13

47 9 4
                                        

Suasana hangat yang Jasmine rasakan bersama keluarga Nayaka dan Kanaka tidak berhenti sampai sesi salat magrib berjamaah. Jasmine kini sudah digiring ke meja makan yang sudah tersaji berbagai macam lauk lezat. Aromanya bahkan membuat perut Jasmine berbunyi.

"Hehe, maaf om, tante, perut aku bunyi," cicit Jasmine dengan kedua pipi memerah. Kanaka menahan diri untuk tidak tertawa dengan keras, dan Nayaka menundukkan kepala guna menahan tawa. Jasmine meringis malu di hadapan anggota keluarga itu.

"Nggak papa. Reaksi alami kok itu," balas Orane tersenyum maklum. "Ayo, makan!" Diam-diam Jasmine meneliti wajah anggota keluarga Nayaka satu persatu. Senyum Jasmine terbentuk begitu mudahnya melihat keempat orang yang mengizinkannya duduk satu meja dengan mereka.

Beruntung sekali hidup di tengah keluarga seperti mereka.

Nayaka yang sibuk menyendok lauk memperhatikan Jasmine dalam diam. Keningnya sedikit berkerut saat menyadari jika Jasmine memandangi Fagan dan Orane secara bergantian. Tapi Nayaka tidak menegur, justru membiarkan Jasmine memandangi kedua orang tuanya dengan lebih leluasa. Wajah gadis itu terlihat senang sekali kala melakukannya.

"Bang, kedip, Bang! Ngeliatin Jasmine segitunya, " ledek Kanaka yang berhasil menarik perhatian yang lain.

Jasmine membulatkan mulutnya dan melirik Nayaka. Ia jadi merasa sedikit percaya diri. Apa Nayaka... sudah mulai menyukainya juga?

***

Saat tahu Nayaka melihatinya saat di meja makan, Jasmine semakin melebarkan senyumnya. Jantungnya berdebar tidak karuan saat itu juga. Ditambah lagi Nayaka akan mengantarkannya pulang ke rumah.

"Gimana? Masih mau di sini dulu?", tanya Nayaka ketika ia melihat Jasmine duduk di teras depan rumahnya.

Jasmine masih ingin di rumah Nayaka. Ia merasa senang dan tenang di sana. Tapi ia juga harus tahu diri. Pasti di rumah orang mencarinya. " Gue pengen langsung pulang. Takutnya orang rumah nyariin."

Nayaka mengangguk dengan wajah paham. "Mau balik sekarang... "

"Eh, tunggu dulu!" Nayaka dan Jasmine menoleh mendapati Orane membawa satu kantong plastik berwarna putih dengan ukuran sedang. "Ini ada cemilan sama susu coklat. Nggak banyak, sih. Tapi semoga kamu suka, yah? Bisa kamu makan pas santai atau lagi belajar."

Jasmine membulatkan mata. Kala ia menerima kantong plastik itu, ia melihat banyak cemilan dan beberapa kotak susu coklat. "Tante, ini kebanyakan. Sama ambil beberapa aja, yah?"

"Nggak baik nolak makanan." Nayaka menyahut kalem. "Lo pernah dengar cerita, nggak? Kalau ada seseorang yang nggak dikasih makanan lagi sama sekumpulan orang karena dia lebih sering nolak?"

Jasmine menelan saliva susah payah. Ia sebenarnya mau menerima cemilan dan susu pemberian Orane, hanya saja ia sudah sangat merepotkan keluarga Nayaka satu hari ini. "I-iya. Jasmine terima yah, Tante? Sebelumnya Jasmine mau terima kasih. Hampir seharian ini Jasmine bikin repot Tante sama Om, Nayaka sama Kanaka juga."

Orane terlihat mengibaskan tangannya. "Sama sekali nggak ngerepotin. Tante malah senang kalau Nayaka sama Kanaka banyak temannya. Jasmine sering-sering yah main ke sini."

"Insha Allah, Tante." Jasmine menyengir lebar.

"Yaudah, gue ambil kunci motor dulu. Gue anterin pulang." Nayaka lalu berlalu masuk ke dalam rumah, menyisakan Orane dan Jasmine yang kini saling melempar senyum.

Batas RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang