Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Akhirnya lega bisa solo. Gak apa-apa dah hanya karna nonton bo**p gue bisa keluar banyak, yang penting hasrat tersalurkan. Lagian kalo maksa bini juga kasihan, apalagi masih sakit. Lebih baik nyolo dari pada bikin bini tambah sakit"gumam Abian dengan membalut tubuhnya menggunakan handuk.
Dia keluar dari kamar mandi lalu melenggang menuju walk in closet mengambil pakaiannya, setelahnya dia melangkah menuju meja rias untuk menambah tampilannya.
"Ganteng juga gue meski udah tua umurnya. Tapi lumayan juga kalo diliat-liat"ucapnya dengan memegang dagunya yang ditumbuhi bulu halus seraya melihat bayangannya sendiri dicermin meja rias.
"Hufh... Buat apa ganteng sampai tua kalo pada akhirnya aku harus kehilangan kamu sayang. Gak boleh terjadi! Karna yang aku harapkan kita selalu sama-sama sampai tua. Aku berharap semoga bisa mendapatkan donor ginjal yang cocok untuk kamu dan kamu bisa operasi. Aku juga berharap kita akan terus bersama selamanya sesuai janji kita" lanjutnya seraya menetap foto diatas meja rias milik Atifa yang dia ambil saat mereka tengah liburan dipantai bersama.
Selesai mandi selama hampir 1 jam lebih, Abian segera menghampiri kedua orang tuanya dilantai bawah, entah apa yang akan mereka bahas sehingga mereka datang tanpa mengabari terlebih dahulu.
"Assalamualaikum Bund, Yah"ucap Abian seraya menyalami kedua mertuanya.
"Wa'alaikumussalam Bian"jawab mereka lalu Abian duduk di samping Atifa.
"Kenapa lama sekali Pi mandinya? Tumben sekali?"tanya Abra seraya menyeruput es cendol di plastik yang dia pegang.
"Ya mandilah. Ngapain lagi kalo dikamar mandi kalo bukan mandi?"jawab Abian dengan bertanya sedikit menyolot. Mana mungkin dia jujur didepan anaknya jika dia menyolo didalam kamar mandi.
"Biasa aja kali Pi. Abra kan tanya baik-baik dan sopan santun terhadap my Papi, kenapa malah Papi ngegas kaya dikejar anjing"ucap Abra mendapatkan lemparan bantal sofa diwajahnya oleh Abian.
"Mulutmu mau Papi lakban sekarang?"tanya Abian dengan manatap putra bungsunya sinis.
"Ya enggak lah. Ya kali Abra mau mulut Abra dilakban, nanti Abra makan pake apa dong"tanya Abra.
"Pake tangan lah, ya kali pake kaki"jawab Abian sekenanya.
"Kalo bisa pake kaki ya oke-oke aja. Tapi masalahnya Abra gak bisa pake kaki, jadi Papi harus suapin Abra"ucap Abra membuat Abian memutar bola matanya.
"Ogah. Lebih baik Papi suapin Moci dari pada menyuapimu"jawab Abian santai dengan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
Abra yang mendengar jawaban Papinya itu memajukan bibirnya lucu, dia berakting semelas mungkin didepan Maminya agar bisa membelanya.
"Udah-udah, ributnya dilanjutkan aja nanti, sekarang berikan waktu untuk Opa bicara"ucap Atifa melerai pertengkaran antara Papi dan anak itu.
"Sudah berkumpul semua kan. Jadi Ayah akan membahas soal keberangkatakan kalian ke Turki besok"ucapan Teguh membuat mereka semua membulatkan mata terkejut.