8. TRAUMA

931 44 0
                                        

"Aelah, udah Senin aja," gumam Starla sambil mengerjapkan mata, menatap nama hari yang terpajang di layar ponselnya. Layar biru itu menyorot wajahnya yang masih sembab kantuk, namun pikirannya sudah mulai melayang ke hari yang terasa akan panjang.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar dari balik pintu kayu kamarnya. Suara yang begitu akrab menyusul sesaat kemudian. "Sayang, udah bangun?"

"Udah, Ma," jawab Starla cepat, sambil menekan tombol power pada ponsel dan bangkit dari tempat tidur.

Ia membuka pintu, dan di sana berdiri sosok perempuan anggun dengan dress biru langit yang jatuh rapi di tubuhnya. Mamanya. Wajah lembut wanita itu langsung menenangkan hati Starla—sebuah pemandangan yang setiap pagi tak pernah gagal memberinya rasa nyaman.

"Mama masak apa hari ini?" sapanya sambil tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan rasa berat yang belum juga hilang.

"Mama masak tumis kangkung kesukaan kamu."

Raut wajah Starla langsung berubah cerah. Ada sesuatu tentang makanan rumahan yang selalu berhasil menyembuhkan gundah, terutama buatan sang mama. Sederhana, tapi penuh cinta.

Starla itu tipe cewek yang gak neko-neko, terutama soal makanan. Dia tidak manja, tidak ribet, dan jauh dari kesan anak orang berada meskipun kenyataannya mereka bisa dibilang lebih dari cukup. Ia lebih suka makan seadanya, asal hangat dan ada rasa ‘rumah’ di dalamnya.

Dan, satu hal lagi. Starla lebih suka sarapan dulu baru mandi. Katanya, biar perutnya gak ngambek di jam pertama sekolah.

"Ma, tau gak sih?" ujarnya sambil menyendok tumis kangkung ke piring, mata masih fokus ke nasi hangat yang mengepul.

"Apa?"

"Temen-temen akhir-akhir ini pada aneh sama aku, Ma."

"Aneh kenapa? Kamu udah bikin salah?"

"Emm... Gak tau."

Starla menunduk sejenak, seakan ragu mengutarakan isi hatinya. Tapi suara mamanya terlalu lembut untuk diabaikan.

"Emang gara-gara apa?" tanya Bella.

Starla menarik napas. Pikirannya langsung membawa kembali pada momen beberapa hari lalu yang membuatnya terusik. "Gara-gara aku nolongin orang. Nah temen-temen itu kayak gak suka sama orang itu, Ma. Aku gak salah kan?"

Bella mengerutkan kening. Bukan karena bingung, tapi karena ia tahu, anaknya sedang berada di persimpangan batin yang rumit.

"Kamu kenal orangnya?" Starla mengangguk ragu. "Orangnya gimana menurut kamu?"

Ia terdiam sejenak. Sosok Alexa hadir dalam bayangannya—dengan sorot mata tajam, aura dominan, dan sikap yang penuh misteri.

"Aku belum tau persis dia orangnya kayak gimana, Ma. Menurut pemahaman aku, dia itu tipikal orang yang gak mau kalah, gak mau salah dan selalu pengen menang."

"Tapi kan, itu bukan suatu batas untuk memperlakukan adil seseorang. Ya kan, Ma?"

Bella mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis. Ada rasa bangga dalam sorot matanya. "Udah, gak usah terlalu dipikirin. Selagi yang kamu lakukan gak merugikan orang lain, dan itu suatu hal yang bisa dibenarkan."

Starla mengangguk. Seketika beban di pundaknya terasa lebih ringan. Dukungan mamanya selalu jadi obat paling manjur untuk hati yang galau.

Setelah menyantap habis sarapannya, Starla berdiri, mengambil napas panjang, lalu melangkah lebar menuju kamar mandi. Hari Senin masih panjang, dan ia siap menghadapinya dengan kepala tegak.

 Hari Senin masih panjang, dan ia siap menghadapinya dengan kepala tegak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAD LOVER [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang