6. RUANG BK

1K 49 0
                                        

Sinar matahari yang cerah dan hembusan angin sepoi-sepoi pagi itu seperti mendukung semangat seorang sekretaris OSIS yang sedang berseri-seri—Starla.

Hari ini, ia mendapat tugas membacakan hasil pemilihan ketua OSIS yang telah berlangsung Rabu lalu. Mengenakan jas OSIS kebanggaannya, Starla melangkah ringan menyusuri koridor sekolah yang mulai lenggang. Ia menyapa hangat beberapa siswa yang dilewatinya, senyum ramah tak lepas dari wajahnya.

Suasana koridor yang tenang memberi ruang untuk pikirannya yang penuh antusiasme. Kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai lima belas menit lagi, dan Starla sudah tak sabar menyambutnya.

Namun semua semangat itu mendadak lenyap begitu saja.

Saat memasuki kelas XI MIPA 2, langkah Starla melambat. Tatapan aneh dari hampir seluruh teman sekelas langsung menyambut kedatangannya. Mata-mata penuh bisik dan sorot tidak nyaman menusuk seperti jarum.

Kecuali satu orang. Elsa.

Gadis itu duduk tenang di bangkunya, sibuk dengan ponsel di tangan. Ia tak menoleh, tak menyapa, bahkan tak melirik sedikit pun ke arah Starla.

"Elsa," panggil Starla.

"Apa?"

"Ini orang-orang kok pada aneh ya, apa cuma perasaan gue doang?" Elsa menaruh benda yang dia mainkan di atas meja.

"Gak perasaan lo doang sih, gue juga," balas Elsa.

"Nah kan, lo juga ngerasa?" Elsa mengangguk, lalu sorot matanya lurus ke arah Starla.

"Keknya gara-gara kemarin deh, Star," ujar Elsa, membuat Starla kembali mengingat kejadian hari itu. "Soal lo nolong Alexa, dari yang gue tangkep sih, itu penyebabnya." tambahnya.

Starla semakin mengerutkan dahi.
Wait... kenapa orang-orang kayak pada gak suka sama Alexa? batinnya mulai bertanya-tanya. Tapi makin lama, ia justru sadar, bukan Alexa yang mereka lihat aneh. Tapi gue.

Sorot mata itu... bukan sekadar tatapan bingung. Tapi tatapan penuh penilaian. Penuh bisik-bisik di balik tangan, penuh ekspresi seolah-olah Starla telah melakukan dosa besar hanya karena berani menolong sang langganan BK.

Ada yang sengaja batuk kecil disertai lirikan sinis. Ada pula yang pura-pura ngobrol sambil melirik tajam, dan sisanya memilih diam tapi dengan wajah seolah berkata, "Kenapa lo bela dia, Star?"

Starla menatap lurus ke depan. Menahan setiap bisik yang menyusup ke telinga, menahan gejolak yang menghanguskan rasa nyaman.
Padahal, Starla hanya tidak mempunyai hati untuk melihat seseorang babak belur ditinggalkan begitu saja. Apa itu salah?

"Kan gue cuma nolong, apa salahnya?" Untuk kedua kalinya, Starla menanyakan hal yang sama seperti yang dia tanyakan pada Belva waktu itu. "Lagian udah dua hari lalu kejadiannya."

"Ya, kan, Alexa..." Ujar Elsa ragu, antara melanjutkan kalimatnya atau tidak.

"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Zia, berhasil memotong pembicaraan antara Starla dan Elsa. "Silahkan keluarkan buku matematika kalian, karena pelajaran akan segera kita mulai."

Seluruh siswa kelas XI MIPA 2 dengan cepat mengeluarkan buku matematika dari tas mereka masing-masing.

"Kapan-kapan aja gue cerita," ujar Elsa kepada Starla. Starla menggangguk, sedikit tidak rela dengan waktu pembicaraannya yang terpotong. Karena Starla sebegitu inginnya tau kebenaran tentang sosok Alexa, perempuan paling dingin, egois, dan arogan se-SMA Lentera Bangsa.

.

Sebelum bel masuk berbunyi, Starla akhirnya membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar tanpa henti. Layar menampilkan puluhan notifikasi dari berbagai grup, termasuk grup OSIS yang paling aktif pagi ini.

BAD LOVER [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang