Senin pagi. Hari di mana siswa-siswi SMA Lentera Bangsa kembali memulai rutinitasnya. Bukan hanya mereka, para guru dan staf juga mulai sibuk menjalankan tugas masing-masing.
Di antara hiruk-pikuk pagi itu, seorang siswi berjalan perlahan menyusuri area sekolah—Starla.
Matanya mengamati setiap sudut bangunan yang begitu ia rindukan. Dua minggu lamanya sejak libur semester, dan hari ini ia akhirnya kembali menapaki tempat favoritnya—sekolah.
Koridor mulai ramai. Kelas-kelas dipenuhi tawa dan langkah tergesa. Kantor guru sudah terisi, dan ruang OSIS sibuk oleh para petugas upacara yang bersiap menjalankan tugas perdana mereka.
Bagi murid seperti Starla, suasana ini selalu punya tempat istimewa di hati, terutama keberadaan perpustakaan.
Tanpa ragu, Starla melangkah menuju ruang perpustakaan yang hari ini dibuka lebih awal dari biasanya. Wajar saja, hari pertama sekolah memang selalu istimewa. Kalau hari biasa? Biasanya baru buka jam delapan.
"Starla," Panggil seseorang yang entah dari mana asalnya. Starla menoleh kesana kemari mencari seseorang tersebut.
"Woy, gue disini." Belva sengaja mengeraskan suara ke arah Starla yang tampak kebingungan.
Belva adalah sahabat Starla sejak SMP—bahkan lebih dari sekadar sahabat. Mereka sudah seperti saudara. Ke mana pun pergi, selalu bersama. Lengketnya sudah kayak perangko, susah dipisahkan.
Entah kebetulan atau memang semesta sedang berbaik hati, mereka dipertemukan lagi di SMA yang sama setelah lulus dari sekolah sebelumnya.
Pagi itu, Belva mendekati Starla dengan senyum cerah khasnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung menggandeng tangan sahabatnya itu, lalu menariknya pelan, seolah ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat.
"Sakit tangan gue, bangsat." Starla melepas paksa genggaman Belva dari pergelangan tangannya.
"Eh? Lo kok udah bisa ngumpat? Kursus dimana?" Tanya Belva, memasang ekspresi julid di depan Starla.
Gak salah juga sih kalau Belva nanya. Soalnya, seumur hidupnya berteman sama Starla, belum pernah sekalipun dia dengar cewek itu ngeluarin kata-kata kotor, apalagi sampai ngumpat. Starla itu ibarat punya kamus pribadi berisi tutur kata yang baik dan sopan.
Eh, tapi baru libur dua minggu, gaya bicaranya udah kayak orang yang lupa pelajaran PPKn bab etika berbahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Saking gak biasanya, Belva sampai mikir, Ini anak ketularan gue kali, ya?
Dan dari situ, bisa disimpulkan satu hal penting. Sekolah tuh emang segalanya buat seorang Starla. Bukan cuma buat belajar, tapi juga buat menjaga keseimbangan moral dan mental.
"Apasih, masa gitu doang pake kursus?"
Starla mengerutkan dahi sambil memijat-mijat kecil tangannya yang masih terasa nyeri.
Belva yang sedari tadi merhatiin Starla kayak nahan sakit di bagian jari kanannya langsung bertanya, "Tangan lo kenapa?"
"Jari gue."
"Iya, jari lo kenapa?"
"Kejepit pintu minimarket semalem."
"Kok bisa?"
"Iya, jadi–"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Starla dikejutkan oleh kehadiran sosok cewek yang tiba-tiba lewat di samping dia. Wajahnya seperti tidak asing buat Starla. "Tunggu!"
Cewek yang selangkah melewati Starla itu, otomatis menghentikan langkahnya dan menoleh, "Apa?"
"Lo yang bikin jari gue kejepit semalem, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
RandomBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)