44

40 2 0
                                        

Kalau benar hadirmu adalah sebuah kesialan tak berujung maka akan aku relakan berulang kali semua keberuntunganku demi merengkuhmu.

_______________________________________

Farel masih tidak menyangka dengan kehadiran keduanya siang tadi. Bahkan ia juga belum merencanakan apapun tentang pertemuan mereka seperti yang ia janjikan kepada Sarah. Ia masih sibuk membolak balik lembaran rekam medis Karlo. Sudut hatinya masih belum menerima sepenuhnya keinginan Karl saat memintanya mengikhlaskan nya sedangkan ia sendiri merupakan saksi hidup bagaimana anak itu gigih memerjuangkan kesembuhannya. Dan mulut sialannya lah pula yang mendiagnosa penyakitnya. 

Betapa bengisnya ia saat meminta Sarah menyetujui ide gilanya untuk melakukan donor organ itu. Sedangkan di satu sisi ia tengah dilanda kecemasan saat mengingat seberapa putus asanya Dimas tatkala ia menemuinya sore ini. Lelaki yang Farel ketahui tegas dan berdarah dingin itu menyuruhnya untuk melakukan rekam medis guna mengetahui layak atau tidaknya organnya untuk didonorkan keputranya. Saat itulah pikiran Farel tidak tenang. Ia mulai menyesali profesinya sebagai seorang dokter dimana dikondisi sulit ini Farel dihadapkan dengan berbagai pilihan yang sulit. Satu-persatu perkataan mereka mulai terlintas di kepalanya.

"Tolong saya, dok, segera hetikan semua pengobatan tidak berguna ini. Cukup dengan segala sakit yang selama ini mereka torehkan kepada saya, saya tidak menginginkan kehidupan ini lebih lanjut, dok." Bayangan Karlo yang tengah terisak di ranjang pesakitanya itu terlintas di benak Farel.

"Jangan tunggu sampai saya mati otak dulu baru dokter mau mengambil tindakan."

"Apa dokter pikir dengan saya memberitahukan kondisi saya kedua orang tua saya akan berpaling? Jangan dokter pikir selama ini saya tidak pernah mencoba cara itu, Dok."

Masih terekam jelas diingatan Farel bagaimana anak itu memohon untuk dibebaskan dengan berbagai rasa sakit yang ia punyai namun sedikitpun Farel masih bergeming tak sanggup mengambil tindakan lebih. 

"Rel, selama gue hidup, gue mungkin udah banyak mengambil kebahagiaan dari orang lain dan semua yang gue ambil itu akan berbalik buruk di diri gue sejalan dengan hukum timbal balik atau hukum tabur tuai. Gue sadar, gue bukan orang yang baik, Rel. Tolong bebaskan gue dari rasa bersalah ini dengan menyetujui keputusan yang gue ambil." 

"Gue cuma kepingin anak gue tumbuh bahagia, Rel. Sakit ketika gue sudah berusaha sedemikian rupa mempertahankan dia tapi ibu gue malah mati-matian ingin melenyapkan nya. Gue udah berusaha keras buat mempertahankan dan selalu ibu gue yang menghancurkan. Jadi gue mohon, jangan biarkan kali ini ibu gue menang lagi, Rel."

"Di kehidupan kali ini gue ingin menukar nyawa gue dengan anak gue, Rel."

Selayaknya orang tua yang selalu ingin mengusahakan semuanya demi buah hatinya maka itu pula yang dilakukan Dimas untuk Aldra putra nya. Masih terbayang permintaan tulus itu juga raut muka bersalah, sedih, marah, dan semua hal menyakitkan yang bisa Farel tangkap dikedua netranya begitu teramat menyakitinya. Jujur, Farel ingin marah kepada takdir yang begitu kejamnya mempermainkan mereka. Kedua orang yang begitu berharga untuknya sama-sama meminta nya untuk mengambil keputusan gila dengan menukar nyawa mereka demi keponakannya. 

_____

"ASTAGA KAKAK KEPALA KAMU KENAPA DI PERBAN KAYAK GITU!" Sarah terkejut bukan main, psalnya setelah kedatangan ibu mertuanya itu Aldra masih murung dan izin kepadanya untuk menenangkan diri sebentar. Ia pun juga berpamitan sebentar guna mencuci pakaian kotor Aldra. Sementara Galang masih sekolah dan Dimas masih mengantar ibunya pulang setelah kegaduhan yang di buat pagi ini. Sore harinya setelah Sarah sempat pamit meninggalkan Aldra sendirian guna beristirahat sebentar dan mencuci baju kotor Aldra, Sarah dibuat serangan jantung ringan melihat putranya yang anteng di ruang rawatnya namun dengan keadaan kepala anak itu diperban. Melihat ibunya yang kacau tak membuat Aldra sama kacaunya, ia justru tersenyum polos sembari menampilkan deretan giginya yang rapi. 

"Aman, Ma, cuma luka kecil kok ini. Anak cowok mah segini nggak ada apa-apanya kali, ma." Sarah sudah tidak habis pikir dengan tingkah ajaib anak keduanya itu. 

