Pagi ini, langkah Alexa tergesa. Bukan menuju kelas, melainkan ke arah belakang sekolah—tempat yang kini seolah menjadi pelariannya dari rutinitas belajar yang tak pernah benar-benar ia ikuti.
Seperti kemarin, mata pelajaran pertama yang ia hindari adalah Fisika. Bukan hanya Fisika, tapi juga Matematika dan pelajaran-pelajaran lain yang menurutnya hanya menambah sesak hidup. Bolos kelas sudah menjadi kebiasaan Alexa. Ia melakukannya nyaris setiap hari, hanya saja waktunya selalu berubah, sesuai mood dan kadar kesabaran yang ia punya hari itu.
BK sudah sering melayangkan teguran keras. Tapi untuk Alexa, semua itu tak pernah cukup memberi efek jera. Reputasinya sebagai "bad girl" di sekolah sudah terbentuk begitu kuat, tak tergoyahkan bahkan oleh ancaman skorsing sekalipun.
Kali ini, ia tidak sendiri. Ada seseorang yang berjalan bersamanya—teman satu geng, sekaligus rekan sefrekuensi yang sama-sama enggan tunduk pada aturan. Jovanka Keanu Winata.
Jovanka, atau akrab disapa Jovan, adalah salah satu anggota geng Atlantis yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama dengan Alexa. Berbeda dari Alexa yang masih punya tante sebagai satu-satunya keluarga, Jovan hidup benar-benar sebatang kara. Sejak umur enam tahun, ia sudah ditinggalkan kedua orang tuanya dan menjalani hari-hari sebagai anak yang tak mendapat tuntunan.
Meski keduanya sama-sama duduk di kelas dua belas, jurusan mereka berbeda. Jovan berada di kelas XII IPS 3.
“Sa, sini,” ujar Jovan sambil melirik kanan kiri, memastikan situasi di sekitar cukup aman. Aman untuk kabur, aman untuk ngumpet, dan yang paling penting, aman untuk melanggar aturan.
Alexa segera menghampiri, menyandang tas ranselnya dengan satu tangan, lalu memanjat dinding sekolah bersama Jovan. Dalam hitungan detik, keduanya sudah lenyap dari radar pengawasan guru dan staf sekolah.
Tempat persembunyian mereka cukup familiar. Di balik dinding belakang sekolah terbentang hamparan sawah yang tak luas, tapi cukup menenangkan. Angin sejuk yang berembus dari arah ladang membuat tempat itu terasa seperti zona bebas. Untungnya, petugas kebersihan selalu menjaga tempat itu tetap rapi, sehingga nyaman untuk dijadikan markas kecil bagi dua siswa berandalan ini.
“Capek gue, cok,” keluh Alexa, duduk sembarangan sambil mengatur napas. Jovan hanya menanggapinya dengan pandangan malas.
“Lo tumben gak ikut kelas?” tanya Jovan. Alexa menghela napas, lalu bersandar lebih santai di sebelah cowok itu.
“Gue tiap hari juga gini kali,” ujarnya. “Gimana semuanya, aman kan?”
“Harusnya sih, aman,” balas Jovan, meski terdengar ragu. Tatapan tajam Alexa membuatnya segera menambahkan, “Aman, Sa.”
Hening sejenak. Tapi tidak dengan pikiran Alexa.
Tanpa aba-aba, ingatannya terlempar ke malam yang belum lama ia lalui. Malam saat dirinya berbicara dengan Sella, orang yang kini menggantikan posisinya sebagai ketua geng sementara waktu.
Namun yang menggema di kepalanya bukan suara Sella, melainkan teriakan asing yang muncul di tengah sambungan telepon itu. Sebuah suara yang membuat pikirannya tak tenang hingga kini.
“Lo ngerasa ada yang aneh nggak?” tanyanya mendadak. Jovan menggeleng pelan.
“Aneh gimana?”
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
RawakBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)