IHari ini menandai tepat satu bulan sejak Starla menapaki masa kelas sebelas, sementara Alexa telah lebih dulu menduduki kelas dua belas. Dua manusia dengan dunia masing-masing itu kini tenggelam dalam kesibukan sekolah yang tak pernah berhenti berputar.
Langkah kaki Starla terdengar menyusuri lorong-lorong SMA Lentera Bangsa. Ia melewati beberapa ruangan—kelas kosong, ruang OSIS, ruang UKS, sebelum akhirnya tiba di lapangan utama. Sinar matahari siang menyapa tajam, membakar kulit.
Hari ini, Starla diminta untuk mengurus sekaligus melatih barisan PBB (Peraturan Baris Berbaris) untuk calon pengurus OSIS baru yang akan dilantik Minggu depan. Lapangan sudah penuh oleh wajah-wajah baru yang berdiri kaku menunggu aba-aba.
Sebuah siang yang melelahkan menanti gadis berbando mutiara itu.
Dengan langkah mantap, Starla memasuki barisan, matanya tajam menilai kelurusan dan kekompakan formasi. Ia sesekali membungkuk, meluruskan posisi kaki siswa, membetulkan sikap tubuh mereka. Setelah semuanya tampak rapi, ia menghela napas panjang, menenangkan diri sejenak lalu mulai memberikan instruksi.
Sebenarnya, hari ini dia ingin izin. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari flu karena semalam kehujanan. Kepala masih terasa berat, mood-nya buruk sejak pagi, dan senyum yang biasa terpampang di wajahnya pun terasa dipaksakan.
Namun, permintaan langsung dari guru kesiswaan membuatnya mengurungkan niat. Tanggung jawab itu terlalu berat untuk dibantah, terlalu besar untuk sekadar ditunda. Starla tetap berdiri di bawah terik matahari, melatih dengan suara lantang, meski tidak sekuat biasanya. Gerakannya lebih lambat, sorot matanya tidak sehidup kemarin, tapi dia tetap di sana, bertahan. Menyelesaikan tugas yang sudah dipercayakan padanya.
"Star, lo gapapa?" tanya Naura, yang ikut melatih PBB. Naura mengamati setiap inci wajah Starla yang pucat. Kemudian cewek itu bertanya lagi, "Starla, lo baik-baik aja?" Starla mengangguk.
Sebenarnya, perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Kepalanya berat, pusing, seluruh benda seakan melayang di hadapannya saat ini. Tanpa sadar, cairan merah perlahan menetes dari hidung perempuan itu.
"Star, lo mimisan?" tanya Naura panik. "Gue anter ke UKS, yuk."
"Gu-gue gapapa kok," jawab Starla pelan.
Perempuan itu mulai merasakan gemetar diseluruh tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Nafasnya mulai terengah-engah, memicu kepanikan pada Naura dan seluruh siswa yang ada di lapangan.
"Star, gue bawa ke UKS aja ya," kata Naura, semakin panik dengan kondisi Starla. Perempuan itu terus memegangi dada dan kepalanya.
Tanpa basa-basi, Naura memanggil satu orang yang ada disana untuk membantunya membopong Starla menuju UKS. Dalam perjalanan, perempuan itu semakin tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya. Nafasnya seakan berhenti.
"Star? Starla!!" Teriak Naura histeris tatkala Starla jatuh pingsan di hadapannya. Naura memegangi kepala Starla, dan menyuruh seseorang untuk memanggil bantuan.
Detik kemudian, seseorang muncul dari arah belakang. Dia Alexandra Graziella, manusia paling egois se-SMA Lentera Bangsa. Manusia yang menyandang gelar langganan BK. Manusia yang hampir tidak pernah membangun komunikasi dengan orang lain, kecuali, orang-orang yang dia percaya.
"Biar gue aja," Alexa menawarkan diri untuk membantu Starla. Naura yang melihat itu, hanya tercengang dan membiarkan perempuan itu membawa Starla dari hadapannya.
Alexa melewati beberapa kelas sebelum sampai di ruang UKS, dengan Starla yang masih lelap dalam gendongannya.
"Berat juga nih cewek," gumam Alexa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
RandomBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)