"Ada apasih, ma, kok ribut-rib--Astagfirullah pala tuyul!" Galang dan Dimas yang baru masuk keruangan itu sontak sama terkejutnya seperti ibunya tadi ketika menemukan kondisi kepala Aldra sudah terlilit perban baru. Jangan tanyakan keadaan Dimas seusai anak pertamanya itu memekik kaget. Ia bahkan hanya bisa diam dan memeluk kedua bahunya sendiri (butterfly hug) sembari memejamkan matanya menenangkan diri dengan gebrakan baru Aldra yang membuatnya pusing. Setelah ia rasa cukup barulah ia tersenyum lembut mengusak rambut Aldra pelan seraya berucap pelan, "Pulangnya diundur minggu depan ya, Kak."

Dimas sudah lemas pasrah saat mengetahui anaknya terluka lagi sedangkan Aldra sudah memekik tidak terima sembari membujuk ayahnya itu untuk merubah keputusannya. "AYAH GA MAU!  KAKAK UDAH MUAK SAMA RUMAH SAKIT INI, ALDRA JUGA UDAH KANGEN BERAT SAMA BRIE!"

"MAMAAAAA BUJUK AYAH, MA!!!!!!" Merasa Ayah dan Mama nya yang masih bergeming ia beralih kepada Galang yang sialnya malah memelototinya, "Apa lo liat-liat gue, lo tuh tinggal diem sebentar ada aja gebrakan nya, dek! Bandel banget heran curiga lo dulu pas dalem kandungan ngidam bekatan deh. Jadi ajaib gini kan kelakuannya."

"Sembarangan aja kamu, bang, Mama gak pernah ya aneh-aneh ngidamnya emang dari anaknya aja udah aneh settingannya makanya bandel banget." Sarah menyahut tidak terima dan semakin menyudutkan Aldra.

Farel yang sedang mumet itu kebetulan lewat di ruang rawat keponakannya itu. Betapa terkejutnya ia saat Aldra memeluknya dari depan. "Please... bolehin Al pulang yaa, Om." Binar mata Aldra yang tengah memohon itu adalah kelemahan terbesar Farel, meskipun bertentangan dengan logikanya Farel mengangguk setuju. 

"Siap-siap packing aja besok pagi kamu boleh pulang, tapi jangan sampai lupa minum obat, rajin kontrol, dan selalu jaga pola makan ya, nak." Kalimat-kalimat tadi seolah meluncur dengan lancarnya tanpa bisa ia kendalikan. Farel tahu kini dirinya menjadi pusat perhatian. Dimana seluruh keluarga itu menatapnya tajam dan bahaya mengintainya sebentar lagi.

"OM!/FAREL!" teriak mereka bertiga serentak sembari memelotot tidak terima. Sedang Aldra sedang merayakan kemenangannya dengan menjulurkan lidahnya kearah Galang.

siapa suruh orang pusing malah dibikin tambah pusing.

---------------------

Karl masih memeluk lututnya seorang diri. Di sudut ruangan itu ia meraung merasakan sakit yang teramat pada kepalanya bahkan setetes cairan merah pekat turun mengotori kerah bajunya dan sebagian wajahnya.

"Sakit, semua sakit, tolong bunuh Karl sekarang juga." Jauh di dalam benaknya Karl amat menginginkan kebebasan. Semakin lama ia semakin disadarkan bahwasannya di kehidupannya, kebahagiaan datang dengan porsi yang tidak adil. Ia juga bingung mengapa ia mau terlahir kedunia setelah ditanya berulang kali. Satu-satunya sumber kebahagiaannya sudah terlebih dulu diambil oleh Yang Maha Kuasa--Neneknya.  

Neneknya yang selama ini menggantikan semua peran yang rumpang di hidup Karl. Disaat lainnya sibuk menghakimi asal-usulnya yang merupakan anak diluar pernikahan jutru neneknya lah yang mengasuhnya seorang diri dengan penuh kasih sayang, terlebih setelah ditinggalkan kakek terlebih dulu ke pangkuan Tuhan. Awalnya Karl sendiri tidak tahu siapa orang tuanya, seperti apa rupanya, bagaimana bentuk tubuhnya, dan seperti apa kehidupn mereka tanpa dirinya. Namun, ketika usiny menginjak ke-12 tahun ia baru mendapati fakta bahwa kedua orang tuanya masih mempertahankan pernikahan mereka dan dikaruniai anak lagi perempuan yang bernama Namira, adik kandungnya yang hanya berselisih 3 tahun darinya. 

Seolah dari awal ia hanya dilahirkan kedunia untuk dibuang dan diasingkan dari kehidupan mereka, setelah tepat di 100 hari meninggalnya sang Nenek ia baru berani menginjakkan kakinya kerumah yang seharusnya sudah lama ia tempati bersama keluarga kandungnya. Namun, meski begitu penolakan demi penolakan seolah menyadarkan kan kehadiran Karl yang tidak seharusnya berada di sana. 

Meski kehadirannya sempat ditentang oleh mereka namun ayahnya masih memiliki simpati dengan menaungi putra pertamanya itu dan memberikan kehidupan yang layak. Mereka penuhi semua kebutuhan Karl tanpa terkecuali, namun tetap saja penolakan itu tetap Karl rasakan. Sosoknya menjelma sebagi mahluk tak kasat mata di depan keluarganya sendiri. Dan sampai saat ini ketika kondisinya semakin memburuk pintu hati keluarganya masih sama dinginnya seperti saat pertama kali ia memperkenalkan diri sebagai putra sulung mereka. 

Bunuh Karl sekarang juga, Karl mohon.

TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 6 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Angan Impian [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang