Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika deretan motor sport berjajar rapi di halaman parkir SMA Lentera Bangsa. Uap embun masih menggantung di sela-sela spion dan jok motor yang dingin. Jam di dinding sekolah baru menunjukkan pukul 06.05 Terlalu pagi untuk ukuran anak-anak seperti mereka.
Alexa berdiri dengan tangan disilangkan, tubuhnya menyandar pada motornya. Matanya menatap kosong ke arah gerbang sekolah, seakan sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Rambutnya yang diikat setengah menggantung tenang, tertiup angin pagi yang sejuk.
"Lo ngapain sih, Sa? Masih ngantuk gue, anjing," gerutu Raka sambil mengucek matanya, langkahnya gontai.
"Huahhh..." Shaga menguap sekenanya.
"Nafas lo bau jengkol, setan!" sahut Tristan, masih anteng di atas jok motornya sambil memeriksa helm.
Alexa tidak menoleh. Tak merespons.
"Lagian, tumben banget sih, Sa," keluh Jovanka, masih berusaha menyibak kantuk dari wajahnya. Alexa jarang, nyaris tak pernah, meminta mereka datang sepagi ini. Biasanya saja, jam 06.30 baru muncul dengan alasan klasik, "macet".
"Bisa diem gak?" potong Rega ketus. Nada bicaranya tajam, khas anak yang setia pada aturan ketuanya.
Arga, kembarannya, yang lebih halus, memilih mengamati, tapi akhirnya bicara juga. "Ada masalah, Sa? Soalnya lo nggak pernah nyuruh kita kumpul sepagi ini." Suaranya rendah dan tulus, bukan bernada interogatif. Tapi Alexa tetap bergeming.
Mata gadis itu seolah menembus jauh ke ujung jalan, padahal yang ia lihat bukan jalan, melainkan sosok yang baru saja muncul dari balik gerbang. Seorang siswi berjalan pelan, mengenakan cardigan abu-abu tua yang terlalu kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Langkahnya tenang tapi ragu, membawa dua tas, satu di pundak, satu lagi di tangan. Cahaya matahari pagi yang jatuh di pipinya membuat kulitnya terlihat pucat tapi lembut.
Starla.
Alexa menelan napasnya. Ada denyut asing yang mengalir di dada. Seperti sesuatu yang familiar, tapi terlalu lama ia sengaja singkirkan untuk dikenali. Tanpa berkata apapun, ia turun dari motornya dan melangkah cepat menuju cewek itu. Langkahnya mantap, tapi hatinya entah kenapa berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Star," panggilnya pelan tapi cukup terdengar.
Starla menoleh, wajahnya sejenak tampak bingung. Ia menyipitkan mata, memastikan suara itu berasal dari siapa yang ia pikirkan. "Alexa?"
Ia kembali menormalkan pandangannya. Kini Alexa sudah benar-benar berdiri di hadapannya, wajahnya tidak menunjukkan senyum, tapi penuh perhatian.
"Sini, gue bantu." Tanpa banyak basa-basi, Alexa mengulurkan tangan dan meraih totebag merah di pundak kiri Starla.
Refleks, Starla menahan. "Eh? Gak usah, gue bisa sendiri," tolaknya pelan, hampir seperti berbisik. Ada gentar di suaranya, bukan takut, lebih ke... Canggung. Tak menyangka akan dihampiri seintens ini.
"Yaudah," Alexa menjeda, lalu mengedarkan pandangannya ke barang bawaan Starla yang lain. "Kotak bekel lo, gue aja yang bawa."
Starla nyaris protes lagi, tapi Alexa sudah lebih dulu meraihnya. "Tapi..."
"Sini." Nada Alexa lebih dalam. Ia tidak bermaksud memaksa, tapi ada tanggung jawab tak terlihat di matanya. Sesuatu yang ingin ia tebus atau lindungi.
Dengan ragu, Starla akhirnya menyerahkan kotak bekalnya. Tangannya kosong satu. Entah kenapa, terasa sedikit lebih ringan meski bukan hanya karena beban barang.
Dari kejauhan, suara Shaga pecah seperti petasan kecil. "Bu ketu ngapain tuh?" bisiknya tajam, menggoda. "Jangan-jangan... Bu ketu..." gumamnya setengah tertawa, lalu memelankan suaranya. Semua anak Atlantis kini pasang mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
DiversosBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)