Minggu pagi, aroma telur dan roti panggang memenuhi dapur. Tante Vivi sudah sibuk sejak matahari baru naik, menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, dan tentu saja untuk satu-satunya penghuni rumah yang lain: Alexa.
Dari arah tangga, terdengar langkah pelan. Seorang cewek turun dengan rambut awut-awutan, piyama melorot di satu bahu, dan ekspresi khas orang yang belum sepenuhnya sadar dunia.
Alexa menguap lebar tanpa menutup mulut, lalu langsung duduk di kursi ruang makan seperti zombie. Tanpa suara, tanpa salam.
"Sa, kamu keknya kecapean, what did you do last night?" Tanya Vivi sambil menuangkan air ke sebuah gelas di depan Alexa.
"I didn't do anything last night, cuma minum."
Vivi seketika kesedak padahal gak ngunyah apa-apa.
Alexa reflek panik, segera menuangkan air ke dalam gelas kaca tepat di depan sang tante.
Alexa bingung, apa yang salah?
Daripada penasaran, Alexa memberanikan diri bertanya, "Tante kenapa?"
Bukan jawaban, yang Alexa dapat adalah tatapan yang tidak dapat diartikan. "Tante gak salah denger? Kamu minum, Sa?"
Alexa langsung membeku. Otaknya baru benar-benar menyala setelah kalimat barusan meluncur tanpa disaring.
Klasik. Dia memang selalu begitu saat baru bangun—ngomong dulu, mikir belakangan.
Niatnya mau santai, malah keceplosan. Bikin blunder di depan satu-satunya orang yang masih peduli padanya. Fix. Mampus lo, Sa.
Tante Vivi tak langsung bereaksi. Tapi diamnya itu justru lebih berisik dari amarah. Gerakannya tetap tenang saat ia berdiri, seperti hendak mengambil sesuatu, tapi justru menatap keponakannya dengan pandangan penuh arti.
Tanpa disuruh, Alexa ikut berdiri. Entah karena refleks, panik, atau cuma ingin menyeimbangkan posisi. Kini mereka berdiri saling menatap, hanya dipisahkan meja makan yang masih belum selesai ditata.
Di antara aroma kopi dan roti hangat, mengambang ketegangan kecil yang tak diucapkan.
Alexa, dengan rambut kusut dan mata masih berat, akhirnya benar-benar terjaga. Bukan karena kopi, tapi karena tatapan tantenya yang terlalu kenal dia siapa.
"Jawab tante, Sa!"
Sebelumnya, Vivi nyaris tak pernah menaikkan nada suara pada Alexa.
Tapi kali ini, rasanya cukup.
Menurutnya, Alexa sudah melewati batas.
Selama ini Vivi memang memberi kebebasan, bukan karena cuek, tapi karena dia tahu cara mengikat Alexa bukan dengan aturan, melainkan kepercayaan. Tapi tetap saja, kebebasan itu ada ujungnya. Ada garis tak terlihat yang tidak boleh dilangkahi.
Dan sepertinya, Alexa salah mengartikan.
Dia pikir Vivi akan membiarkannya melakukan apa saja.
Padahal tidak.
Vivi mungkin sabar, tapi bukan berarti akan diam jika keponakannya sendiri mulai main api terlalu jauh. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, kesabaran itu mulai retak.
Dengan segala keberanian, Alexa akhirnya buka suara, "Gak banyak, cuma tiga botol."
"Tante gak peduli berapa botol, Sa," kata Vivi, "you know this isn't what I mean. Tante ngasih kamu kebebasan, tetap ada batasnya, sa. And you should know that!"
Ini adalah kalimat panjang pertama yang pernah Vivi lontarkan pada Alexa.
Sebelumnya, komunikasi mereka sebatas formalitas. Salam pagi, tanya kabar, lalu selesai. Mereka memang tinggal seatap, tapi bukan berarti tinggal sedekat itu. Mengobrol panjang? Apalagi curhat? Sama sekali tidak pernah terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
RandomBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)