Pagi ini, seluruh pengurus OSIS sudah disibukkan dengan persiapan kegiatan pilketos yang akan dilaksanakan siang nanti, sekitar jam 10.
Di antara hiruk-pikuk itu, ada sosok perempuan dengan tinggi 170 cm yang tampak tenang duduk di kursi depan ruang BK. Hoodie abu-abunya tetap melekat, seperti biasa.
Matanya tak lepas dari satu titik—cewek lain yang tengah sibuk mondar-mandir di sekitar ruang OSIS, dikelilingi map, kotak suara, serta beberapa alat peraga yang akan dipakai nanti.
Itu Starla. Sekretaris OSIS. Satu-satunya orang yang tampaknya benar-benar menganggap pilketos ini sebagai urusan hidup dan mati.
Dan dia—Alexa, hanya duduk diam di kejauhan, memperhatikan. Entah karena penasaran atau hanya mencari hiburan di tengah bosannya pagi ini. Entah juga kenapa matanya sulit berpaling.
"Gak capek?"
Sekretaris OSIS yang kebetulan lewat, auto pasang muka jutek.
"Sok cuek," ujar Alexa, membuat sang sekretaris alias Starla makin naik darah.
Starla auto nyamperin Alexa dan bersabda, "Gak usah sokap!"
Alexa tersenyum tipis mengingat raut wajah Starla yang kesal seperti tadi.
Ada kepuasan aneh yang muncul setiap kali dia berhasil bikin cewek itu naik darah. Lucu aja. Kayak ngeliat kucing imut yang mendadak berubah jadi harimau kecil.
Setelah merasa cukup cari gara-gara sama sekretaris OSIS, Alexa mmemutuskan pergi dari depan ruang BK menuju kelasnya.
Entahlah, hari ini dia lagi tobat. Mau mencoba ikut KBM kayak manusia pada umumnya walau gak janji bakal bertahan lama.
Tapi langkah cewek itu tiba-tiba terhenti.
Di depannya berdiri segerombol siswa laki-laki sekitar empat orang dengan aura yang tak sedap dipandang. Yang satu mengunyah permen karet sambil mengetuk-ngetuk jari di tembok, yang lain melipat lengan seragamnya sampai ke siku.
Sisanya? Pandangan mereka jelas, kayak mau melabrak seseorang yang dituduh merebut pacar temen.
"Lo Alexa kan?" tanya salah satu siswa.
"Kenapa?"
Bukannya menjawab, salah satu siswa tadi justru melayangkan tinju.
Cepat. Kencang. Tanpa aba-aba.
Bugh!
Pukulan itu mendarat tepat di pipi kiri Alexa. Kepalanya sedikit terpental ke samping, dan tubuhnya terdorong setengah langkah ke belakang.
Suasana langsung senyap.
Beberapa siswa yang lewat spontan menghentikan langkah, sebagian lagi menahan napas.
Alexa diam. Sakitnya jelas terasa,
tapi dia tidak meringis. Tidak teriak, bahkan tidak menyentuh bagian yang kena pukul. Hanya berdiri tegak, dan
perlahan, mendongakkan wajah.
Tatapannya berubah. Bukan cuma dingin sekarang, tapi tajam.
Dingin yang menyimpan bara. Mata yang tidak senang main-main.
"Bangsat!" Alexa yang pada dasarnya sensitif, sulit mengendalikan emosi, lantas meninju balik cowok yang nonjok dia tadi. "Maju lo!"
Perkelahian semakin memanas.
Tonjokan dibalas tonjokan. Tendangan dilawan cengkeraman.
Kedua kubu sama-sama tidak mau mundur, seolah lupa kalau mereka lagi ada di depan ruang BK, tempat yang seharusnya jadi wilayah paling damai di sekolah.
Suara gaduh makin kencang.
Sepatu-sepatu saling menyeret, napas memburu, tubuh saling dorong dan tumbuk.
Dua siswa dari kelas sebelah yang kebetulan lewat mencoba melerai.
"Udahan woy! Ini sekolah, bukan ring tinju!"
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
RandomBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)