Sore hari ditemani rintik gerimis hujan merupakan suatu kombinasi paling syahdu. Ditemani secangkir kopi yang asapnya masih mengepul serta gorengan buatan ibu menambah kenikmatan saat menyaksikannya. Namun bagi seorang yang tengah dilanda kebosanan di ruang rawat inapnya hanya bisa melihat derasnya rintik hujan dibalik jendela kamar sembari mengayunkan kakinya kebosanan. Kondisi yang memburuk dan sering drop mendadak membuatnya harus bersabar dikurung di ruangan serba putih untuk waktu yang lama.
Aldra sejenak menyesali perbuatannya kemarin yang terlalu memaksakan tubuhnnya. Dikarenakan ulahnya kemarin ia harus meruntuki hari-harinya di rumah sakit ini. Tiada guna bernego dengan mama atau dokter Devan keduanya teguh mempertahankan keputusan mereka.
"Mama sama dokter kamu itu mau yang terbaik buat kamu, Kak." Ketika kalimat itu meluncur maka pupuslah sudah semua angan-angan Aldra untuk kembali pada rutinitas hariannya.
"Sore gini enaknya dibuat nongkrong di angkringan bareng ayang." Abang dengan jahilnya muncul dengan seloroh nya menambah tingkat kekesalan yang ada dalam dirinya. Matanya menyorot si pelaku yang membuat dirinya naik darah sementara empunya malah sibuk cengengesan.
"Yaampun seremnyaaaa. Abang takuttt." Galang beranjak dari sofa tempatnya goleran menuju ke ranjang adiknya.
"Gak lucu tau, bang." Aldra menggurutu kesal. Melihat adiknya yang tampak murung itu membuat Galang merasa bersalah.
"Abang tahu kamu tersiksa banget diem-dieman gini tapi bawa kamu keliling RS juga bukan opsi yang bagus untuk saat ini." Galang menjelaskan dengan raut bersalah.
"Iya tahu, kalau gak gara-gara lagi masa pemantauan udah dari tadi aku kabur naik ojek online."
"Eh, mulutnya ya!"
"Ya abis... Kebosanan tahu nggak!"
"Yang sabar atuh... Dijalani dulu ya? Setelah cuci darah kita jalan-jalan lagi."
"Aldra pengen pacaran aja sama Ara seharian."
"Dih, bocil puber ngebet banget pacaran. Kebelet nge langkahin gue nikah lo?"
"Emang iya. Bawaannya kalau udah sama Fara tuh pengen nikaaahhhh aja, bang. Abang mana tahu pacar aja gak punya."
Galang bawaannya ingin tanding tinju setiap kali berbicara dengan adiknya. Kesabaran Galang yang setipis kripik kaca ini rasa-rasanya sudah tidak mengatasi bila dihadapkan mulut kematian milik adik-adiknya. Namun takdir baik sebagai sulung yang ia sandang membuatnya menjadi mahkluk yang dipaksa tebal stok sabar.
"Adekkkk?!"
"Abang, Kakak," relai Sarah sembari menenteng dia cup kopi yang ia beli dari coffeeshop seberang.
"Ma, kakak boleh gak ya ngelangkahin abang nikah?" Pertanyaan sembrono yang keluar dari mulut Aldra itu membuat Sarah yang baru datang diserang migrain tiba-tiba.
"Kak... Kenapa tanya itu coba?" Walaupun dianugrai anak-anak yang luar biasa ajaibnya namun Sarah tetap bahagia memiliki mereka dalam hidupnya.
"Kakak pengen pacaran sama Ara terus abang dari tadi syirik bilang kalau bocil puber, padahal kan kakak udah besar buktinya bulan depan udah dapet KTP udah sah kalau mau menikah soalnya udah gak underage, iya kan mah?"
"Abang, tadi kamu mau marah sama Kakak kan? Marah aja, nak, mama gak akan ganggu." Pada akhirnya Sarah menyerah. Aldra yang saat ini adalah versi ter-ajib yang tidak mudah Sarah kendalikan.
"Mama?!" Kesal Aldra tidak terima diseberang sudah ada Galang yang tertawa kegirangan.
"Udah-udah jangan bahas itu lagi. Mama pusing dengernya, nak. Kamu itu walaupun mau legal dalam segi hukum tapi kamu belum matang dalam berfikir dan mengambil keputusan. Belum siap mental dan fisik, finansial apa lagi, mau di kasih makan apa istri anakmu nanti?" Jelas Sarah pada akhirnya agar harapan menggebu-gebu dari sang anak tidak terlalu membara.
"Tuh dengerin," imbuh Galang sembari menyeruput kopi miliknya.
