Broken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
Sudah hampir tengah malam, tapi Alexa belum juga meletakkan ponselnya. Sejak tadi, layar benda itu terus dipenuhi notifikasi yang datang silih berganti. Entah dari grup, pesan pribadi, atau akun sosial medianya yang terus ramai.
Di tengah kekacauan notifikasi yang tak ada habisnya, getaran ponsel yang sempat ia abaikan sejak beberapa jam lalu kembali terasa di telapak tangannya. Kali ini bukan dari grup, bukan pula dari spam yang menyebalkan.
Nama di layar cukup membuat alis Alexa terangkat. Sella—perempuan yang kini menggantikan posisinya sebagai ketua Atlantis di Bandung.
Alexa mendesah pelan, lalu akhirnya menggeser tombol hijau di layar.
"Halo," sapa seseorang lewat sebuah sambungan telepon. "Hm?" balas Alexa datar.
"Gue cuma mau ngabarin, semua baik-baik aja disini," kata Sella, "Geng, bar, semua beroperasi seperti saat lo ada disini. So, lo tenang aja," imbuhnya, didengarkan dengan seksama oleh Alexa.
"Bagus. Jangan sampai lo ngasih kabar buruk ke gue," titah Alexa.
"Lo tau kan akibatnya?" nada datar Alexa dapat tergambar dibenak Sella. Meskipun mereka tidak bertemu secara langsung.
"Pokoknya lo tenang aja," ujar Sella. "Fokus sama pendidikan lo, dan kembali lagi nanti." Alexa tersenyum tipis di seberang sana lalu mematikan telepon.
Tiba-tiba, dari seberang telepon, terdengar suara seseorang yang seolah sengaja dikeraskan. Cukup dekat dengan Sella, cukup keras untuk sampai ke telinga Alexa.
“Alexaaaa!!” Teriakan yang memecah malam, mengguncang niat Alexa untuk memutus sambungan telepon.
Suara itu tidak asing. Tapi kali ini, bukan seperti suara yang ingin disapa atau diselamatkan. Suara itu seperti sedang ketakutan. Seperti sedang disiksa. Seperti… minta tolong.
Alexa refleks bangkit dari posisi berbaring. "Apa barusan?"
Tid…tid…tid…
Sambungan terputus. Tidak ada suara lagi. Tidak ada napas berat, tidak ada teriakan. Alexa buru-buru menekan ulang nomor Sella. Sekali. Gagal. Dua kali. Masih tidak terhubung. Tiga kali. "Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi."
Kenapa bisa tiba-tiba mati? Lowbat? Atau… sengaja dimatikan?
Alexa mengepalkan tangan. Hatinya berontak, tapi logikanya mencoba menetralisir.
"Positif thinking… mungkin emang lowbat," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada sebuah keyakinan.
Tapi firasatnya menolak diam. Ada yang salah. Dengan napas yang tertahan dan hati yang dicekam rasa tidak nyaman, Alexa meletakkan ponsel, mematikan layar, lalu masuk ke dalam selimut. Mengurung diri dalam ruang gelap, berharap apa yang ia dengar barusan hanya sebatas halusinasi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
K
eesokan paginya, Alexa keluar dari rumah tanpa sempat sarapan. Matanya masih menyisakan kantuk, tapi tubuhnya bergerak panik.