Seharusnya, malam menjadi waktu paling menyenangkan. Seharusnya, malam adalah waktu yang paling dinantikan. Waktu terbaik untuk menenangkan pikiran. Namun, semua itu tak berlaku bagi seorang remaja perempuan yang kini tengah tertidur nyaman di pangkuan mamanya. Terlihat tenang, tapi pikirannya riuh.
Dua malam terakhir, pikirannya terus dihantui satu kalimat. Kalimat itu sebenarnya telah terucap sejak dua hari lalu.
"Dan mulai hari ini, lo bebas. Gue gak akan ganggu lo lagi. Gue gak akan jadi beban buat lo lagi."
Kalimat singkat, namun membekas.
Entah mengapa, kalimat itu terus terngiang di benaknya. Berputar, mengisi ruang pikirannya yang semestinya sudah penuh dengan tugas sekolah dan hal-hal remeh tentang masa SMA. Tapi tidak. Kalimat itu masih mendominasi.
Starla belum tahu pasti kenapa.
Kalau kalimat itu didengar oleh orang lain, mungkin akan terdengar membahagiakan. Melegakan.
Dan seharusnya memang begitu. Siapa sih, yang mau terus diganggu oleh anak berandalan?
"Kenapa gue malah overthinking sih, gak jelas banget." Gerutu Starla dalam hati.
Starla sedang menonton televisi bersama mamanya di ruang keluarga.
"Kenapa sayang? Kok kamu kayak lagi mikirin sesuatu?" Tanya Bella pada putri tunggalnya.
"Kok mama tau?" Starla menaikkan kepalanya tepat di sela-sela kedua paha mamanya. Membenarkan posisinya.
Bella yang mendapat pertanyaan itu, hanya tersenyum.
"Ya, tau lah, mama kan psikologi. Jadi mama tau apa yang anak mama rasain sekarang," ucap Bella tulus, sambil mengelusi kepala putrinya.
Starla mengangguk-angguk kecil, lalu mengubah posisinya yang kini duduk tepat di sebelah kanan mamanya.
Starla menatap mamanya intens, ragu untuk bertanya.
"Kenapa? Ada yang pengen kamu tanyain?" Kata Bella.
Oh ayolah, Starla, mama kamu itu seorang psikologi. Jadi dia bisa tau semua yang kamu pikirin. Kamu ragu pun, mama kamu ngerti.
"Ih, mama kok bisa tau?" Gerutu Starla pada mamanya.
Melihat hal itu, Bella dengan cepat menarik anak kesayangannya itu dalam dekapannya. Hangat sekali.
"Kalau ada problem, cerita ke mama, ya. Jangan dipendem sendiri," tutur Bella dengan segala ketulusan cinta.
Bella adalah seorang psikolog. Hal-hal yang berkaitan dengan psikis manusia sudah menjadi kesehariannya. Sudah banyak kasus gangguan mental yang pernah ia tangani. Dan dari semua itu, satu penyebab paling umum yang sering ia temukan adalah pikiran yang berlebihan. Overthinking. Pola pikir yang berputar di tempat. Kondisi yang sering tumbuh dari kebiasaan memendam, dari enggannya seseorang membuka diri.
Dan itulah hal terakhir yang Bella inginkan tidak terjadi pada putrinya. Putri satu-satunya. Ia tidak akan membiarkan Starla menanggung semuanya sendirian terlalu lama. Tidak akan membiarkan putrinya larut dalam diam yang membunuh perlahan. Karena Bella tahu, tidak semua luka tampak dari luar. Dan tidak semua tangis harus berbunyi.
Starla menarik nafas pelan, lalu berkata, "Ma, aku boleh nanya nggak?"
"Of course, baby girl,"
Tangan Bella meraih benda yang tergeletak di meja, lalu menekannya.
"Kenapa dimatiin, ma?" tanya Starla. "Gapapa, mama nonton TV aja. Starla kan, bisa cerita sambil liat mama nonton TV."
"Otak manusia itu, gak bisa fokus sama dua hal. Hanya bisa fokus sama satu hal," kata Bella. "Mama mau fokus sama Starla dulu, nonton TV-nya bisa nanti-nanti. So, mau cerita apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD LOVER [End]
De TodoBroken home, broken heart, broken life. Tiga kata yang menjadi simbol kehidupan Alexa, perempuan dingin, egois, dan sok berkuasa, pemimpin tujuh puluh kepala, ATLANTIS. Namun, di balik segala kenakalannya yang mendunia, Alexa adalah sosok sejuta luk...
![BAD LOVER [End]](https://img.wattpad.com/cover/290573350-64-k808440.jpg)