Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mengantarkan Amara ke sekolahnya, kini giliran Aiden yang Abian antar. Meski sudah hampir SMA, Abian belum bisa melepas putra sulungnya itu mengendarai motor sendiri, biarlah nanti saat mulai masuk SMA kelas 11 dia baru akan melepas Aiden membawa motor sendiri.
Abian paham saat putranya itu meminta izin padanya untuk membawa motor sendiri kesekolah, tapi usianya belumlah matang dan yang sangat dikhawatirkan adalah cara berkendara Aiden yang belum bisa mengendalikan kecepatan berkendara jika dijalan raya dan orang lain yang kadang ugal-ugalan, membuatnya dan Atifa kadang khawatir.
Pernah Aiden berkata padanya, jika dia iri dan kesal pada teman-temannya yang mengendarai motor sendiri kesekolah tanpa harus antar jemput seperti dirinya, dan dia juga pernah diledek dengan sebutan anak manja, atau anak Papi karna selama ini Aiden selalu diantar jemput oleh Papinya.
Namun, Abian dan Atifa kembali memberikan pengertian dan nasihat apapun agar Aiden mau mengerti dan kembali seperti sebelumnya yang tetap tenang meski banyak yang mengejeknya jika Atifa bukan Mami kandungnya.
"Ai. Jangan dengerin omongan gak baik orang ya, Papi dan Mami tau keinginan Ai yang pengin bawa motor sendiri ke sekolah, tapi Ai ingatkan pesan Mami kemarin, kalo polisi sekarang itu mengincarnya anak sekolahan. Ai bisa lihat sebelah sana"ucap Abian menunjuk kearah beberapa polisi yang menghentikan anak sekolah dan semunya rata-rata anak SMP.
"Semuanya punya seragam kaya Ai gini, seragam biru putih. Lihat mereka, mereka menangis pada polisi untuk dibebaskan karna telah melanggar aturan yang seharusnya tak mereka lakukan, mereka masih dibawah umur kaya Ai, dan mereka berani bawa motor sendiri demi gaya-gayaan, tapi mereka entah tidak tau atau lupa, jika peraturan tidak dapat diubah meski kalian semua demo dan itu semua demi keselamatan kalian sendiri"lanjut Abian membuat Aiden merasa bersalah pada Papinya.
"Maafin Aiden Pi. Aiden sadar kalo Ai salah, jujur Ai memang belum bisa dan berani bawa motor sendiri. Tapi Ai merasa kesal sama temen-temen Ai yang ngatain Ai anak manja, anak Papi, kemana-mana selalu diantar jemput sama Papi atau Mami, Ai gak suka dikatain begitu apalagi sampai bawa-bawa kalian. Maafin AI Pi, Ai gak akan ulangi lagi dan Ai akan nurut sama keputusan Papi dan Mami, karna Ai tau keputusan kalian adalah yang terbaik untuk Aiden. Ai sayang Papi"jawab Aiden langsung memeluk lengan Abian yang sibuk menyetir.
Abian tersenyum mendengar penuturan putranya, anaknya sudah semakin dewasa ternyata dan putranya tidak pernah berubah sama sekali, selalu menjadikannya prioritas utama untuk putranya. Rasanya tak pernah Abian bayangkan jika kini putranya sudah besar, Aiden kecilnya yang dulu selalu menyambut dirinya pulang kerja dengan meminta mainan atau coklat, kini anak itu sudah besar menjadi Aiden yang begitu manis dan pintar.
"Papi maafin Ai, dan Papi tak pernah marah sama Ai, tapi kecewa. Kecuali Ai melewati batas kesopanan Ai lagi, baru Papi akan marah sama Ai"jawab Abian dengan mengusap rambut lebat putranya.
Batas kesopanan yang dimaksud Abian adalah dimana waktu Aiden membentak Atifa hingga membanting benda apa saja yang ada didekatnya, bahkan pernah mendorongnya, insiden Aiden membenci Atifa karna hasutan seseorang membuat dirinya benar-benar kecewa pada putra sulungnya.