"Btw, kopinya enak, ma. Aromanya kuat banget apalagi ada ekstrak cengkehnya sama... Aa.... Jahe, iya ini ada wangi jahenya dikit-dikit," komentar Galang setelah mencicipi kopi pemberian mama.
"Mama kira abang bakalan gak suka, syukur kalau abang suka. Ini bagus banget buat pernafasan, bang. Campurannya itu loh bikin anget di dada."
"Masak sih? Aldra boleh coba?"
"Eh... Kakak gak boleh kan mau cuci darah."
"Yaaahhhh...." Hela napas Aldra yang dibuat-buat. Ia hanya berniat menggoda keduanya. Ia suka bagaimana wajah bersalah dan tidak enak itu muncul.
"Hahaha... Abang sama mama lucu banget ya ampun."
"Suka banget ya jailin abang sama mamanya?"
"Iya dong."
***
"Aldra tuh kemana sih?! Gak ada kabar, surat ijin sakit, didatangin di rumah gak ada orang, lebih nya lagi nih temen-temennya gak pada tahu lagi. Dia tuh udah mau kelas 12 masak kebiasaan buruknya gak berubah-ubah. Masih aja suka bolos, tawuran, balapan. Pokoknya mumet banget gue sama dia," curhat Fara kepada temannya, Kinara di kantin sore itu seusai kegiatan ekstrakurikuler.
"Yang sabar ya, Far. Dari awal kan lo udah mau nerima konsekuensi dari hubungan ini." Kinara mengeratkan ransel sembari menunggu Fara berkemas.
"Iya sih tapi tuh... Lupakan! Tambah mumet tau nggak kalau diungkit-ungkit lagi. Lo sama kak Pasha gitu juga nggak sih?"
"Iya sih, tapi dia selalu bilang mau kemana atau lagi apa kalau memang perlu, oh gue baru inget, sama satu lagi yang pengen gue kasih tahu sama lo, akhir-akhir ini tuh geng nya belati lagi gak baik-baik aja. Kak Aldra lagi mutusin pergantian ketua padahal masih belum waktunya. Dia pengen pergantian secepatnya secara tiba-tiba tentu hal itu jadi perdebatan antar anggota. Bahkan sampai mereka terpecah jadi dua kubu. Kubu yang mendukung keputusan kak Aldra yang dianggap sebagai pematangan awal calon ketua dan kubu yang menolak keputusan kak Aldra karena dinilai terlalu terburu-buru dan kurang efisien," terang Kinara menjelaskan inti masalah yang dihadapi Aldra dan anggota belati lainnya.
"Masalah serumit itu kenapa dia gak mau cerita ke gue?"
"Positif thinking aja dulu, Ra. Kak Aldra emang orang nya gitu. Gue aja diceritain sama kak Pasha bukan dari orangnya sendiri. Masalah ini hanya diketahui oleh anggota belati aja."
"Tapi setidaknya dia bisa bagi ke gue, Ra. Gue ini sebenernya apa sih buat dia? Kenapa dia selalu nyimpan semuanya sendiri? Kenapa harus orang lain yang kasih kabar nya ke gue kenapa gak dia langsung? Apa gue gak seberarti itu ya?" Fara menatap kosong rintik hujan yang tinggal menunggu redanya.
Apakah pada akhir nya hubungannya dan Aldra akan turut reda seperti hujan yang ia tatap sore ini?
Hujan yang turun begitu derasnya saat cuaca sedang teriknya seolah menawarkan kesejukan setelah dihajar panas terik yang menyengat. Hujan yang awal nya Fara kira mendatangkan pelangi sebagaimana cerita yang ia baca menawarkan ending yang membahagiakan namun hujan yang ia nikmati sore ini hanyalah hujan badai yang membuat menggenangnya air, merusak pepohonan yang tinggi, dan membuat mengotori jalanan dengan sampah selokan yang terbawa arus air.
"Aduh, Far... Jangan sedih gitu dong. Lo tahu sendiri tabiat kak Aldra gimana. Dia kesulitan terbuka sama orang lain. Kinara menjeda ucapannya. Lo berarti buat dia, Far. Orang gila macam apa yang nunggu selama bertahun-tahun buat orang yang berarti buat dia. Dia nunggu lo bertahun-tahun lamanya dan gue yakin dia sesayang itu sama lo makanya dia gak mau lo kepikiran sama masalahnya." Sebisa mungkin sebagi teman Kinara akan menenangkan Fara.
"Makasih ya, Ra. Udah nenangin gue."
"Anytime, Fara."
TBC
Maaf untuk semua kekhilafan aku dalam pengerjaan book ini, para readers🙏💐.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angan Impian [Revisi]
Fiksi Umum"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯?" "𝘈𝘳𝘢, 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘯...
![Angan Impian [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/179162682-64-k748406.jpg)