Pagi itu, aroma masakan rumahan memenuhi seluruh rumah. Di ruang makan, Bella sudah duduk rapi, menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi meja yang sudah penuh dengan lauk sederhana favorit keluarga mereka.
Tak lama kemudian, langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga.
“Pagi, Mama,” sapa Starla hangat sambil menarik kursi di samping ibunya.
“Pagi, sayang,” balas Bella lembut, mempersilakan putrinya duduk.
Begitu matanya menangkap menu di meja, senyum cerah langsung mengembang di wajah Starla. Tumis tahu, tempe orek, dan ayam kecap tersaji menggoda.
“Wihh ada tempe orek,” serunya senang.
Bella hanya tersenyum melihat antusiasme putrinya. “Makan yang banyak ya.”
Tanpa menunggu lama, Starla mulai mengambil lauk: dua sendok tempe orek, satu sendok tumis tahu, dan sepotong ayam kecil. Suasana terasa begitu akrab dan hangat, seperti pagi-pagi lainnya yang mereka habiskan bersama.
Namun di tengah sarapan, Bella membuka pembicaraan dengan suara yang lebih pelan.
“Oh iya, Mama nanti nggak pulang ya.”
Sendok di tangan Starla sempat berhenti di tengah jalan. Ia menatap ibunya dengan ekspresi bertanya.
“Kenapa?” tanyanya setelah menelan suapan terakhir.
“Mama ada tugas di luar kota. Kamu nggak apa-apa kan?”
“Gapapa sih... berapa hari?” tanya Starla, suaranya sedikit ragu.
Bella mengernyit sebentar, mencoba mengingat jadwal seminar yang sudah ia susun sejak minggu lalu.
“Empat atau lima hari kayaknya.”
Starla hanya mengangguk, meskipun jelas ia tidak begitu suka ditinggal lama.
Bella lalu menatap putrinya lekat-lekat—tatapan campuran antara rindu, cemas, dan sayang yang tak bisa disembunyikan.
“Mama kenapa?”
Alih-alih menjawab, Bella hanya tersenyum dan mendekat untuk memeluk Starla erat-erat. Pelukannya hangat, menenangkan, seolah ingin mengisi kekosongan lima hari ke depan sejak sekarang.
“Selama mama nggak ada, kamu jaga diri baik-baik ya. Obatnya diminum, jangan stres, kalau ada apa-apa, cerita ke Mama.”
“Gimana ceritanya?”
“Kan ada telepon, ada chat juga.”
Starla mengangguk, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Iya iya, Mama.”
Cuppp.
Satu kecupan manis mendarat di pipi Bella.
“Starla, nakal kamu ya!" keluh Bella pura-pura jengkel, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Starla tidak membalas. Ia hanya tertawa kecil sebelum berlari menaiki tangga, meninggalkan sang mama yang masih duduk di meja makan dengan senyum jengkel penuh cinta.
.
P
agi ini, Starla sudah rapi dalam balutan seragam olahraga. Sebuah tas kecil berisi seragam ganti ia genggam erat, siap menyambut hari. Dari balik jendela kamarnya, Starla mengintip ke luar. Seperti biasa, ada sosok perempuan berjaket hitam dan ransel senada yang telah menunggunya di atas motor. Mesin kendaraan itu sudah menyala, mengepulkan asap tipis ke udara pagi yang masih segar.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
AcakBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)