Broken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
Perjalanan dari Bandung ke Surabaya memakan waktu hampir sepuluh jam. Tepat pukul 20.15 malam, Alexa akhirnya menginjakkan kaki di rumah baru, lebih tepatnya, rumah sederhana dua lantai yang disiapkan tantenya jauh-jauh hari.
Baru juga buka pintu, Alexa langsung melempar tas secepat kilat, dan menaruh koper sembarangan di sisi ranjang. Tubuhnya langsung terhempas ke kasur empuk yang seolah menyambut dengan pelukan hangat. Matanya menatap langit-langit kamar yang asing, tapi setidaknya hari ini sudah selesai. Lelah, pegal, dan penat bercampur jadi satu.
Sementara itu di sisi lain, Vivi masih sibuk membongkar koper satu per satu, menata baju ke dalam lemari dengan rapi. Tangannya gesit, wajahnya tenang, bahkan tidak tampak sedikit pun tanda-tanda lelah seperti yang dialami Alexa.
Perjalanan hampir sepuluh jam rasanya tidak ada artinya bagi wanita itu. Vivi tetap fokus, cekatan, seperti biasa. Memang sudah wataknya.
Kalau kata orang Jawa, dia itu "doyan gawe"—tangan selalu ingin bergerak, ada saja yang dikerjakan.
"Sa, cuci tangan dulu," pinta Vivi sambil nyaksiin Alexa yang lagi tengkurep di ranjang.
"Nanti," ujar Alexa. "Ini rumah siapa?"
Ini untuk pertama kalinya Alexa bertanya lebih dulu pada tantenya. Bukan karena dipaksa, murni dari dirinya sendiri. Dan momen itu, sekilas terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat Vivi menghentikan aktivitas menatanya.
Wajah wanita itu langsung berubah. Senyum mengembang perlahan di bibirnya, dibarengi ekspresi heran yang tak bisa ia sembunyikan. Campuran antara senang, kaget, dan mungkin… haru.
"Ini dulu rumah yang om kamu beli. Rencananya mau tinggal bareng-bareng disini nantinya, tapi om kamu keburu dipanggil Tuhan."
Suami Tante Vivi meninggal empat tahun silam. Korban tabrak lari, waktu Alexa masih duduk di bangku SMP. Kejadiannya cepat, tragis, dan menggantung. Hingga detik ini, siapa pelakunya masih jadi misteri yang tak terjawab.
Awalnya, Vivi sempat mencoba mencari tahu. Saksi mata, rekaman CCTV, bahkan menelusuri jalanan tempat terakhir sang suami menghembuskan napas. Tapi semuanya buntu. Empat tahun sudah berlalu, dan Vivi akhirnya menyerah. Bukan karena lelah, tapi karena akhirnya dia memilih berdamai.
Vivi ikhlas. Walau kadang hatinya masih terkejut saat menyadari belahan jiwanya benar-benar sudah tiada. Kepergiannya seperti mimpi yang tak kunjung selesai. Tapi ya begitulah hidup. Takdir memang tak pernah minta persetujuan siapa pun.
Sepandai-pandainya manusia membuat rencana, tetap Tuhanlah yang menuliskan naskah akhir.
"Gak ada niatan nyari pelakunya?"
"Tante udah ikhlas."
"Tapi aku belum," sahut Alexa. "Aku bakal ketemu pelakunya nanti."
"Terus kalau ketemu, mau kamu apain?"
Alexa tersenyum smrik dan berkata, "Nyawa harus dibalas dengan nyawa."
"Udahlah, Sa, gak usah dibahas lagi." Ujar Vivi sambil memasukkan baju-baju Alexa ke dalam lemari.
Bosan sama langit-langit dan pemandangan dinding kamar, Alexa milih buat mandi. Setelah itu, rencana dia akan keluar untuk menyusuri kota yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun kedepan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.