Wajahnya memerah disertai lengkungan bibirnya keatas menahan tangis. Galang dan Mama yang melihatnya tersenyum gemas dengan kelakuan Aldra. Melihat keduanya menertawakannya Aldra sontak menutup wajahnya malu.
"Sejak kapan adek gue jadi mewek-an gini?" Goda Galang pada adiknya yang masih menutup kedua netranya dengan lengan yang terbebas infus.
"Maa, abang jelek tuh ledekin Aldra terus!" Adunya dengan mengusap matanya yang memerah serta hidungnya yang turut memerah. Dimas yang gemas dengan tingkah Aldra itu membawa jagoannya kedalam pelukan.
"Kalau brie liat tingkah kamu barusan juga pasti ikut ngeledekin kamu, Kak." Mama turut menimpali ucapan Galang.
"Mamaa!" Jadilah Aldra pundung dalam pelukan Dimas yang masih tidak rela melepas pelukan kepada putra tengah nya itu.
Selepasnya dari prosedur melelahkan itu mereka mulai membubarkan diri untuk beristirahat dan kembali ke rumah mereka, menyisakan Sarah yang masih berjaga disana. Aldra anak itu masih tertidur di jam kedua proses cuci darahnya hingga saat ini terhitung 4 jam sudah lamanya ia tertidur. Sarah mengusak rambut legam putranya yang makin memanjang.
"Rambut kakak udah makin panjang nih, waktunya cukur," monolognya sembari menyisir surai putranya dengan jarinya.
Tok tok tok
"Selamat malam, Tante." Sarah terlonjak dengan kedatangan Fara yang tiba-tiba. Fara yang merasa bersalah telah mengejutkan Sarah meminta maaf pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angan Impian [Revisi]
Fiction Générale"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯?" "𝘈𝘳𝘢, 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘯...
![Angan Impian [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/179162682-64-k748406.jpg)